Sisi Lain Dunia Memi
Suasana di ruang bimbingan konseling.
Bu Libby sedang mendengarkan kesaksian seseorang murid kelas IX bernama Billy. Billy mengaku dipukuli oleh Memi—gadis Bengal kelas VIII yang memang cukup terkenal sedari bergabung ke Jasmine Junior High School, sejak masuk hari pertama MOS saja—Memi sudah berani menonjok kakak kelasnya kelas tiga. Maka—ini bukan kali pertama Memi masuk ke ruang BP.
“Baik. Jadi modus perkelahian kali ini karena Memi tidak terima ia kalah taruhan pertandingan bola. Artinya—Memi yang salah, ia kalah, tidak terima dan melakukan pemukulan pada kakak kelasnya. Begitu, Memi..” mata tajam Bu Libby mengarah ke Memi yang sejak masuk ke ruangan itu—wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
“Mau memberikan alibi?” Tanya guru muda itu lagi pada Memi.
“..tidak..”
“Buat apa. Ibu juga nggak akan percaya omongan dari gadis macam saya.” Jawab Memi ketus tanpa mau melihat ke arah gurunya itu. Ia malah memandangi pajangan di atas langit-langit ruangan itu, seolah-olah ada tontonan menarik disana.
Bu Libby berpikir sejenak memikirkan kata-kata yang tepat untuk gadis itu. Bu Libby memang cukup direpotkan dengan ulah Memi. Namun—Bu Libby tidak dapat berbuat banyak. Ia hanya berkata,
“Billy—masuk ke kelas.” Suruhnya.
Billy—anak kelas IX meninggalkan ruangan.
Tinggal Bu Libby dan Memi.
“Memi..! duduk..” perintahnya. Terpaksa Memi menurutinya.
“Memi.. ada masalah apa sih sama kamu. Kayaknya kamu nggak bisa menikmati dunia SMP kamu.” Memi menanggapinya gebrakan tangannya dengan keras ke meja Bu Libby. Bu Libby sangat kaget dengan sikap Memi yang amat membangkang.
“Tau apa kamu tentang dunia SMP aku? Jangan sekali-sekali sok tahu ya! Emangnya kamu itu Tuhan? Emangnya kamu itu mama aku? Mama aku aja nggak tahu kayak gimana kehidupan SMP aku!” teriaknya.
Bu Libby yang psychologist handal itu menghela napas. Dan berpikir dengan kepala jernih untuk dapat memahami hati Memi yang keras itu.
“Apa di rumah kamu tidak mendapat perhatian dari orang tua kamu?”
“Tidak.”
“Kamu enjoy dengan kehidupanmu?” Memi diam untuk pertanyaan itu.
Karena Memi tidak menjawab pertanyaan itu—Bu Libby memutar otak untuk menanyakan pertanyaan lain.
“Kamu punya banyak teman-teman?”
“Tidak terlalu banyak.”
“Tapi—sepertinya kamu tidak memiliki teman di sekolah ini?”
“Aku berbeda dunia dengan anak-anak itu.”
Jawaban aneh. Pikir guru itu.
“Dunia seperti apa, dunia kamu?”
“Maaf. Kamu bukan diary aku.”
Pertanyaan seperti apa lagi supaya aku tahu kehidupan seperti apa kehidupan Memi di luar sana.
“Ada yang membuat kamu iri? Siapa?”
“Ada. Kak Rolt. Ia pintar dan sempurna.”
“Apa gara-gara kakakmu itu—terjadi diskriminasi di rumah?”
Untuk kedua kalinya Memi menggebrak meja Bu Libby. Kini ia benar-benar marah. Ia sampai berdiri spontan sembari menatap guru itu dengan tatapan benci dan marah. Bu Libby memandangi gadis berambut kriwil-kriwil itu dengan tatapan seram.
Sungguh Bu Libby takut di pukuli Memi yang amat kasar itu. Memi pernah melawan kakak kelasnya kelas IX—namun kakak kelasnya itu kalah sama cewek.
“Ooh.. rupanya guru bimbingan konseling di Jasmine Junior High School itu mau memiliki dua profesi ya? Disamping jadi guru BP juga jadi jalur curhat seperti di radio-radio itu? Kau perlu tau—guru sok tahu—sekeras apapun usahamu untuk tahu dunia apa yang dimiliki oleh seorang Memi—aku mau memberi tahu—kau nggak akan tahu sampai kapanpun. Membayangkannya pun—aku sangsi kau bisa melakukannya..”
Penyataan Memi menancap dengan tajam di ulu hati guru itu. Ia angkat tangan hari dan berkata.
“Berikan surat ini untuk ibumu.” Bu Libby menghela napas ia merasa ruangan itu tiba-tiba panas, seakan AC ruangan itu mati mendadak. Tapi, ternyata ada yang lebih panas dari sengatan matahari—yakni omongan kejam Memi.
Mata Memi melotot.
“Hah??! Baru tiga hari yang lalu ibuku datang ke sekolah menemuimu. Sekarang ia harus datang lagi?”
“Iya. Besok pukul sepuluh. Baru tiga hari yang lalu kau membuat masalah—sekarang sudah ada masalah baru.”
“Aku harus bilang apa ke mamaku..” Muka Memi terlihat lebih jelek karena masam.
“Itu urusanmu—nona muda. Masuklah ke kelas. Aku masih banyak pekerjaan dan masih banyak manusia sejenis denganmu yang masih bisa kuajak bicara.”
Akhirnya Memi dengan nada kesal kembali ke kelas dan di tangga menuju ruangan kelasnya—ia membuang kertas yang baginya hanya seonggok sampah itu.
Makan malam di rumah Memi. Memi makan malam bersama mama dan kak Rolt. Kakaknya yang sudah duduk di kelas XII IPA Jasmine High School—yang bagi Memi, Rolt amatlah sangat sempurna—tampan, jenius, dan memiliki apa saja yang tidak dimilikinya. Rolt selalu mengikuti olimpiade sains, piala-piala berderet miliknya, dan ia sudah diterima PMDK kedokteran UI.
“Gue dengar dari Pinka, hari ini lo masuk ruang BP lagi..?” Tanya Rolt. Dia sebenarnya kakak yang baik. Tidak sombong. Dan penyayang.
“Memi, mama sudah tidak punya muka ke sekolahan kamu lagi.”
“Mama tidak sampai dipanggil kok. Sudahlah. Rolt, stop memata-mati gue!” omel Memi. Setelah itu tidak ada pembicaraan ditengah-tengah makan malam itu.
*******
Rolt tiba-tiba muncul di dapur dan mengambil susu di kulkas serta meminumnya. Hal itu sangat mengagetkan Memi. Memi terpaksa bersembunyi dibalik kursi meja dapur.
Rolt berkata dalam hati.
“Looh, tadi gue lihat banyak makanan di kulkas, spageti, makanan kaleng, makanan ringan, banyak soft drink.. tapi kemana sekarang. Dan yang pasti gue lihat itu Memi. Apa mungkin Memi memakan makanan sebanyak itu. Ooh.. mungkin Memi lapar malam-malam begini.” Rolt dengan nada pura-pura tidak tahu meninggalkan dapur. Padahal ia sangat tahu adiknya bersembunyi di balik kursi.
Kala itu pukul dua belas malam. Memi keluar dari persembunyiaannya. Mungkinkah, selain hobi berulah Memi juga seorang pencuri? Dan perlu digaris bawahi—ini bukan kali pertama makanan dirumah ini hilang mendadak.
Memi memutuskan tidak akan memberitahu ibunya tentang surat panggilan itu. Jadi, bu Libby terpaksa menskorsing Memi tiga hari dimulai hari ini. Tentu saja Rolt mengetahui segala tingkah laku adiknya dari Pinka, teman sebangku Memi yang juga bingung dengan segala keanehan pada Memi. Tapi, Rolt sama sekali tidak memberitahu mamanya tentang skorsing itu.
Entah apa tujuan Rolt.
Yang jelas, skorsing Memi selama tiga hari itu, Memi tetap mengaku berangkat sekolah seperti biasa. Tapi—tidak ada yang tahu kemana Memi pergi.
“Pinka, Memi benar-benar diskorsing`kan?” Tanya Rolt menghampiri kelas adiknya.
“Iya, kak Rolt. Memi nggak cerita?”
“Sama sekali nggak. Bahkan, hari ini dia berangkat sekolah bareng gue.” “Apa?!” obrolan mereka terpotong dengan bel tanda masuk.
*******
Di lain tempat, tempat berjualan burger, bernama Nano Buddy Café, Memi malah justru sedang berjualan makanan. Sama sekali nggak ngerti maksud dari trouble maker itu. Saat-saat dia diskorsing, dia justru di lain tempat bukan di rumah untuk memikirkan tindakannya. Benar-benar aneh.
Memi sedang berjualan dengan dua teman lak-lakinya. Bukan teman SMA-nya. Karena tampang-tampang dua laki-laki itu tampang-tampang preman. Tapi, tampang preman yang baik-baik.
“Loki, dua burger keju, cokelat ukuran large, yah..” Loki segera memasak yang diminta oleh Memi. Memi bertugas menulis pesanan, memberikan makanan dan juga sebagai kasir juga. Dua temannya yang memasak.
Hingga pukul tiga sore, pekerjaan Memi, Loki dan Pandu seperti itu. Setelah itu,
“Memi, mending lo pulang. Udah jam tiga. Nyokap lo bisa nyariin lo. Sama kakak lo yang sok perhatian bisa nyari lo. Dan gawat kalau ketahuan lo itu lagi diskorsing.” Saran Pandu.
“Ndu, kerjaan kita seharian ini cuma dapet dua ratus ribu. Sedang, kita butuh tujuh ratus ribu lagi untuk nutupin hutang anak-anak.” Kata Memi. Entah apa yang dimaksudkannya.
“Mem, gue sama Loki masih kerja di bar sampai malam, hari ini, semoga kita bisa cepat ngumpulin duit banyak-banyak. Biar masalah ini cepat kelar. Jadi, lo tenang aja ya..” kata Pandu menenangkan.
Memi mengangguk.
Loki dan Pandu menepuk pundak Memi.
“Kita jangan nyerah. Ini demi brome child.” Kata Loki. Disusul dengan teriakan yeah.. dari Memi dan Pandu, dan ketiga anak itu berpelukan hangat. Tidak lama, Memi berganti pakaian menjadi pakaian bebas serta berpamitan lalu pergi meninggalkan Nano Buddy Café.
Tujuan Memi ialah bukan rumahnya. Tapi, ia mencari lowongan part time di toko-toko makanan atau di toko buku. Hingga akhirnya dia diterima di sebuah kafe kecil menjual makanan ringan dan ice cream. Namanya Plaza Ez Krim. Dan dia yang melayani pembeli. Memi bertugas hari Senin, Rabu dan Sabtu. Setelah di terima di kafe es krim itu, Memi pulang kerumah.
Untungnya mamanya tidak tahu tentang skorsing itu. Rolt juga tidak tahu. Sepertinya dan semoga.
Tiga hari berikutnya, setelah masa-masa skorsing lewat, Memi berdiri di muka kamar Rolt.
“Kenapa, Mem? Ada urusan?” Tanya Rolt yang ternyata menyadari kehadiran adiknya. Karena sudah ketahuan, Memi kemudian masuk dan duduk dekat kakaknya yang sedang berhadapan dengan notebook.
“Rolt, gue lagi butuh banget duit. Dan jumlahnya nggak sedikit.”
Rolt diam sebentar tanpa mengalihkan pandangannya dari notebook.
“Ya jelasin aja dengan baik-baik ke mama. Mama pasti ngasih kalau alasannya jelas.” Kata Rolt. “Masalahnya, tiap gue nyoba ngomong sama nyokap adanya gue nggak bisa ngomong dengan baik-baik.” Kali ini Memi memutar kursi tempat duduk Rolt, sehingga Rolt melihat wajah adiknya.
Dua kakak beradik itu terdiam. Padahal sudah saling pandang.
“Jadi—Rolt, bisa pinjami uang?” akhirnya Memi memecah keheningan.
“Berapa?” Rolt memutar kembali kursinya dan melanjutkan tugasnya.
“tiga ratus ribu,” ujarnya cepat.
Rolt mendengus heran dan memandangi adiknya lalu berdiri dimuka adiknya.
“Sinting. Buat apa tiga ratus ribu?”
“Buat beli baju..” kata Memi ngeles. Bodohnya, alasannya itu tak masuk akal, mengingat dia seorang tomboy yang tidak pandai belanja.
“Wahaaa..aa..” tawa Rolt. Memi memukul dahinya dan dalam hati berkata, “Memi bodoh!” mana mungkin Rolt mau percaya coba.
“Kalau alasannya itu, mama pasti mau ngasih. Nggak usah minta gue.” Kata Rolt yang masih tertawa.
“Udahlah Rolt. Tapi, gue maunya minta sama lo.” Desak Memi.
“Gue kasih. Tapi, lo harus mau janji setelah beli baju itu, lo tunjukkin semua baju yang lo beli ke hadapan gue.” Memi terdiam. Mana mungkin dia dapat menunjukkan baju yang dibelinya. Sedang yang akan dia lakukan pada uang itu ialah untuk anak-anak brome.
“Gue nggak bisa.” Aku Memi.
“Gue kasih. Asal lo harus bertanggung jawab dengan uang ini. Dan jangan gunakan untuk beli barang-barang nggak penting.” Pesan Rolt.
“Iya, tuan sok tau!!” jawab Memi kesal.
Rolt mengeluarkan dompetnya dan mengambil tiga ratus ribu. Dan diberikan ke Memi. Memi langsung keluar kamar tanpa mengucapkan terima kasih. Rolt hanya bergeleng-geleng.
*******
Malam hari setelah meminta uang ke Rolt, seperti biasa, Memi mengambil seluruh makanan di kulkas dan membawanya. Lalu Memi keluar rumah lewat pintu belakang.
Dan ternyata ada yang melihat tingkah laku Memi yang keluar malam-malam begitu. Namun, orang tersebut tidak berbuat apa-apa justru kembali tidur.
Memi pergi ke sebuah tempat yang seperti rumah namun bukan rumah. Dindingnya dari kayu-kayu yang dipasang tak beraturan. Memi masuk ke rumah itu dan kemudian, secara spontan muncul puluhan anak-anak kecil usia 6-9 tahun memeluk kedatangan Memi.
Disitu juga ada Loki dan Pandu. Mereka semua makan makanan yang dibawa Memi.
*******
Seperti biasa, sepulang sekolah, Memi membantu Loki dan Pandu menjual makanan ringan seperti burger, hotdog, crepe dan lainnya. Semuanya itu dilakukan oleh Memi demi kelangsungan hidup anak-anak yang tadi malam memeluknya.
“Ini, gue beliin lima buku tulis sama pensil, Loki, lo hari ini nggak kerja di bar kan? Ajarin mereka nulis ya..” pesan Memi. Loki mengangguk.
Lalu datanglah lagi seorang pembeli. Dia mengenakan baju SMA dan berbicara dengan Memi untuk memesan dua hotdog ukuran medium. Serta milkshake special. Segera Memi meminta Loki memasaknya.
Biasanya, pembeli langsung duduk di tempat pembeli. Namun, pembeli itu justru asyik memandangi Memi.
Tapi Memi hanya diam saja.
Pandu yang menyadari keisengan pembeli itu segera mendatangi pria itu. Yang tidak beranjak dari tempat kasir.
“Maaf Mas, mbak ini nggak ada di daftar menu pesanan.”
Pemuda itu tersenyum.
“Nggak kok. Gue cuma mau kenalan.” Katanya pada Pandu dan memandangi Memi lagi. “Nama lo siapa, gue Hillan, anak SMA Tirtayana. Lo anak SMP Jasmine kan.” Kata pemuda yang sok kenal itu. Sekolah Tirtayana dengan sekolah Jasmine memang berdekatan.
“Iya.” Kata Memi yang nampaknya ia mulai tertarik dengan pria yang bernama Hillan itu. Pandu pun kembali melakukan pekerjaannya dan meninggalkan Memi dengan Hillan mengobrol.
Sepeninggal Hillan,
“Apa?? Hillan mau jadi bagian dari kita?” teriak Pandu. Memi, Pandu dan Loki mengobrol sebentar. Nano Buddy Café sudah tutup, dan mereka ngobrol di kios itu.
“Mau jadi bagian dari brome child??!” Tanya Loki nggak kalah kagetnya. “Inget, Mem, kita baru kenal Hillan semenit yang lalu.” Ujar Loki.
“Emang kenapa? Kita memang butuh tenaga seperti Hillan`kan untuk memenuhi semua keperluan brome child? Ingat, anak-anak yang kita asuh itu jumlahnya dua puluh. Apa Cuma dengan kita bertiga bisa memenuhi kebutuhan mereka yang semakin hari semakin banyak. Brome child butuh kita, butuh makan..” jelas Memi.
“Terus, Hillan akan melakukan apa untuk brome child?” Tanya Pandu yang nampaknya hatinya meluluh dengan penjelasan Memi barusan.
“Dia tetap Bantu kita di Nano Buddy Café, tapi, dia akan cari sumbangan-sumbangan untuk brome child.” Kata Memi. Namun, sepertinya Loki masih belum rela.
“Mem, Hillan tidak mengalami brome. Mana bisa dia merasakan apa yang kita rasakan..” bilah Loki.
“Loki—walau dia nggak mengalaminya, tapi dia bisa merasakan penderitaan brome child.”
“Mungkin perasaan Hillan itu hanya perasaan kasihan.” Kata Loki lagi, dan menambahkan, “Dan, gue punya perasaan nggak enak sama Hillan.”
“Emang dengan perasaan lo, lo bisa kasih makan tuh dua puluh anak?” kata Memi pedas. Dan cukup menyakiti hati Loki.
“Yang dibutuhkan brome child bukan uang aja. Tapi kasih sayang!” kata Loki dan kemudian meninggalkan Pandu dan Memi. Memi bergidik heran, dan menanyakan kenapa Loki seperti itu padanya.
“Mungkin, dia jealous kali.”
*******
Sebuah mobil sedan terparkir di rumah Memi. Bukan mobil milik Rolt. Tapi, milik Hillan. Ya, pemuda yang baru kenal Memi di Nano Buddy Café itu langsung bergerak cepat dan ingin mengenal Memi dengan lebih dekat. Memi sih, cuek aja, asal anak-anak brome dapat makan dan dapat keterampilan.
Hillan mengajak Memi ke restoran.
“Lan, lo baik banget sih, sama gue. Padahalkan gue orangnya sinis. Nggak ramah, tapi kenapa lo baik banget sama gue. Bahkan lo mau jadi partisipan brome child..?” Tanya Memi sambil meminum milkshake.
“Soalnya, gue tertarik sama cewe kayak lo. Cewe yang nggak memperdulikan dirinya, tapi memperdulikan orang lain. Lo hebat.” Puji Hillan.
“Ya. Karena gue sama-sama senasib dengan mereka. Gue ngalamin broken home (brome) saat gue usia enam tahun. Jadi gue tahu perasaan mereka. Apalagi, mereka miskin, jadi gue harus bantu anak-anak broken home (brome child) itu. ”
“Lo kenal Loki dan Pandu dimana?”
“Mereka tetangga gue. Mereka juga broken home, mereka juga miskin, Loki dan Pandu sudah merasakan susahnya mencari makan karena broken home, makanya Loki dan Pandu nggak mau anak-anak brome lain merasakan apa yang mereka rasakan.”
Dua orang itu kemudian terhanyut dalam kesedihan.
“Ya sudah, gue bantu sebisa gue untuk mencari donator tetap untuk anak-anak brome. Ngomong-ngomong, asal nama brome child dari mana?”
“Dari Loki. Brome child itu kepanjangan dari broken home child. Artinya, anak-anak yang merasakan broken home.” Jelas Memi.
“Lalu, yang mendirikan rumah penampungan itu siapa?”
“Ooh.. Rumah itu didirikan tahun lalu. Lo nggak tahu sih, perjuangan gue, Loki dan Pandu untuk mendirikan rumah itu.. Uangnya kita itu patungan, buat beli tanah sepetak, itu juga nyicil. Kita pinjam sana-sini, tapi susah, kami nggak dipercaya sama orang-orang karena waktu itu aja gue masih kelas 1 SMP. Loki dan Pandu juga bukan lulusan SMA. Tapi kami berhasil beli tanah. Waktu itu, gue sampe terpaksa nyuri duit nyokap gue dua ratus ribu, untuk DP.””
“Ya ampun. Lalu..?” Hillan tidak sabar untuk mendengarkan kelanjutannya.
“Sampai sekarang, kami masih punya hutang sejuta pada si pemilik tanah.”
“Yang bikin rumah siapa?”
“Ya gue, Loki, Pandu sama anak-anak.”
“Ada berapa anak-anak dirumah brome child? Sebutin dun.”
“Ada delapan belas. Cowok 12, cewek 6. yang cowok Aldi, Bery, Bonang, Chepy, Ahong, Rudi, Egi, Sem, Turi, Yogi, Riko dan Fajar. Yang cewek Bulan, Cheni, Wulan, Mai, Wieska, Poni, Voi dan Ane.” Kata Memi.
“Jadi kedelapan belas anak itu tinggal bareng Loki dan Pandu?” Memi mengangguk. “Kalau makanan kalian dapet dari mana?”
“Makan pagi, itu tugasnya Pandu sama Loki. Makan malam tugas gue. Gue kadang beli buat mereka, kadang gue nyuri dari kulkas rumah gue.” Hillan mengangguk paham.
“Ya udah. Daripada gue udah keburu nggak sabar, ayo kita ke rumah brome child. Kita bungkusin makanan untuk mereka ya,” ajak Hillan yang emang tajir itu. Memi mengangguk mengerti. Dia bernapas lega, anak-anak nggak akan kelaparan hari ini dan nggak perlu menunggu jam 12 malam untuk makan malam. Habis, Memi hanya bisa mencuri makanan kalau semua orang dirumahnya sudah tidur.
Hillan mengemudikan mobilnya dan menuju rumah brome child.
*******
Hari ini hari pertama Hillan bekerja di Nano Buddy Café. Café semakin ramai karena pengunjung yang kebanyakan wanita itu, kesengsem dengan Hillan yang cakep itu. Heran juga sih, Hillan yang tajir itu masa` mau kerja cuma di café kecil begitu. Tapi—orang-orang berpikir bahwa mungkin pria tampan itu ingin merakyat.
Tapi, tetap, Loki tidak menyukai gelagat Hillan.
Setelah jam empat, Nano Buddy Café tutup, Memi masih ada kerja part time di Plasa Ez Krim. Loki melanjutkan kerja menjadi satpam di sebuah perusahaan swasta dan Pandu menjadi pelayan restoran di sebuah restoran swasta. Yang jelas, Loki, Pandu dan Memi bekerja 24 jam untuk membayar hutang itu. Tugas Hillan saat ini, mengajarkan Chepy dkk bagaimana caranya membuat sablon. Hillan yang menyediakan segala keperluan sablon itu. Hillan juga bertugas memberi mereka makan malam.
*******
Memi pulang malam hari ini. Tentu saja, dia bekerja lagi di Plasa Ez Krim hingga pukul delapan, setelah itu ia mampir ke brome child, barulah pulang. Sampai rumah, seperti biasa ada mama yang bawel.
“Kenapa sih, Mem, kamu pulang malam melulu?”
“Masih untung aku pulang.” Ujar Memi asal jawab.
“Mau jadi apa kamu, perempuan, masih bau kencur, masih SMP. Pulang malam, mau jadi perempuan nggak bener, Hah?” marah mama.
“Mungkin,” kata Memi dan ngeloyor pergi.
Setelah itu terdengar teriakan kencang menyebut nama Memi.
Dikamar Rolt, pemuda tampan, perfect itu sedang berbicara dengan seseorang di telpon,
“Apa?? Ternyata selama ini dia seperti itu..”
“Gue sama sekali nggak sangka, dia bakal berbuat sekonyol itu,”
“Ternyata, dia punya kehidupan lain di luar sana, makasih banget atas informasinya, besok, kita ketemuan di kafe Golsky dekat sekolah gue ya..”
*******
Sebulan telah berlalu, Hillan telah resmi menjadi anggota brome child. Hillan memang dikenal ramah, baik dan pekerja keras. Walau dia kaya bukan main, dia mau bekerja di Plasa Ez Krim di tempat yang sama dengan Memi. Mungkin, Hillan memang menyukai Memi.
Suatu hari, terdengar dering ponsel Memi, dari Pandu. Saat itu hari sudah malam, Memi sedang berada di rumah dan sedang belajar.
“Halo, apa`an, Ndu..?” Tanya Memi.
“Mem, gawat! Pak Jul yang galak itu bakal dateng ke rumah, tadi dia ngancem lewat Fajar. Katanya, kita harus bisa ngelunasin hutang kita yang sejuta itu sekarang ini juga. Kalau nggak, rumah kita bakal dibakar..” jelas Pandu panik.
“Apa??”
“Masalahnya, gue lagi nggak megang duit sekarang. Di gue cuma ada dua ratus ribu. Loki cuma megang duit seratus ribu. Lo tau sendiri, Hillan lagi keluar kota.”
“..terus..” terdengar suara Memi menggetir.
“Lo usahain dong, cari tujuh ratus ribu lagi..” hubungan telpon terputus. Memi menangis sedih. Dia nggak tahu harus berbuat apa. Rolt nggak mungkin ngasih pinjaman lagi, uang tiga ratus yang dipinjam Memi sebulan yang lalu belum juga dikembalikan. Masa sekarang mau pinjam lagi. Mana tujuh ratus ribu lagi.
Memi menangis. Dan memikirkan tindakan apa yang sebaiknya dilakukannya. Yang dipikirannya saat ini ialah, dia harus mendapatkan tujuh ratus ribu, dan rumah brome child tidak boleh dibakar.
Apapun akan dilakukannya.
Apapun akan dilakukan Memi.
Ya
Oleh Memi
Brome child harus tetap bertahan!!
Hingga akhirnya, Memi melakukan tindakan gila.
Ia mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke sebuah tas besar, termasuk seragamnya, semua buku-bukunya. Setelah itu, dia mengendap-endap memasuki kamar mamanya, yang kebetulan saat itu sedang tidak berada dirumah.
Ia melakukan sama seperti yang dilakukannya setahun yang lalu. Mencuri uang ibunya. Tapi, tahun lalu tidak sebanyak ini, dan tahun lalu tidak ketahuan.
Memi mengambil uang satu juta rupiah. Dalam hati ia berkata, “Maaf`in Memi, mama. Memi memang bukan anak baik.” Lalu Memi segera berlari keluar rumah. Sekarang, Rolt benar-benar tidak menyadari adiknya kabur dari rumah.
Tak lama, Memi sampai ke rumah brome child. Kedelapan belas anak-anak itu tersenyum bahagia ketika Memi datang, mereka sudah tenang. Lalu anak-anak makan dibawakan nasi bungkus oleh Loki, lalu disaat anak-anak makan, Loki, Pandu dan Memi melakukan pembicaraan rahasia.
“Darimana uang sebanyak itu?” Tanya Pandu.
“Gue terpaksa ngambil uang nyokap gue.” Aku Memi.
“Apa..? Memi! Lo sudah janji nggak akan melakukan itu lagi..” marah Loki. Memi segera membalas, “Mau bagaimana lagi.. Daripada rumah brome child dibakar, gue nggak rela. Mending gue yang menderita daripada mereka yang menderita.”
“Tapi, Mem, uang sejuta itu banyak, nyokap lo pasti sadar.” Kata Pandu sembari menghibur Memi dengan menaruh tangannya di bahu Memi.
“Gue tau nyokap pasti sadar, makanya gue bawa barang-barang gue. Gue mau kabur..”
“APAAAA??!!!”
*******
“Uang mama hilang!!!” teriak mama dirumah.
Rolt segera mendatangi kamar mamanya untuk melihat apa yang terjadi. Mama segera menceritakan tentang uangnya yang hilang, yang berjumlah satu juta.
Rolt pun langsung menuju kamar adiknya.
Yang ternyata sudah nggak ada dikamarnya.
Buku-buku pelajarannya juga sudah menghilang termasuk baju-bajunya. Rolt berkesimpulan Memi lah yang mengambil uang mamanya. Mamanya geleng-geleng kepala karena itu. Tetapi Rolt berjanji, ia akan membawa kembali adiknya secepatnya.
Mama pun percaya pada anak sulungnya itu.
*******
“Memi masuk hari ini..?” terdengar suara Rolt dibalik ponsel Pinka.
“Iya kok, Kak. Memangnya kakak nggak ketemu Memi dirumah?”
“Em.. Nggak juga sih. Ya sudah deh.. Selamat belajar, ya, Pinka..”
Dua hari telah berlalu, Memi selalu berhati-hati kalau sedang disekolah. Takut, kakaknya mengintainya. Kak Rolt emang rese, mau ikut campur urusan orang. Maka, sepulang sekolah Memi langsung menuju rumah brome child atau ke Nano Buddy Café untuk membantu Loki dan Pandu berjualan burger.
Hari ini Hillan sudah pulang dari Surabaya. Sejak tiga hari yang lalu, Hillan memang sedang study tour ke Surabaya. Lalu, Hillan mendengar tentang ide gila Memi yang kabur dari rumahnya.
“Lo itu terpelajar nggak sih, Mem..?” omel Hillan.
“Lo nggak sedang berada di posisi gue, Hillan. Gue waktu itu panik banget, dan memang satu-satunya cara untuk ngamanin anak-anak brome child dan untuk membayar semua hutang kita itu, ya, dengan cara begitu.” belanya.
“Lo mungkin udah ngamanin anak-anak brome child. Tapi lo nggak ngamanin diri lo.”
“BIARIN…!!” teriak Memi marah.
Kemudian Hillan meminta maaf karena berkata kasar pada Memi. “Gue tau perasaan lo, Mem..” Hillan kemudian memegang kedua tangan Memi. Loki yang dari jauh melihatnya jadi kesal dibuatnya. “Tapi, gimana hubungan lo sama mama dan kakak lo. Mereka tetap keluarga lo. Sekarang pasti mereka mencari lo.” Kata Hillan.
“Ayo, gue antar pulang,” ajak Hillan.
Memi menggeleng dan melepas pegangan tanga Hillan.
“Gue akan pulang kalau gue sudah bisa membayar hutang gue ke mama dan ke kak Rolt.” Memi menolaknya.
“Gue yang bayar sejuta tiga ratus ribu itu.”
“Gue nggak mau.” Memi menolak lagi. Karena sifat keras Memi, Hillan kapok dan tidak membicarakan hal itu lagi.
Selama Memi kabur, dia adanya bahagia terus. Dia dikelilingi anak-anak baik, Chepy dkk sudah bisa mencari uang dengan usaha sablon. Anak-anak lain ada yang berjualan Koran, bekerja di kedai kopi, ada yang menjadi pemulung bekas-bekas botol plastik untuk di daur ulang, daur ulangnya menjadi vas bunga yang cantik-cantik, banyak deh. Memi bahagia tinggal disana, walau hanya tinggal di bilik kayu reot.
*******
Keesokan harinya, “Rolt, Mama sudah nggak tahan. Mama harus bertemu Memi sekarang juga.” Kata mama. “Mama nggak apa-apa kalau Memi mengambil uang mama, asal mama bisa bertemu dengan adikmu.”
Rolt awalnya tidak mau, tetapi, terpaksa ia setuju.
Sore harinya, Rolt memanggil Hillan yang ternyata sahabat Rolt, yang memang sengaja disuruh Rolt untuk memata-matai adiknya. Apa saja yang dilakukan oleh Memi sepulang sekolah, sebab Memi selalu pulang malam. Rolt khawatir, adiknya menggunakan uang pinjaman darinya untuk membeli narkoba. Maka ia meminta tolong Hillan untuk menjadi bagian dari anak-anak itu.
Maka, Hillan menceritakan apa yang sebenarnya selama ini dilakukan oleh Memi, Memi selama ini membuat perkumpulan anak-anak kurang beruntung, yang mengalami broken home, dan dibantu dua sahabatnya, Memi membangun rumah walau dengan kayu untuk tempat tinggal anak-anak itu.
Hillan juga bercerita bahwa, Memi selama ini bekerja di dua tempat sekaligus, di Nano Buddy Café dan di Plasa Ez Krim untuk memberi anak-anak brome makan. Tidak lupa, Hillan menceritakan Memi mencuri makanan tiap malam untuk anak-anak asuhnya.
Yang paling penting, Memi mencuri uang sejuta untuk membayar hutang.
Semua sudah diberitahukan oleh Hillan. Kemudian menangislah mama di pundak Rolt. Ia benar-benar tidak sangka anak bungsunya yang biang masalah sejak mama bercerai dengan papa, dapat berbuat kasih seperti itu. Bahkan Memi mau berkorban demi anak-anak itu.
*******
Tentu saja, hari itu juga, mama minta diantar oleh Rolt dan Hillan ke sebuah tempat dimana selama ini Memi biasa bercokol, yakni di rumah brome child. Hillan pun bersedia mengantar.
Dan benar, tempat yang disebut dengan brome child itu tempat yang sangat tidak layak disebut rumah. Seperti kandang hewan.
Mama langsung masuk ke rumah yang terbuat dari kayu-kayu sederhana itu. Dan ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Memi tertawa tanpa beban yang selama ini belum pernah dilihat olehnya. Memi sedang bermain gitar dengan anak-anak dengan dua teman prianya, Memi seperti punya keluarga sendiri.
Namun, itu justru mengaggetkan bagi Memi. Muncul dengan tiba-tiba mamanya, kakaknya dan ..Hillan..
Ternyata Hillan yang melaporkan ke mamanya bahwa Memi kabur ke brome child. Semua yang berada di rumah itu spontan terdiam.
Memi berdiri dengan tatapan ganas dan tiada ampun.
“..Hillan..! Dasar pengkhianat.. Gue benci sama lo…!” teriak Memi.
Loki dan Pandu juga ikut berdiri.
“Sudah ku duga, Hillan memang orang suruhan keluargamu, Memi.”
“Kak Rolt jahat.. Kak Rolt jahat..” tangis Memi.
Suasana menjadi amat tegang. Kemudian, melembut karena mama berkata dengan amat lembut, “Memi, kakakmu nggak jahat, kakakmu sangat baik dan perhatian, kakakmu mau kamu aman. Makanya dia mengirimkan Hillan untuk tahu apa kegiatanmu diluar…”
“Ya itu jahat. Kak Rolt emang tuan sok tahu. Mama pasti kesini untuk marahin Memi`kan karena Memi ngambil uang mama..?!” teriak Memi.
Mama menggeleng dan berkata dengan amat lembut,
“Mama sudah ngelupain uang sejuta itu. Mama tahu, uang itu kamu pakai untuk bayar hutang anak-anak brome child`kan.. Mama tahu, mama salah Memi. Kamu jadi nggak bahagia ini, karena kamu mengalami broken home karena mama, kamu lalu mencari kebahagiaan di tempat lain. Tapi, untunglah kamu dapat teman-teman baik seperti Pandu dan Loki.” Senyum mama sambil menatap Loki dan Pandu satu per satu.
“Mama nggak marah karena Memi ngambil uang..?”
Memi sudah tenang dan mendekati mamanya.
“Nggak sayang. Mama justru akan marah kalau kamu nggak pulang kerumah. Mama justru mama bangga, kamu sekecil ini bisa memberi makan delapan belas anak-anak. Kamu sudah dewasa, Nak..” Mama untuk pertama kalinya, sejak lima tahun terakhir, mama mengelus-elus wajah anak bungsunya.
Lalu, mama dan Memi berpelukkan.
Anak-anak riuh karenanya. Dan menepuki mereka. Kak Rolt juga ikut memeluk mama dan adiknya.
“Maafin mama, Memi. Karena nggak pernah dengerin omongan kamu..” kak Rolt, Hillan, Loki dan Pandu berbaur menjadi satu. Rolt berterima kasih pada Loki dan Pandu yang telah menjaga Memi dan menjadikan Memi dewasa. Loki pun meminta maaf pada Hillan yang sudah bernegatif thingking padanya.
“Tenang, anak-anak akan mama perlihara.”
“Makasih, Ma..” kedelapan belas anak itu serentak memeluk mama.
“Kalian panggil tante mama, ya..” katanya. IYAAA….
“Baguslah, mulai dari sekarang, sudah nggak ada lagi pencuri makanan…” WAHAHAHAHAHAHAAAAAA…
TAMAT
Sabtu, 29 Agustus 2009
satu hari bersama oma
Chapter 1
MELELAHKAN !! Pikir gue, nemen`in kakak belanja adalah hal yang paling menyebalkan, melelahkan—dijamin membosankan kata gue lebih lanjut.Namun urung gue ungkapkan! Kalo kakak tahu—bisa-bisa dia tidak akan traktir gue lagi.
Nama gue Gebriel Marsha Angelus.Sekarang gue lagi di mobil.Kakak gue duduk manis disamping gue.Dia kayaknya puas m`borong belanja`an.Bayang`in hanya dalam waktu empat jam dia udah bisa borong sampe dua troli.Gile`kan kakak gue satu itu...
“Adek,makasih ya,Mau nganterin kakak...” katanya. “Iya nggak apa-apa kok. Lagi`an lumayan—bisa ditraktir minum kopi.” Jawab gue males.Sebenernya alasan gue mau nganter dia—cuma agar bisa makan gratis plus keluar rumah!
“Yee..Kok gitu siih, dek!” Afry terlihat menyeruput es cream.Akhirnya di mobil itu kami terdiam.Sibuk masing-masing.Afry asyik dengan ponselnya—gue konsentrasi sama jalan.Nama kakak gue itu Nathalie Afryani.
Tak lama—kami sudah sampai rumah.Terlihat Pak Ginan membukakan pintu gerbang. “Makasih, ya, Pak!” kata gue. Mobil pun gue masukin ke garasi. Disaat itulah, terdengar suara, suaranya kakak gue,Afry.
“Pak Ginan,tolong masukin belanja`an aku ke kamar ya...” ujar gadis manis itu.Dia sekarang kuliah di Univ.Indonesia jurusan Management Akuntansi.Sedang gue,masih duduk di kelas 2 SMU.
Dasar Afry! Sukanya perintah saja.Dia malah nyelonong masuk kerumah.Kasihan Pak Ginan membawakan belanjaan dia yang sumpah! Banyak banget.
Gue masuk kerumah,ada cowok yang cukup ganteng duduk di ruang tamu—dia sama sekali nggak memandang kedatangan gue. Cowok itu justru asyik mengutak-atik note booknya.
Dia Reanan.Reanan Defrindo. Kakak gue juga—dia udah kerja,udah punya tunangan malah.
“Gebriel—kemana aja sih,lo..Lama banget pake mobil!” bentak Reanan yang akhirnya memalingkan pandangan dari laptopnya.Mampus gue...Tadi gue sama Afry emang make mobilnya Reanan, kita janji cuma make dua jam.Tau`nya molor jadi empat jam.Maklum hobi belanja`nya kak Afry yang berlebihan.
“Yaah..Maaf`Kak!Habis kayak kakak nggak tahu sifatnya Kak Afry aja.Dia kalo udah masuk mall—udah lupa dunia!” jawab gue lalu gue duduk deket`in kakak sulung gue itu.Tiba-tiba muncul suara!
“Ngawur! Ngawur tuh`kak...” teriak Afry,yang rupanya berada di dapur. “Adek!Ngomong apa`an sih..” komplen Afry sama gue. Gue pura-pura nggak denger aja! Afry kemudian menghampiri kami.
“Dek,emang mobil kamu kenapa?” tanya Kak Reanan sama Kak Afry. “Itu,mobil aku dibawa kebengkel.Emang kakak mau kemana?” sedang Reanan nggak nanya keberadaan mobil gue—karena dia tahu pasti, nyokap nyita mobil gue, karena dua hari yang lalu gue diskors dari sekolahan.Karena gue cabut. Makanya dua hari ini gue diem aja—mati kutu kalau nggak ada mobil.
“Mau kegereja.Mau ada rapat mudika.” Jawab Reanan. Gue sok cuek gitu—ambil remote terus nonton tivi aja.Bodo amat. “Ya udah sana berangkat!” kata Afry dia duduk disela-sela gue sama kak Reanan.Dasar!
“Ya udah deh.” Kak Reanan bangkit berdiri. “Dek,sele- sai`in tugas kakak dong.” Pinta Reanan pada Afry. “Tugas apa Kak?” Afry menyeruput segelas juice lemon.Kak Reanan duduk lagi.Dan menjelaskan beberapa hal—gue nggak tahu pasti sama kak Afry.
“Ya udah deh, Dek, bilang mamah kakak berangkat ke gereja...” kata Kak Reanan. “Iya..” jawab Kak Afry.Gue`mah sedari tadi diam saja.Kakak sulung gue menghilang begitu saja dan terdengar deru mesin mobil keluar dari rumah.Gue asyik nonton tivi.Sedang kak Afry melanjutkan tugas kantornya kak Reanan.
Selang beberapa menit—muncul papah.Beliau nggak kerja karena memang hari ini hari Minggu.Dia tidak mengenakan setelan jas keren,seperti yang biasa beliau pergunakan,melain- kan hanya mengenakan kaos oblong dan celana selutut.
Beliau melewati kami kedua anaknya.Diam saja.Makanya gue diem`in aja.Tampaknya papah menuju dapur.
Beliau melewati kami untuk kedua kalinya.Akhirnya Afry yang menyapa dulu`an.Lebih parah—Afry mendekati papah dan memberikannya sebuah ciuman selamat siang.
“Siang papah...” senyumnya.
Yaah..memang masih pukul dua belas siang.Dan kalian tahu jam dua belas siang sudah dipergunakan kak Afry memborong pakaian.Dan perlu kalian ketahui—papahku itu kalau libur bangun bisa sampai jam dua siang.
“Siang sayang...” papah dan Afry duduk disebelahku.
“Kamu katanya mau belanja—Ry..” kata papah pada Afry.
“Sudah pah,,”
“Dianter siapa,sayang?Pak Ju’eng`kan sedang sakit?” Pak Ju’eng adalah supir kami.Biasanya papah tidak membiarkan putri semata wayangnya—Nathalie Afryani kemana-mana seorang diri. “Dianter adek`ku tersayang..pah! Gebriel...”
Papah menatapku. “Gebriel...tumben mau anter kakakmu ke mall..?” papah bergidik heran.Gue senyum aja. Terus gue jawab, “Yaah..Papah..Mobil Gebriel`kan lagi disita.Jadi nggak bisa kemana-mana.Makanya waktu kak Afry ajak jalan-jalan, why not?” gitu jawab gue.
Papah mengangguk mengerti. “Makanya,Briel,jangan bikin ulah disekolah.Tuuh`kan akibatnya mobil kamu disita mamah.”
“Iya. Nggak lagi.Pah.” males deeh. Lalu Afry berkata,
“Iya pah...Makanya papah tolong bujuk mamah untuk ngasih kunci mobilnya Gebriel.Kasihan adek`pah...Adek`kan udah baik mau anter aku ke mall...” pinta kakakku itu. Yang sumpah! Begitu dia ngomong kayak gitu ke papah—gue sangat bersyukur dilahirkan sebagai adik dari Afryani.
Afryani`kan memang anak kesayangan mamah papah.Mak lum anak cewek satu-satunya.
“Iya pah.Tolong aku..” kataku menambahkan.
“Iya..iya..Nanti mamah kalian akan papah bujuk.Udah`ah papah mau mandi dulu.Habis ini papah harus datang ke perkawinan rekan bisnis papah.” Papah terlihat berdiri dari tempat duduk dan menuju kamarnya—mandi barangkali.
Sepeninggal papah,
“Kak,Thx ya...” kata gue malu-malu.
Dengan anehnya—kakak gue itu langsung meluk gue,emang nggak lama siih—tapi bagi gue—risih banget.
“Sama-sama dek.Tapi,kapan-kapan anter`in kakak belanja lagi yaah.” Pintanya. “Ogah ah.Menderita belanja sama kakak.Disuruh dorong troli.” Canda gue. Kami tertawa.
Papah sudah kembali ke kamarnya.Gue ngelanjut`in acara nonton tivi.Kak Afry melanjutkan tugas yang disuruh Kak Reanan.Kami udah berada dikondisi nggak ada yang saling bicara.Sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Gue lihat mamah keluar kamar masih mengenakan kimono tidurnya—beliau nggak menghampiri kami kedua anaknya,tapi justru menuju kamar oma kami.
Oh iya,gue lupa bercerita.Selain dengan dua kakak gue—gue juga tinggal dengan Oma.Beliau ialah maminya mamah. Beliau memang sudah berusia senja—tapi sumpah! Oma`tuh gaul abes.. Omongannya aja gue-elo.Keren banget nggak sih Oma gue itu. Tapi Oma itu kadang menyusahkan. Maklum saja orang sudah tua.
Kalian tahu—band kesukaan Oma gue yang berusia enam puluh satu tahun itu—Corn sama My Chemical Romance, yang sumpah! Anak muda abis,yang bunyi sound systemnya meledak-ledak! Dan yang paling gue kesel`in Oma sama gue sama-sama suka sama Simple Plan! Dan itu yang gue nggak terima.
Yaah.Gue`sih maklum aja—udah tua.Oma sudah ditinggal Opa setahun yang lalu.Opa meninggal gara-gara gagal ginjal. Padahal Opa adalah orang yang paling gue sayang.
Yang gue lihat kemudian mamah keluar bersama ibunya. Tapi bukannya saling peluk—justru malah bertengkar.Tidak ribut besar sih—tapi cukup membuat rumah heboh.Oma`kan kalau teriak bisa mengalahkan auman tarzan.Hehehehee..
“Mami, kan bisa lain kali..” mamah tampak sabar melayani ibunya.Gue sama Afry berpandangan.Oma keluar dengan penampilan ngejreng abis.Pakai syal pink—celana jeans yang lagi digandrungi oleh Afry.Apa Oma nggak sadar bahwa giginya yang sudah tanggal melebihi lima?
“Nggak. Regina, dengar mami! Mamimu ini masih sehat! Mami mau jalan-jalan.Sekarang.Titik!” bentak Oma.
“Tapi mam,sekarang mami ada janji sama dokter Hendi,”
“Bisa dibatalkan,sweety`ku..” Oma menenteng tas yang kayaknya sama persis sama milik Afry.Ya gue ingat!Afry beli tas bertuliskan “QUEEN 17th” itu sebulan yang lalu.Tapi mustahil itu milik Afry.Afry tergolong pelit untuk meminjamkan barang yang baru dibelinya.Tapi dapatkah kalian bayangkan Oma yang berusia 61 tahun itu menggunakan tas yang bertuliskan seventeen?
“Mami juga bisa`dong membatalkan kepergian mami! Kasihan dokter Hendi,mami...”
“Ooh.Kalau begitu—ini mami akan telpon dokter Hendi,” Oma berbuat sinting.Dia mengeluarkan Hp PDA-nya dan bersiap menelpon.Kalian bisa bayangkan Oma yang cukup ‘maaf’ ‘rabun’ itu menggunakan PDA senilai 13juta.Kalian jangan salah sangka—cita rasa Oma memang tinggi.Dia`mah ogah pakai ponsel yang cuma lima juta`an.Oma`ku itu memang langka!
Mamahku mencegah hal itu terjadi.
“Masalahnya itu,mi.. Pak Ju`eng sakit.Dia nggak masuk hari ini.”
“So`what?” dapatkah kalian bayangkan, Oma`ku, ya Oma`ku, Oma Tja Jung Hun, yang dalam nama Indonesia Oma Voni, yang mengatakan, “so what”.
Aku dan Afry yang duduk diruang tamu saling berpandang an.Afry berkata penuh keheranan, “Sumpah!Oma kita itu lebih gaul dari pada kita,” kata Afry.Gue mengangguk setuju.Lalu gue ngomong, “Kak,tas yang dipakai Oma itu mirip kayak tas kakak,”
“Memang,sama persis.Tapi itu bukan punya kakak.Enak aja tas gue dipake-pake.Lo harus tahu,Gebriel,tas itu limited edition hanya ada lima buah di dunia.Gue beli itu jutaan sama temen gue yang di Paris—kota mode.Dan begitu mengerikan bukan,bahwa satu dari empat buah yang lain dibeli oleh seorang nenek berusia enam puluh tahun..” kata Afry tercengang-cengang.Sedih barangkali dia.Dia sama sekali nggak suka—ada yang nyama`in kepunyaannya.
Afry menghela napas,sesaat kemudian dia berkata, “Oma kita memang keajaiban alam.Satu banding seribu dibanding oma-oma yang lain diseluruh dunia,”
Kembali kepertengkaran mamah sama Oma.
“Karena Pak Ju`eng nggak ada. Nggak ada bisa anter mami,mami ngerti dong..” mamah Regina kasihan—terlihat putus asa menghadapi ibu kandungnya.
Muncullah papah.Kini sudah mengenakan batik yang indah sekali.Beliau telah siap menuju perkawinan temannya.Seperti- nya papahlah yang akan menengahi pertengkaran itu.
“Ada apa ini? Mamah..Mami..”
“Begini pah,mami bersikeras mau jalan-jalan.Tolong dong papah kasih tahu—jangan sekarang.Mami hari ini harus check up sama dokter Hendi.” Jelas mamahku.
Oma menyela, “Andri,mamimu ini cuma mau jalan-jalan. Mami bosan dikurung dirumah.Lagipula, Hendi nggak akan marah kalau cuma mami membatalkan janji,”
Papah terdiam.
“Tetapi pah,Pak Ju`eng lagi sakit.Nggak bisa nemen`in mami jalan-jalan.Kita nggak mungkn tega biarin mami keluyuran sendirian tanpa pendamping`kan?” kata mamah.
Papah masih terdiam beberapa saat.
Sampai akhirnya papah berkata,
“Ya sudah kalau keinginan mami jalan-jalan.Kita bolehkan saja.” Mamah menyela, “..tapi..” Papah memotong, “Biar diantar Reanan!”
“Pah,kakak ke gereja.Rapat mudika.” Tiba-tiba Afry menyela.Afry masih duduk tepat disamping gue.Kami masih life menyaksikan nontonan heboh itu.
“Andri..Mami berani sendiri kok,” papah nampaknya nggak menghiraukan omongan Oma.
Lalu mamahku—ya ibu kandungku—mamah Regina punya ide yang benar-benar buruk bagi gue,
“Biar mami diantar sama Gebriel...”
DHHUARR!!
Sumpah! Seakan Gunung Merapi meletus saat itu juga.
Mereka semua langsung memandangiku yang tepat berada didepan hidung mereka.Ingin rasanya gue ngumpet dibalik gorden,tapi kayaknya mustahil.
“Apa??!!” teriak gue nggak percaya.
“Iya betul juga.Kasihan Oma,dek,” kata Afry.
“Ya udah.Oma biar diantar sama Gebriel,” kata papah.
“Tapi..Tapi..Gebriel mau istirahat sekarang,” kayaknya omongan gue sia-sia.Yang lain tidak menghiraukan.Akhirnya mamah ngomong begini, “Gebriel,kalau kamu bersedia nemen`in Oma hari ini saja—mamah berjanji akan mengembalikan kunci mobil Gebriel.”
Mata gue melotot. “Iya..udah..sana..Dek,anterin Oma jalan-jalan.Mobil kamu bakal balik,” Afry menyemangati gue yang nyaris pingsan ini.Gue benar-benar nggak bisa bayang`in apa yang akan terjadi sehari ini.
“Baiklah..” saat gue ngomong kayak gitu—seolah semua otot-otot persendian gue langsung melemah.
“Ya sudah,mami mau berangkat dulu,Andri,mana,,pinjam kunci mobilmu..” papah,mamah,Afry termasuk gue terheran-heran atas permintaan Oma.
“Apa??Mami naik mobil mami saja—atau naik mobilnya Gebriel.Masalahnya—aku sama Regina mau ke perkawinan teman aku,Mam..” kata papah melemah.Sepertinya papah nggak rela mobil mewahnya dipergunakan Oma.
“Sudahlah,Andri.Tiap hari mobil itu juga kau bawa ke kantor.Mami cuma mau pinjam hari ini saja—cepat kasih kuncinya ke Gebriel! Kamu`kan juga bisa pakai mobil anakmu, Gebriel atau mobil istrimu...” perintah Oma.
Papah kalah telak.
Beliau mendekatiku.Dan memberikan kunci mobil jaguar- nya sama gue—setengah berbisik, “Briel,hati-hati ya pakai mobil papah.Kalau rusak atau terjadi apa-apa—mobil kamu akan benar-benar papah jual.”
DHHUARR!!
Huh! Kok jadi seperti ini sih..gue juga takut setengah mati.Nanti kalau benar-benar kecelakaan bisa-bisa gue naik bus kesekolah.Tidak! itu tidak boleh terjadi.
Dengan santainya—Oma mendahului kami menuju garasi, dan dengan tanpa dosa Oma berteriak, “Gebriel,bukakan pintu…”
Dengan lemas—gue menuju garasi.Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini.Papah,Mamah,serta Afry menuju depan rumah memastikan Oma bawel itu pergi meninggalkan rumah.
Gue udah masuk mobil,Oma duduk disamping bangku penyupir.Bahkan—Oma sempat-sempatnya Oma berteriak yang membuat satu rumah terheran-heran nggak percaya.Oma tanda rasa bersalah, berteriak begini, “Eh,guys,gue cabut dulu ya…” gimana nggak bikin mau pingsan! Apalagi gue yang tepat berada disampingnya.
Memikirkannya saja sudah mau muntah.
“Gebriel,jalan..” sungguh—kalau tidak memikirkan demi mobilku,aku nggak rela diperintah layaknya seorang driver sama oma gue itu.Tapi—well,baiklah pengecualian hari ini.
Mobil mewah itu gue jalanin lumayan cepat.Kata bokap gue harus hati-hati,wajarlah bawa mobil mewah macam Jaguar daripada mobil gue dijual.Gue lebih baik mati daripada nggak ada mobil itu.
Baru keluar komplek—oma komplen untuk kedua kalinya.
“Briel,cepat sedikit dong—lamban benar!”
Busyet.. Oma-oma wajar lain`mah adanya minta agar mobil berjalan hati-hati.But,pengecualian oma`ku itu.
“Iya oma,ini`kan masih jalan komplek,” sanggah gue.
“Otreh,Oma ngerti maksud you.Tapi kayaknya elu kapan-kapan harus ikut oma ke Sentul.Disono`noh kite bisa ngetrek sepuasnya! Otreh..” Ooh.Oma nyaris bikin gue pingsan ketiga kalinya.
“Ye...Oma,Sentul doang—Gebriel juga sering kesana sama temen-temen aku…” rese nih`Oma..
Oma hanya berkata Ooh.Lalu gue tetep mengemudikan mobil itu.Sebenernya gue juga nggak tahu harus dibawa kemana mobil itu,tapi terserah gue aja mau kemana.Oma paling nggak ngomel.
Saat gue mbelokin mobil kekanan—tepatnya ke arah Pejaten—tiba-tiba Oma teriak dengan kencangnya gitu deh.
“Stop—stop,kita salah arah.Putar balik,”
“Maksud Oma?”
“Ya putar balik!Cepat sebelum tekanan darah Oma naik!”
Gue nggak berani bantah.Gue ikutin apa mau nenek itu. Berilah aku kesabaran ya Tuhan.Demi mobil kebanggaanku.
“Stop!Stop!Stop Gebriel!” kini teriakan Oma lebih kencang.Gue kaget,salah gue apa lagi?Soalnya gue udah putar balik mobil itu.Tapi sepertinya itu kurang bagi Oma.
“Kenapa Oma…?” gue bingung banget saat itu.
“Cepat!!!” Oma makin bikin gue merinding. Akhirnya gue pinggirin kesebuah trotoar.Aduduh ada apa niih..Gue cuma ngerasa keringat dingin keluar dari pelipis gue.
Oma tiba-tiba keluar mobil.Entah apa.Gue pandangi Oma gue yang aneh itu.Lalu dia mendekati gue,kursi kemudi.Beliau kemudian mengetuk-etuk kaca mobil.Kaca pintu kemudian gue buka.
“Kenapa sih,Oma?” tanya gue penasaran.
“Turun!!” teriaknya dari luar.Hei..apa dia tak salah.Aku ini cucunya.Kenapa ia usir?Sumpah waktu itu gue benar-benar nggak bisa berpikir panjang,kayak terhipnotis.Gue turut`in tuh perintah nenek-nenek yang sok gaul.Nggak ingat umur.
Yang gue lihat justru setelah gue keluar mobil justru dia yang masuk kemobil.Masuknya bukan ke`jok mobil belakang. Tapi ke`jok pengemudi mobil.Whats??Sumpah itu bener-bener bikin gue basah keringet.
Apa nggak salah nenek-nenek usia enam puluh tahun mau mengendarai mobil? Sebenarnya——jangan kaget.Oma gue itu bisa nyetir.Dia dibelikan papah sebuah mobil yang nggak tanggung-tanggung—Honda CRV.Oma`ku itu nggak mau barang yang murah melekat pada dirinya.
Well,kalau CRV bolehlah.Bahkan untuk usia nenek enam puluh tahun saja—CRV itu kemahalan.Seharusnya nenek-nenek itu mengendarakan kursi dorong.Tapi nenek belagu itu minta mengendarai Jaguar! Gimana nggak bikin puseenk satu keluarga!
Kembali kemasalah tadi.Gue nyaris mati berdiri lho...
“Oma..Oma..Buka..” gue nyoba menyadarkan nenek itu dengan mengetuk-entuk kaca mobil.Kaca mobil depan terbuka, Oma berkata,
“Gebriel,masuk! Kalau nggak Oma tinggal!” ancamnya.
Gue ambil langkah seribu lalu gue masuk ke jok depan samping kemudi.Bayang`in nggak sih—gue ini usia 18 tahun seharusnya yang menyetir mobil itu aku—kenapa justru Omaku? Pembaca—dapatkah kalian menjawab pertanyaanku itu dengan alasan yang logis dan dengan rumus yang dibakukan oleh Standar Internasional?
Mobil mewah punya bokap terasa berjalan.Tentu saja berjalan,Oma yang mengemudikan,tapi selama 18 tahun aku tinggal dengan Oma,baru sekali ini yang namanya mobil disetir oleh Oma-Oma.Padahal disampingnya masih ada daun muda.
“Oma..Oma..Maksud Oma apa sih?”tanya gue kebingungan
“Oma nggak bermaksud apa-apa..”
“Tapi,kenapa Oma yang nyetir?Kan ada Gebriel...Biar Gebriel aja yang nyupir,nanti biar Gebriel ajak Oma jalan-jalan ke tempat yang Oma mau.”
“Nggak Gebriel sayang,Oma bisa nyetir kok tenang aja!!”
But,tiba-tiba,
Wusss...Wusss...Wusss...Wusss...
Mobil jaguar itu melaju dengan sangat kencang! Waa... Walau gue udah pakai selt belt,gue nggak yakin bisa bikin nyawa gue selamat! Soalnya tiba-tiba Oma nancap gas—nggak kira-kira dan itu kenceng banget...
“Oma...Oma..Pelan`in…”Teriak gue ketakutan.
“Tenang aja—Gebriel Oma sering latihan di Sentul...”
“Oma,Ini jalan besar—bukan sirkuit!!!” teriak gue lagi.
Oma nggak jawab omongan dia.Gue udah keringat dingin banget itu.Bayang`in Oma`kan udah agak rabun—terus kalau nyupir mobil kenceng-kenceng bisa tabrakan!Bisa nganter nyawa! Ooh. Tidak! Yang lebih mengerikan lagi—bagaimana kalau nanti papah tahu bahwa mobil mewah kesayangannya tabrakan?Papahkan selama ini sangat menyayangi mobil Jaguar itu.Nanti bisa-bisa mobil gue bakal dijual.
Ooh.Tidak.Ini harus dicegah.
“Oma!Oma!Pelan`in Oma.Nanti tabrakan,”
“Nggak akan Briel…” teriak Oma.
Mobil masih melaju diatas kecepatan rata-rata.Dan kadang cara menyetir Oma itu sangat mengerikan! Kenapa`sih Oma dapat SIM?Pasti SIM nembak.
“Oma..Plis,biar Gebriel aja yang nyetir.Nanti kalau kecelakaan,Gebriel yang dimarahi papah gara-gara nggak bisa jaga mobil ini.Oma..Plis oma,ini mobil kesayangan papah.Jang- an nekat…” gue udah nyaris nangis.Nggak bisa membayangkan mobil gue bakal disita.Dan gue—pamor sebagai seorang Gebriel Marsha Angelus akan turun pangkat.Gue akan kemana-mana naik bus.Mengerikan bukan?
Oma nggak menjawab.
Dan kalian tahu—sepanjang perjalanan gue hanya nutup muka dengan tangan,sambil dalam hati berdoa Salam Maria. Semoga gue masih disayangi Tuhan dan semoga umur gue masih panjang! Dan kalian tahu—sepanjang perjalanan itulah hampir terjadi tabrakan lima kali,salah jalan tujuh kali,putar balik dua kali,putar-putar dijalan yang sama enam belas kali,hampir nabrak kucing tiga kali. Gila`kan?
Kalo gue yang megang—pasti bakal dari tadi udah sampe. Nggak mungkin dua jam nggak sampe-sampe dan hanya berputar disitu-situ saja.
Dan sepertinya doa gue dikabulkan.
Mobil jaguar itu berhenti disebuah Mall.
Yang gue tahu pasti mall itu.
“PIM?Jadi Oma dari tadi muter-muter cuma mau ke PIM?” tanya gue nggak percaya.Oma mengangguk.
“Oma,kalau oma bilang sejak awal,tiga puluh menit Gebriel yang nyetir udah sampe kita disini.Nggak harus nyasar,hampir nambrak, nggak mungkin dua jam!” bentak gue.Oma sedang mencari tempat untuk parkir.
“Briel,oma itu cuma pingin ngerasa`in nyetir jaguar,kan Jaguar mahal.Makanya oma pingin nyoba`in.Cuma itu doang kok” kata Oma memelas.
“Tapi Oma—oma ingat dong umur Oma.Umur nggak bisa dibohongi,oma udah renta,udah sebaiknya dilayani sama anak-anak oma dan cucu-cucu oma.Nanti pulang,biar Gebriel aja ya, yang bawa mobil!Takut dimarahi papah,oma..” kata gue pelan-pelan supaya oma sadar.
Kami sudah keluar dari parkir lalu menuju mall besar itu.
“Iya,nanti Gebriel saja yang bawa.Oma rasa nyetir jaguar sama CRV sama saja.”
Gue ketawa dalam hati.
Hahahahahaa...Umur memang tidak bisa dibohongi.Walau Oma sok gaul—tapi tetep lebih gaul gue.Gue tahu pasti perbedaan jaguar disbanding mobil-mobil yang lain. Jadi, gue menang 1-0 dari oma.
Saat itu kupikir penderitaanku akan berakhir.
Tapi sepertinya tidak.
Gaya sok gaul oma muncul.Dia mulai manggil gue dengan sebutan, “eh coy” atau “gue-lo” atau “eh boo” atau “yu ya yuu,” bikin gue mual aja!
Terlepas dari itu,oma memiliki sifat buruk yang sama dengan kak Afry.Doyan belanja.Dan bedanya umur Afry masih berkepala dua dan oma berkepala enam! Tapi sifat mereka sama sebagai seorang wanita.Doyan belanja.Kalau belanja nggak ingat dunia.
Tapi yang bikin gue mundur satu langkah,oma itu menuju stan-stan yang menjual pernak-pernik usia tujuh belasan.Sedang umurnya...
Bahkan selera oma sama dengan Afry.
Oma memilih sebuah tas tangan—yang kayaknya Afry punya. Afry itu selalu up to date.Jadi orang-orang belum punya, dia udah punya.Dan pokoknya selera oma sama banget deeh.Dan satu sifat oma yang sama dengan Afry yang bikin gue gerah—dia yang belanja,gue yang disuruh dorong troli kemana-mana.
Tapi gue lebih seneng datang ke mall bareng kakak gue. Dia nggak terlalu memalukan.Sedang oma sungguh sangat memalukan!
Ini lebih parah dari Afry.Sejak sampai pukul tiga sore di mall itu,hingga pukul delapan malam oma belum menyelesaikan berburu baju itu.Itu yang bikin gue senewen.Gile aja,udah lima jam di mall itu.Itu saja oma belum puas.Katanya masih banyak stan-stan pakaian yang lebih bagus.
Jadi seluruh pelosok mall ditelusuri oma dengan belanja ini itu. Sekarang sudah pukul sepuluh malam.Papah dari tadi udah bolak-balik telpon aku,tanya kapan pulang,Sepertinya akan susah deh,Oma nggak mau diajak pulang.
Akhirnya jam sebelas oma keletihan.
Kami makan disebuah restoran mahal.
“Oma udah puas?”
“Udah.Oma capek banget.Habis ini kita pulang ya..”
“Ya teranglah oma..Sekarang udah jam sebelas.Kalau gitu biar nanti Gebriel yang nyetir.” Habis makan malam,Oma udah nggak punya tenaga,kami keluar dari restoran itu,dan tentunya gue yang dorong dua troli besar itu.
Penuh dengan pakaian.
Saat sampai rumah—seluruh anggota keluarga aku ngumpul diruang tamu.Menanti adakah suatu kejadian padaku dan oma.
“Mami..” teriak mamah.Oma terlihat cape sekali.
“Gebriel,nggak terjadi sesuatu?” tanya papah.
“Nggak kok pah,liat aja kondisi mobil papah,”
Papah mengangguk percaya padaku. Kedua kakakku—Reanan yang tampan dan Afry terlihat ngantuk-ngantuk memandangi aku.
“Gebriel,karena kamu udah bisa jaga oma kamu,ini…” mamah memberikan sebuah kunci mobil.Kunci mobil kebanggaanku.Gue udah tersenyum kegirangan!Yea..Gue menang!
“Bagaimana perjalanannya,Oma..” tanya mamah pada maminya yang ada dipelukkannya,
“Sangat menarik,Regina,mengajak Gebriel jala-jalan lebih menyenangkan dari pada mengajak Pak Ju`eng yang selalu mengeluh dan nggak enak diajak bicara.” Kata Oma ditengah keletihannya.
Oma..Oma..Sebenarnya gue juga sekarang tahu, betapa kasihannya Pak Ju`eng yang selalu menemani oma jalan-jalan.Pasti menyusahkan!
Tiba-tiba oma ngomong,
“Gebriel,kapan-kapan kita jalan lagi,ya, cuy…” wahahahaaa...
Seluruh keluarga ketawa. Gue yang merinding!
“TTTTIIIIDAAAAAKKK……..”
[tamat]
MELELAHKAN !! Pikir gue, nemen`in kakak belanja adalah hal yang paling menyebalkan, melelahkan—dijamin membosankan kata gue lebih lanjut.Namun urung gue ungkapkan! Kalo kakak tahu—bisa-bisa dia tidak akan traktir gue lagi.
Nama gue Gebriel Marsha Angelus.Sekarang gue lagi di mobil.Kakak gue duduk manis disamping gue.Dia kayaknya puas m`borong belanja`an.Bayang`in hanya dalam waktu empat jam dia udah bisa borong sampe dua troli.Gile`kan kakak gue satu itu...
“Adek,makasih ya,Mau nganterin kakak...” katanya. “Iya nggak apa-apa kok. Lagi`an lumayan—bisa ditraktir minum kopi.” Jawab gue males.Sebenernya alasan gue mau nganter dia—cuma agar bisa makan gratis plus keluar rumah!
“Yee..Kok gitu siih, dek!” Afry terlihat menyeruput es cream.Akhirnya di mobil itu kami terdiam.Sibuk masing-masing.Afry asyik dengan ponselnya—gue konsentrasi sama jalan.Nama kakak gue itu Nathalie Afryani.
Tak lama—kami sudah sampai rumah.Terlihat Pak Ginan membukakan pintu gerbang. “Makasih, ya, Pak!” kata gue. Mobil pun gue masukin ke garasi. Disaat itulah, terdengar suara, suaranya kakak gue,Afry.
“Pak Ginan,tolong masukin belanja`an aku ke kamar ya...” ujar gadis manis itu.Dia sekarang kuliah di Univ.Indonesia jurusan Management Akuntansi.Sedang gue,masih duduk di kelas 2 SMU.
Dasar Afry! Sukanya perintah saja.Dia malah nyelonong masuk kerumah.Kasihan Pak Ginan membawakan belanjaan dia yang sumpah! Banyak banget.
Gue masuk kerumah,ada cowok yang cukup ganteng duduk di ruang tamu—dia sama sekali nggak memandang kedatangan gue. Cowok itu justru asyik mengutak-atik note booknya.
Dia Reanan.Reanan Defrindo. Kakak gue juga—dia udah kerja,udah punya tunangan malah.
“Gebriel—kemana aja sih,lo..Lama banget pake mobil!” bentak Reanan yang akhirnya memalingkan pandangan dari laptopnya.Mampus gue...Tadi gue sama Afry emang make mobilnya Reanan, kita janji cuma make dua jam.Tau`nya molor jadi empat jam.Maklum hobi belanja`nya kak Afry yang berlebihan.
“Yaah..Maaf`Kak!Habis kayak kakak nggak tahu sifatnya Kak Afry aja.Dia kalo udah masuk mall—udah lupa dunia!” jawab gue lalu gue duduk deket`in kakak sulung gue itu.Tiba-tiba muncul suara!
“Ngawur! Ngawur tuh`kak...” teriak Afry,yang rupanya berada di dapur. “Adek!Ngomong apa`an sih..” komplen Afry sama gue. Gue pura-pura nggak denger aja! Afry kemudian menghampiri kami.
“Dek,emang mobil kamu kenapa?” tanya Kak Reanan sama Kak Afry. “Itu,mobil aku dibawa kebengkel.Emang kakak mau kemana?” sedang Reanan nggak nanya keberadaan mobil gue—karena dia tahu pasti, nyokap nyita mobil gue, karena dua hari yang lalu gue diskors dari sekolahan.Karena gue cabut. Makanya dua hari ini gue diem aja—mati kutu kalau nggak ada mobil.
“Mau kegereja.Mau ada rapat mudika.” Jawab Reanan. Gue sok cuek gitu—ambil remote terus nonton tivi aja.Bodo amat. “Ya udah sana berangkat!” kata Afry dia duduk disela-sela gue sama kak Reanan.Dasar!
“Ya udah deh.” Kak Reanan bangkit berdiri. “Dek,sele- sai`in tugas kakak dong.” Pinta Reanan pada Afry. “Tugas apa Kak?” Afry menyeruput segelas juice lemon.Kak Reanan duduk lagi.Dan menjelaskan beberapa hal—gue nggak tahu pasti sama kak Afry.
“Ya udah deh, Dek, bilang mamah kakak berangkat ke gereja...” kata Kak Reanan. “Iya..” jawab Kak Afry.Gue`mah sedari tadi diam saja.Kakak sulung gue menghilang begitu saja dan terdengar deru mesin mobil keluar dari rumah.Gue asyik nonton tivi.Sedang kak Afry melanjutkan tugas kantornya kak Reanan.
Selang beberapa menit—muncul papah.Beliau nggak kerja karena memang hari ini hari Minggu.Dia tidak mengenakan setelan jas keren,seperti yang biasa beliau pergunakan,melain- kan hanya mengenakan kaos oblong dan celana selutut.
Beliau melewati kami kedua anaknya.Diam saja.Makanya gue diem`in aja.Tampaknya papah menuju dapur.
Beliau melewati kami untuk kedua kalinya.Akhirnya Afry yang menyapa dulu`an.Lebih parah—Afry mendekati papah dan memberikannya sebuah ciuman selamat siang.
“Siang papah...” senyumnya.
Yaah..memang masih pukul dua belas siang.Dan kalian tahu jam dua belas siang sudah dipergunakan kak Afry memborong pakaian.Dan perlu kalian ketahui—papahku itu kalau libur bangun bisa sampai jam dua siang.
“Siang sayang...” papah dan Afry duduk disebelahku.
“Kamu katanya mau belanja—Ry..” kata papah pada Afry.
“Sudah pah,,”
“Dianter siapa,sayang?Pak Ju’eng`kan sedang sakit?” Pak Ju’eng adalah supir kami.Biasanya papah tidak membiarkan putri semata wayangnya—Nathalie Afryani kemana-mana seorang diri. “Dianter adek`ku tersayang..pah! Gebriel...”
Papah menatapku. “Gebriel...tumben mau anter kakakmu ke mall..?” papah bergidik heran.Gue senyum aja. Terus gue jawab, “Yaah..Papah..Mobil Gebriel`kan lagi disita.Jadi nggak bisa kemana-mana.Makanya waktu kak Afry ajak jalan-jalan, why not?” gitu jawab gue.
Papah mengangguk mengerti. “Makanya,Briel,jangan bikin ulah disekolah.Tuuh`kan akibatnya mobil kamu disita mamah.”
“Iya. Nggak lagi.Pah.” males deeh. Lalu Afry berkata,
“Iya pah...Makanya papah tolong bujuk mamah untuk ngasih kunci mobilnya Gebriel.Kasihan adek`pah...Adek`kan udah baik mau anter aku ke mall...” pinta kakakku itu. Yang sumpah! Begitu dia ngomong kayak gitu ke papah—gue sangat bersyukur dilahirkan sebagai adik dari Afryani.
Afryani`kan memang anak kesayangan mamah papah.Mak lum anak cewek satu-satunya.
“Iya pah.Tolong aku..” kataku menambahkan.
“Iya..iya..Nanti mamah kalian akan papah bujuk.Udah`ah papah mau mandi dulu.Habis ini papah harus datang ke perkawinan rekan bisnis papah.” Papah terlihat berdiri dari tempat duduk dan menuju kamarnya—mandi barangkali.
Sepeninggal papah,
“Kak,Thx ya...” kata gue malu-malu.
Dengan anehnya—kakak gue itu langsung meluk gue,emang nggak lama siih—tapi bagi gue—risih banget.
“Sama-sama dek.Tapi,kapan-kapan anter`in kakak belanja lagi yaah.” Pintanya. “Ogah ah.Menderita belanja sama kakak.Disuruh dorong troli.” Canda gue. Kami tertawa.
Papah sudah kembali ke kamarnya.Gue ngelanjut`in acara nonton tivi.Kak Afry melanjutkan tugas yang disuruh Kak Reanan.Kami udah berada dikondisi nggak ada yang saling bicara.Sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Gue lihat mamah keluar kamar masih mengenakan kimono tidurnya—beliau nggak menghampiri kami kedua anaknya,tapi justru menuju kamar oma kami.
Oh iya,gue lupa bercerita.Selain dengan dua kakak gue—gue juga tinggal dengan Oma.Beliau ialah maminya mamah. Beliau memang sudah berusia senja—tapi sumpah! Oma`tuh gaul abes.. Omongannya aja gue-elo.Keren banget nggak sih Oma gue itu. Tapi Oma itu kadang menyusahkan. Maklum saja orang sudah tua.
Kalian tahu—band kesukaan Oma gue yang berusia enam puluh satu tahun itu—Corn sama My Chemical Romance, yang sumpah! Anak muda abis,yang bunyi sound systemnya meledak-ledak! Dan yang paling gue kesel`in Oma sama gue sama-sama suka sama Simple Plan! Dan itu yang gue nggak terima.
Yaah.Gue`sih maklum aja—udah tua.Oma sudah ditinggal Opa setahun yang lalu.Opa meninggal gara-gara gagal ginjal. Padahal Opa adalah orang yang paling gue sayang.
Yang gue lihat kemudian mamah keluar bersama ibunya. Tapi bukannya saling peluk—justru malah bertengkar.Tidak ribut besar sih—tapi cukup membuat rumah heboh.Oma`kan kalau teriak bisa mengalahkan auman tarzan.Hehehehee..
“Mami, kan bisa lain kali..” mamah tampak sabar melayani ibunya.Gue sama Afry berpandangan.Oma keluar dengan penampilan ngejreng abis.Pakai syal pink—celana jeans yang lagi digandrungi oleh Afry.Apa Oma nggak sadar bahwa giginya yang sudah tanggal melebihi lima?
“Nggak. Regina, dengar mami! Mamimu ini masih sehat! Mami mau jalan-jalan.Sekarang.Titik!” bentak Oma.
“Tapi mam,sekarang mami ada janji sama dokter Hendi,”
“Bisa dibatalkan,sweety`ku..” Oma menenteng tas yang kayaknya sama persis sama milik Afry.Ya gue ingat!Afry beli tas bertuliskan “QUEEN 17th” itu sebulan yang lalu.Tapi mustahil itu milik Afry.Afry tergolong pelit untuk meminjamkan barang yang baru dibelinya.Tapi dapatkah kalian bayangkan Oma yang berusia 61 tahun itu menggunakan tas yang bertuliskan seventeen?
“Mami juga bisa`dong membatalkan kepergian mami! Kasihan dokter Hendi,mami...”
“Ooh.Kalau begitu—ini mami akan telpon dokter Hendi,” Oma berbuat sinting.Dia mengeluarkan Hp PDA-nya dan bersiap menelpon.Kalian bisa bayangkan Oma yang cukup ‘maaf’ ‘rabun’ itu menggunakan PDA senilai 13juta.Kalian jangan salah sangka—cita rasa Oma memang tinggi.Dia`mah ogah pakai ponsel yang cuma lima juta`an.Oma`ku itu memang langka!
Mamahku mencegah hal itu terjadi.
“Masalahnya itu,mi.. Pak Ju`eng sakit.Dia nggak masuk hari ini.”
“So`what?” dapatkah kalian bayangkan, Oma`ku, ya Oma`ku, Oma Tja Jung Hun, yang dalam nama Indonesia Oma Voni, yang mengatakan, “so what”.
Aku dan Afry yang duduk diruang tamu saling berpandang an.Afry berkata penuh keheranan, “Sumpah!Oma kita itu lebih gaul dari pada kita,” kata Afry.Gue mengangguk setuju.Lalu gue ngomong, “Kak,tas yang dipakai Oma itu mirip kayak tas kakak,”
“Memang,sama persis.Tapi itu bukan punya kakak.Enak aja tas gue dipake-pake.Lo harus tahu,Gebriel,tas itu limited edition hanya ada lima buah di dunia.Gue beli itu jutaan sama temen gue yang di Paris—kota mode.Dan begitu mengerikan bukan,bahwa satu dari empat buah yang lain dibeli oleh seorang nenek berusia enam puluh tahun..” kata Afry tercengang-cengang.Sedih barangkali dia.Dia sama sekali nggak suka—ada yang nyama`in kepunyaannya.
Afry menghela napas,sesaat kemudian dia berkata, “Oma kita memang keajaiban alam.Satu banding seribu dibanding oma-oma yang lain diseluruh dunia,”
Kembali kepertengkaran mamah sama Oma.
“Karena Pak Ju`eng nggak ada. Nggak ada bisa anter mami,mami ngerti dong..” mamah Regina kasihan—terlihat putus asa menghadapi ibu kandungnya.
Muncullah papah.Kini sudah mengenakan batik yang indah sekali.Beliau telah siap menuju perkawinan temannya.Seperti- nya papahlah yang akan menengahi pertengkaran itu.
“Ada apa ini? Mamah..Mami..”
“Begini pah,mami bersikeras mau jalan-jalan.Tolong dong papah kasih tahu—jangan sekarang.Mami hari ini harus check up sama dokter Hendi.” Jelas mamahku.
Oma menyela, “Andri,mamimu ini cuma mau jalan-jalan. Mami bosan dikurung dirumah.Lagipula, Hendi nggak akan marah kalau cuma mami membatalkan janji,”
Papah terdiam.
“Tetapi pah,Pak Ju`eng lagi sakit.Nggak bisa nemen`in mami jalan-jalan.Kita nggak mungkn tega biarin mami keluyuran sendirian tanpa pendamping`kan?” kata mamah.
Papah masih terdiam beberapa saat.
Sampai akhirnya papah berkata,
“Ya sudah kalau keinginan mami jalan-jalan.Kita bolehkan saja.” Mamah menyela, “..tapi..” Papah memotong, “Biar diantar Reanan!”
“Pah,kakak ke gereja.Rapat mudika.” Tiba-tiba Afry menyela.Afry masih duduk tepat disamping gue.Kami masih life menyaksikan nontonan heboh itu.
“Andri..Mami berani sendiri kok,” papah nampaknya nggak menghiraukan omongan Oma.
Lalu mamahku—ya ibu kandungku—mamah Regina punya ide yang benar-benar buruk bagi gue,
“Biar mami diantar sama Gebriel...”
DHHUARR!!
Sumpah! Seakan Gunung Merapi meletus saat itu juga.
Mereka semua langsung memandangiku yang tepat berada didepan hidung mereka.Ingin rasanya gue ngumpet dibalik gorden,tapi kayaknya mustahil.
“Apa??!!” teriak gue nggak percaya.
“Iya betul juga.Kasihan Oma,dek,” kata Afry.
“Ya udah.Oma biar diantar sama Gebriel,” kata papah.
“Tapi..Tapi..Gebriel mau istirahat sekarang,” kayaknya omongan gue sia-sia.Yang lain tidak menghiraukan.Akhirnya mamah ngomong begini, “Gebriel,kalau kamu bersedia nemen`in Oma hari ini saja—mamah berjanji akan mengembalikan kunci mobil Gebriel.”
Mata gue melotot. “Iya..udah..sana..Dek,anterin Oma jalan-jalan.Mobil kamu bakal balik,” Afry menyemangati gue yang nyaris pingsan ini.Gue benar-benar nggak bisa bayang`in apa yang akan terjadi sehari ini.
“Baiklah..” saat gue ngomong kayak gitu—seolah semua otot-otot persendian gue langsung melemah.
“Ya sudah,mami mau berangkat dulu,Andri,mana,,pinjam kunci mobilmu..” papah,mamah,Afry termasuk gue terheran-heran atas permintaan Oma.
“Apa??Mami naik mobil mami saja—atau naik mobilnya Gebriel.Masalahnya—aku sama Regina mau ke perkawinan teman aku,Mam..” kata papah melemah.Sepertinya papah nggak rela mobil mewahnya dipergunakan Oma.
“Sudahlah,Andri.Tiap hari mobil itu juga kau bawa ke kantor.Mami cuma mau pinjam hari ini saja—cepat kasih kuncinya ke Gebriel! Kamu`kan juga bisa pakai mobil anakmu, Gebriel atau mobil istrimu...” perintah Oma.
Papah kalah telak.
Beliau mendekatiku.Dan memberikan kunci mobil jaguar- nya sama gue—setengah berbisik, “Briel,hati-hati ya pakai mobil papah.Kalau rusak atau terjadi apa-apa—mobil kamu akan benar-benar papah jual.”
DHHUARR!!
Huh! Kok jadi seperti ini sih..gue juga takut setengah mati.Nanti kalau benar-benar kecelakaan bisa-bisa gue naik bus kesekolah.Tidak! itu tidak boleh terjadi.
Dengan santainya—Oma mendahului kami menuju garasi, dan dengan tanpa dosa Oma berteriak, “Gebriel,bukakan pintu…”
Dengan lemas—gue menuju garasi.Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini.Papah,Mamah,serta Afry menuju depan rumah memastikan Oma bawel itu pergi meninggalkan rumah.
Gue udah masuk mobil,Oma duduk disamping bangku penyupir.Bahkan—Oma sempat-sempatnya Oma berteriak yang membuat satu rumah terheran-heran nggak percaya.Oma tanda rasa bersalah, berteriak begini, “Eh,guys,gue cabut dulu ya…” gimana nggak bikin mau pingsan! Apalagi gue yang tepat berada disampingnya.
Memikirkannya saja sudah mau muntah.
“Gebriel,jalan..” sungguh—kalau tidak memikirkan demi mobilku,aku nggak rela diperintah layaknya seorang driver sama oma gue itu.Tapi—well,baiklah pengecualian hari ini.
Mobil mewah itu gue jalanin lumayan cepat.Kata bokap gue harus hati-hati,wajarlah bawa mobil mewah macam Jaguar daripada mobil gue dijual.Gue lebih baik mati daripada nggak ada mobil itu.
Baru keluar komplek—oma komplen untuk kedua kalinya.
“Briel,cepat sedikit dong—lamban benar!”
Busyet.. Oma-oma wajar lain`mah adanya minta agar mobil berjalan hati-hati.But,pengecualian oma`ku itu.
“Iya oma,ini`kan masih jalan komplek,” sanggah gue.
“Otreh,Oma ngerti maksud you.Tapi kayaknya elu kapan-kapan harus ikut oma ke Sentul.Disono`noh kite bisa ngetrek sepuasnya! Otreh..” Ooh.Oma nyaris bikin gue pingsan ketiga kalinya.
“Ye...Oma,Sentul doang—Gebriel juga sering kesana sama temen-temen aku…” rese nih`Oma..
Oma hanya berkata Ooh.Lalu gue tetep mengemudikan mobil itu.Sebenernya gue juga nggak tahu harus dibawa kemana mobil itu,tapi terserah gue aja mau kemana.Oma paling nggak ngomel.
Saat gue mbelokin mobil kekanan—tepatnya ke arah Pejaten—tiba-tiba Oma teriak dengan kencangnya gitu deh.
“Stop—stop,kita salah arah.Putar balik,”
“Maksud Oma?”
“Ya putar balik!Cepat sebelum tekanan darah Oma naik!”
Gue nggak berani bantah.Gue ikutin apa mau nenek itu. Berilah aku kesabaran ya Tuhan.Demi mobil kebanggaanku.
“Stop!Stop!Stop Gebriel!” kini teriakan Oma lebih kencang.Gue kaget,salah gue apa lagi?Soalnya gue udah putar balik mobil itu.Tapi sepertinya itu kurang bagi Oma.
“Kenapa Oma…?” gue bingung banget saat itu.
“Cepat!!!” Oma makin bikin gue merinding. Akhirnya gue pinggirin kesebuah trotoar.Aduduh ada apa niih..Gue cuma ngerasa keringat dingin keluar dari pelipis gue.
Oma tiba-tiba keluar mobil.Entah apa.Gue pandangi Oma gue yang aneh itu.Lalu dia mendekati gue,kursi kemudi.Beliau kemudian mengetuk-etuk kaca mobil.Kaca pintu kemudian gue buka.
“Kenapa sih,Oma?” tanya gue penasaran.
“Turun!!” teriaknya dari luar.Hei..apa dia tak salah.Aku ini cucunya.Kenapa ia usir?Sumpah waktu itu gue benar-benar nggak bisa berpikir panjang,kayak terhipnotis.Gue turut`in tuh perintah nenek-nenek yang sok gaul.Nggak ingat umur.
Yang gue lihat justru setelah gue keluar mobil justru dia yang masuk kemobil.Masuknya bukan ke`jok mobil belakang. Tapi ke`jok pengemudi mobil.Whats??Sumpah itu bener-bener bikin gue basah keringet.
Apa nggak salah nenek-nenek usia enam puluh tahun mau mengendarai mobil? Sebenarnya——jangan kaget.Oma gue itu bisa nyetir.Dia dibelikan papah sebuah mobil yang nggak tanggung-tanggung—Honda CRV.Oma`ku itu nggak mau barang yang murah melekat pada dirinya.
Well,kalau CRV bolehlah.Bahkan untuk usia nenek enam puluh tahun saja—CRV itu kemahalan.Seharusnya nenek-nenek itu mengendarakan kursi dorong.Tapi nenek belagu itu minta mengendarai Jaguar! Gimana nggak bikin puseenk satu keluarga!
Kembali kemasalah tadi.Gue nyaris mati berdiri lho...
“Oma..Oma..Buka..” gue nyoba menyadarkan nenek itu dengan mengetuk-entuk kaca mobil.Kaca mobil depan terbuka, Oma berkata,
“Gebriel,masuk! Kalau nggak Oma tinggal!” ancamnya.
Gue ambil langkah seribu lalu gue masuk ke jok depan samping kemudi.Bayang`in nggak sih—gue ini usia 18 tahun seharusnya yang menyetir mobil itu aku—kenapa justru Omaku? Pembaca—dapatkah kalian menjawab pertanyaanku itu dengan alasan yang logis dan dengan rumus yang dibakukan oleh Standar Internasional?
Mobil mewah punya bokap terasa berjalan.Tentu saja berjalan,Oma yang mengemudikan,tapi selama 18 tahun aku tinggal dengan Oma,baru sekali ini yang namanya mobil disetir oleh Oma-Oma.Padahal disampingnya masih ada daun muda.
“Oma..Oma..Maksud Oma apa sih?”tanya gue kebingungan
“Oma nggak bermaksud apa-apa..”
“Tapi,kenapa Oma yang nyetir?Kan ada Gebriel...Biar Gebriel aja yang nyupir,nanti biar Gebriel ajak Oma jalan-jalan ke tempat yang Oma mau.”
“Nggak Gebriel sayang,Oma bisa nyetir kok tenang aja!!”
But,tiba-tiba,
Wusss...Wusss...Wusss...Wusss...
Mobil jaguar itu melaju dengan sangat kencang! Waa... Walau gue udah pakai selt belt,gue nggak yakin bisa bikin nyawa gue selamat! Soalnya tiba-tiba Oma nancap gas—nggak kira-kira dan itu kenceng banget...
“Oma...Oma..Pelan`in…”Teriak gue ketakutan.
“Tenang aja—Gebriel Oma sering latihan di Sentul...”
“Oma,Ini jalan besar—bukan sirkuit!!!” teriak gue lagi.
Oma nggak jawab omongan dia.Gue udah keringat dingin banget itu.Bayang`in Oma`kan udah agak rabun—terus kalau nyupir mobil kenceng-kenceng bisa tabrakan!Bisa nganter nyawa! Ooh. Tidak! Yang lebih mengerikan lagi—bagaimana kalau nanti papah tahu bahwa mobil mewah kesayangannya tabrakan?Papahkan selama ini sangat menyayangi mobil Jaguar itu.Nanti bisa-bisa mobil gue bakal dijual.
Ooh.Tidak.Ini harus dicegah.
“Oma!Oma!Pelan`in Oma.Nanti tabrakan,”
“Nggak akan Briel…” teriak Oma.
Mobil masih melaju diatas kecepatan rata-rata.Dan kadang cara menyetir Oma itu sangat mengerikan! Kenapa`sih Oma dapat SIM?Pasti SIM nembak.
“Oma..Plis,biar Gebriel aja yang nyetir.Nanti kalau kecelakaan,Gebriel yang dimarahi papah gara-gara nggak bisa jaga mobil ini.Oma..Plis oma,ini mobil kesayangan papah.Jang- an nekat…” gue udah nyaris nangis.Nggak bisa membayangkan mobil gue bakal disita.Dan gue—pamor sebagai seorang Gebriel Marsha Angelus akan turun pangkat.Gue akan kemana-mana naik bus.Mengerikan bukan?
Oma nggak menjawab.
Dan kalian tahu—sepanjang perjalanan gue hanya nutup muka dengan tangan,sambil dalam hati berdoa Salam Maria. Semoga gue masih disayangi Tuhan dan semoga umur gue masih panjang! Dan kalian tahu—sepanjang perjalanan itulah hampir terjadi tabrakan lima kali,salah jalan tujuh kali,putar balik dua kali,putar-putar dijalan yang sama enam belas kali,hampir nabrak kucing tiga kali. Gila`kan?
Kalo gue yang megang—pasti bakal dari tadi udah sampe. Nggak mungkin dua jam nggak sampe-sampe dan hanya berputar disitu-situ saja.
Dan sepertinya doa gue dikabulkan.
Mobil jaguar itu berhenti disebuah Mall.
Yang gue tahu pasti mall itu.
“PIM?Jadi Oma dari tadi muter-muter cuma mau ke PIM?” tanya gue nggak percaya.Oma mengangguk.
“Oma,kalau oma bilang sejak awal,tiga puluh menit Gebriel yang nyetir udah sampe kita disini.Nggak harus nyasar,hampir nambrak, nggak mungkin dua jam!” bentak gue.Oma sedang mencari tempat untuk parkir.
“Briel,oma itu cuma pingin ngerasa`in nyetir jaguar,kan Jaguar mahal.Makanya oma pingin nyoba`in.Cuma itu doang kok” kata Oma memelas.
“Tapi Oma—oma ingat dong umur Oma.Umur nggak bisa dibohongi,oma udah renta,udah sebaiknya dilayani sama anak-anak oma dan cucu-cucu oma.Nanti pulang,biar Gebriel aja ya, yang bawa mobil!Takut dimarahi papah,oma..” kata gue pelan-pelan supaya oma sadar.
Kami sudah keluar dari parkir lalu menuju mall besar itu.
“Iya,nanti Gebriel saja yang bawa.Oma rasa nyetir jaguar sama CRV sama saja.”
Gue ketawa dalam hati.
Hahahahahaa...Umur memang tidak bisa dibohongi.Walau Oma sok gaul—tapi tetep lebih gaul gue.Gue tahu pasti perbedaan jaguar disbanding mobil-mobil yang lain. Jadi, gue menang 1-0 dari oma.
Saat itu kupikir penderitaanku akan berakhir.
Tapi sepertinya tidak.
Gaya sok gaul oma muncul.Dia mulai manggil gue dengan sebutan, “eh coy” atau “gue-lo” atau “eh boo” atau “yu ya yuu,” bikin gue mual aja!
Terlepas dari itu,oma memiliki sifat buruk yang sama dengan kak Afry.Doyan belanja.Dan bedanya umur Afry masih berkepala dua dan oma berkepala enam! Tapi sifat mereka sama sebagai seorang wanita.Doyan belanja.Kalau belanja nggak ingat dunia.
Tapi yang bikin gue mundur satu langkah,oma itu menuju stan-stan yang menjual pernak-pernik usia tujuh belasan.Sedang umurnya...
Bahkan selera oma sama dengan Afry.
Oma memilih sebuah tas tangan—yang kayaknya Afry punya. Afry itu selalu up to date.Jadi orang-orang belum punya, dia udah punya.Dan pokoknya selera oma sama banget deeh.Dan satu sifat oma yang sama dengan Afry yang bikin gue gerah—dia yang belanja,gue yang disuruh dorong troli kemana-mana.
Tapi gue lebih seneng datang ke mall bareng kakak gue. Dia nggak terlalu memalukan.Sedang oma sungguh sangat memalukan!
Ini lebih parah dari Afry.Sejak sampai pukul tiga sore di mall itu,hingga pukul delapan malam oma belum menyelesaikan berburu baju itu.Itu yang bikin gue senewen.Gile aja,udah lima jam di mall itu.Itu saja oma belum puas.Katanya masih banyak stan-stan pakaian yang lebih bagus.
Jadi seluruh pelosok mall ditelusuri oma dengan belanja ini itu. Sekarang sudah pukul sepuluh malam.Papah dari tadi udah bolak-balik telpon aku,tanya kapan pulang,Sepertinya akan susah deh,Oma nggak mau diajak pulang.
Akhirnya jam sebelas oma keletihan.
Kami makan disebuah restoran mahal.
“Oma udah puas?”
“Udah.Oma capek banget.Habis ini kita pulang ya..”
“Ya teranglah oma..Sekarang udah jam sebelas.Kalau gitu biar nanti Gebriel yang nyetir.” Habis makan malam,Oma udah nggak punya tenaga,kami keluar dari restoran itu,dan tentunya gue yang dorong dua troli besar itu.
Penuh dengan pakaian.
Saat sampai rumah—seluruh anggota keluarga aku ngumpul diruang tamu.Menanti adakah suatu kejadian padaku dan oma.
“Mami..” teriak mamah.Oma terlihat cape sekali.
“Gebriel,nggak terjadi sesuatu?” tanya papah.
“Nggak kok pah,liat aja kondisi mobil papah,”
Papah mengangguk percaya padaku. Kedua kakakku—Reanan yang tampan dan Afry terlihat ngantuk-ngantuk memandangi aku.
“Gebriel,karena kamu udah bisa jaga oma kamu,ini…” mamah memberikan sebuah kunci mobil.Kunci mobil kebanggaanku.Gue udah tersenyum kegirangan!Yea..Gue menang!
“Bagaimana perjalanannya,Oma..” tanya mamah pada maminya yang ada dipelukkannya,
“Sangat menarik,Regina,mengajak Gebriel jala-jalan lebih menyenangkan dari pada mengajak Pak Ju`eng yang selalu mengeluh dan nggak enak diajak bicara.” Kata Oma ditengah keletihannya.
Oma..Oma..Sebenarnya gue juga sekarang tahu, betapa kasihannya Pak Ju`eng yang selalu menemani oma jalan-jalan.Pasti menyusahkan!
Tiba-tiba oma ngomong,
“Gebriel,kapan-kapan kita jalan lagi,ya, cuy…” wahahahaaa...
Seluruh keluarga ketawa. Gue yang merinding!
“TTTTIIIIDAAAAAKKK……..”
[tamat]
rafa dan veronia
Ibu Tiri itu Sangat Baik
Ooh, rupanya Darmawan—pikir oma setelah mengangkat telepon yang ternyata dari anak semata wayangnya yang sudah memiliki seorang anak. “Mam, besok suruh Rafa untuk kerumahku yang di mangga dua ya!” katanya.
“Lho, kamu udah balik dari dari Padang ya?”
“Iya neeh, mam. Mam, maaf ya, aku nggak bilang. Disana aku udah married.”
“Apa? Menikah? Kok tidak bilang sebelumnya dengan mami? Dan juga dengan anakmu? Tidak sopan benar kau ini—tidak menghargai mami dan Rafa!!” ucap oma.
“Maaf mam. Pernikahan ini bergerak cepat. Kapan-kapan Darmawan ke rumah mami deh—Darmawan akan cerita segalanya. Tapi tolong beri tahu anakku ya. Mam!” tiba-tiba hubungan telepon terputus. Asataga!! Pernikahan itu upacara sakral. Kok, seolah Darmawan menikah tanpa pikir panjang? Dasar, tanpa memberitahu pula. Dia anggap apa aku ini? Aku ini ibu kandungnya. Yang melahirkannya. Kok menikah tanpa persetujuan dariku? Bahkan aku belum melihat menantu baruku.
Kasihan Dar—istri pertamanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Padahal itu istri yang paling dicintainya. Anaknya kala itu berumur tujuh tahun. Tapi semenjak kecelakaan itu—Dar kelihatan selalu murung. Dari dulu sudah kuberitahu untuk mencari isteri baru. Namun baru sekarang kesampaian. Dan menikah tanpa bilang-bilang. Kurang masuk diakal.
Sekarang yang jadi masalahnya ialah pada Rafa, bagaimana bicaranya bahwa ayahnya sudah menikah lagi? Dia mungkin sudah sedikit lupa dengan wajah ayahnya. Karena kalau ngga salah terakhir berjumpa setahun yang lalu. Dar selalu keluar kota. Rafa, Rafa, cucuku—semoga kau bisa cocok dengan ibu barumu.
“Rafa, Rafa, kamu dimana, sayang?” tanya oma pada seluruh rumah. “Sedang main basket didepan, oma!” jawab salah satu pembantu. Oma menuju depan rumah. Dan benar, ada kira-kira empat orang asyik mendribel bola masing-masing. Di depan rumah oma dipasang ring basket karena Rafa amat suka basket. Padahal usianya baru 12 tahun.
“Rafa, kemari..” panggil oma. Rafa menghindar dari temannya dan mendekati oma. Rafa selama ini tinggal dengan omanya.
“Ada apa, Oma?” tanya Rafa sambil terus mendribel bola.
“Kamu besok kerumah papa kamu yang dimangga dua, ya?”
“Untuk apa?”
“Oma baru ditelpon papa kamu. Papa kamu sudah menikah di Padang, sekarang kamu harus bertemu mama baru kamu. Besok kamu ijin aja nggak masuk sekolah dan ke rumah papa.” Rafa nampak termenung. Muka ayahnya dia sedikit lupa. Tapi biar cepet, dia jawab aja.
“Beres Oma.” Dan menuju temannya.
“Bokap lo udah punya istri? Bagus dong, sekarang berarti lo udah punya ibu. Dan lo nggak bakal diketawa’in anak-anak lagi.” Ujar Vanadi temannya yang baik abis deh—dan keren main basketnya. Bahkan Vanadi juga pelatih gratis Rafa.
“Yoi. Sekalian—besokkan ada pelajarannya Pak Iyan. Gue besok bolos dong!” ujar Rafa bangga. Kemudian dua temannya Dimas dan Jerry ikut tertawa.
Pukul enam, tiga teman Rafa udah pulang. Rafa masih asyik mendribel bola sampai kamarnya. Begitu masuk—anjing kesayangannya menjulur-julurkan lidah dan menggoyang-goyangkan buntutnya yang putih bersih itu—tanda mengajak bermain majikannya.
“Aduh, sory ya friends—Rafa hari ini capek banget neh, besok aja ya, mainnya.” Rafa yang baru kelas 1 SMP itu merebahkan diri keranjang. Semilir udara AC amat terasa. Akhirnya anjing yang bernama Smooky itu tidur disamping ranjang.
Wah, berarti gue besok bakal ketemu nyokap baru. Gimana yah—ibu tiri’kan identik dengan yang jahat-jahat, gimana kalo nyokap baru gue galak? Gimana kalo papa ntar udah nggak sayang sama Rafa? Gimana kalo ntar Rafa disuruh tinggal di rumah sana, nggak bareng oma lagi. Rafa udah sayang banget sama oma. Rafa udah sayang dengan Bekasi. Temen-temen Rafa disini semua. Alfon, Vanadi, Gunawan, Dimas banyak deh. Juga Dresty. Gebetan gue.
“Ingat ya, Fa. Kamu turun distasiun mangga dua. Terus dari sana kamu naik taksi lalu beri alamat rumah ayahmu. Kamu punya kartu nama papa’kan?! Kamu jangan sekali-kali mengeluarkan dompet, Hp atau barang berharga lainnya di kereta.” Rafa mengangguk. Iya, oma. Rada sebel punya oma sebawel itu, tapi oma berjasa banget bagi hidup gue.
Salahnya oma terlalu khawatir sama gue. Gue’kan udah SMP, udah gede. Rafa menaiki ojek untuk ke depan komplek. Baru sesudah itu naik angkutan umum menuju stasiun Bekasi.
Lalu Rafa membeli tiket kereta ekspres ke tujuan kota. Kebetulan kereta ekspres kala itu sepi. Jadi aman-aman saja. Nggak perlu takut-takut mengeluarkan Hpnya atau barang-barang berharga lainnya. Tidak banyak hal yang dilakukan Rafa di kereta express itu. Habis orang-orang disekelilingnya tidak ada yang dikenal. Selain itu duduknya berjauhan. Lalu sekitar empat puluh lima menit kemudian ada suara berdengung, dari gerbong terdepan.
“Stasiun berikutnya stasiun Mangga Dua. Bagi yang hendak turun dipersilahkan mempersiapkan diri dan jangan sampai ada barang tertinggal. Terima kasih..” itulah pemberitahuan.
Setelah mendengar itu, Rafa meyakinkan dirinya bahwa dia harus turun di stasiun ini. Maka dia mempersiapkan diri, dan berpindah tempat duduk ke tempat yang dekat dengan pintu. Lalu tak lama, kereta mulai beranjak berhenti. Kemudian pintu secara otomatis terbuka.
Rafa keluar. Memang disinilah harusnya dia turun. Hah, tenangnya. Kalau udah sampai disini, gue sih tenang-tenang aja. Udah nggak usah takut kesasar lagi. Soalnya tinggal kasih alamat ke supir taksi terus tinggal sampai. Rafa kemudian mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan dua puluh ribuan dan membeli beberapa snack ringan ke sebuah kios makanan.
“Beli taro ukuran besarnya dua, fruit tea rasa mango, juga pepsi bluenya.” Dan memberikan uang itu. Mata anak kelas 1 SMP itu melihat di kios itu juga menjual hot dog dan pizza ukuran kecil.
“Sama hot dog, dan pizza ukuran sedang ya, satu!” lumayan bisa dimakan waktu di taxi. “Hot dog sama Pizza-nya yang panas ya..” tambahnya lagi. Si penjual makanan memberikan kantung plastik berisi taro ukuran besar serta minuman pesanan Rafa. Sementara 2 pesanan terakhir sedang dibuatkan.
Makanan itu dimasukkan ke tas ranselnya. Tidak lama berlalu 2 pesanan itu datang. Dan tanpa menunggu sampai taxi dia mulai memakan pizza. Ketika melewati suatu kios majalah, Rafa berhenti. Melihat-lihat ada majalah bagus nggak ya..
“Pak, saya beli animonster no.99 dong, terus majalah GO-nya ya..” pak tua itu memberikan kedua majalah yang diminta Rafa. Dan rafa memberikan uang sebanyak tiga puluh ribu. Dan dia berkata lagi, “Sama komik Conan no.68-nya..” pak tua itu memberikan komik itu dan memberi uang kembalian.
Barang yang diinginkan Rafa terpenuhi. Di taxi bisa makan sambil baca majalah pasti enak. Jaga-jaga kalau udah sampai gue dicuekin bokap. Gue bisa baca komik deh. Rafa jalan-jalan sebentar mengelilingi stasiun itu. Majalah-majalah yang baru dibelinya dimasukkan ke tas. Dan di tangannya hanya memegang pizza yang sedang dimakan.
Rafa udah cape, kemudian mencari taxi namun sepertinya seluruh taxi di stasiun itu penuh semua. Hingga ada petugas stasiun menghampiri anak yang terlihat mencari-cari sesuatu.
“Mencari sesuatu, dek?” tanyanya ramah.
“Taxi pak. Saya mau naik taxi. Tolong carikan..” tuan ramah itu tersenyum dan lewat walkie-talkie nya menghubungi kepala pusat stasiun. “Taxi..taxi.. kami butuh taxi segera, segera antarkan ke pintu 8 stasiun..” dan berkata lagi pada Rafa, “Tenang ya dek, sedang dipanggilkan..
Taxi biru itu datang, Rafa disuruh masuk. Dan anak itu duduk di kursi depan samping supir. Taxi mulai jalan, “Mau kemana, dik?” tanya sang supir. Rafa merogoh isi tasnya dan mengeluarkan kartu nama ayahnya, “Ini pak. Tolong ke alamat ini..” supir itu mengamati sebentar kemudian tersenyum sepertinya sudah tau dimana alamat itu. “Baiklah..”
Pizza itu sudah habis. Rafa kemudian meminum fruit tea rasa orange. Juga sembari makan taro ukuran besar. Juga Rafa memakan hot dog-nya. Hebat tiga makanan dalam satu waktu. Kedua pria di taxi itu tidak saling bicara. Hot dog itu akhirnya habis. Namun taronya tidak. Kan ukuran besar.
“Pak, alamat itu masih jauh tidak?”
“Masih cukup jauh dik.” Jawab tuan itu, “Tenang aja pak, saya punya uang untuk bayar kok.” Supir itu tertawa renyah. Karena masih jauh Rafa kemudian membaca majalah animonster no.99 yang baru dibelinya. Dan membolak-balik halaman demi halaman.
“Hallo, Dresty.. ini gue Rafa” Rafa mengeluarkan ponsel 7610-nya dan rupanya menghubungi gebetannya. “Udah beli Animons belum? Keren deh.. gue baru beli,” “Isinya ada gundam seed, sailor moon juga kesukaan lo, DN. Angel, bonusnya poster Niwa Daisuke sama Riku Harada lagi berpelukkan. Bagus deh,” katanya
“Ooh, lagi istrahat ya.. sory hari ini gue bolos. Gue pergi ke rumah bokap gue di Mangga Dua,” “Dres, kalau ada PR kasih tau Rafa ya!” pinta Rafa. “Eh, Dres udah dulu ya, salam aja buat Vanadi, Dimas sama Jerry.” Kemudian hubungan telepon terputus.
Dan Rafa kembali melihat-lihat majalah yang berisi anime japanesse itu. Sambil memakan taro dan fruit tea-nya. Rafa mengeluarkan dompetnya dan melihat sisa uangnya. Tadi oma ngasih Rafa 350 ribu. Buat ongkos naik angkutan umum dua ribu naik kereta lima ribu, jajan.. tadi Rafa jajan berapa ya.. pokoknya oma Cuma jatah lima puluh ribu. Tinggal naik taxi. Pokoknya cukup deh..
Dompet itu dimasukkan lagi kesaku belakangnya. Kemudian terdengar lagu “Helena” nya My Chemical Romance.. itu adalah dering hp kedua Rafa. Bukan yang 7610 tapi ponsel comunicater 9500. rupanya dari oma. Pasti cemas deh.. oma’kan terlalu khawatir.
“Iya oma, ini Rafa, tenang aja Oma. Rafa udah turun dari stasiun Mangga Dua sekarang Rafa udah mau sampai. Lagi di taksi.” Oma kemudian memberikan ceramahnya yang panjang lebar. Akhirnya selesai juga.
Ceramah itu berakhir juga. Rafa melanjutkan membaca Animonster. Sekitar sejam kemudian pak supir itu berkata, “Dek, kita sudah hampir sampai. Ini udah masuk komplek..” Rafa mengamati komplek perumahan ayahnya. Nggak ada rumah yang nggak besar dan nggak ada rumah yang nggak gede. Rafa sampai takjub. Kemudian majalah itu dimasukkan ke tasnya.
Taksi itu melewati lapangan basket di lapangan itu ada sekitar lima anak terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki sedang main basket. Rafa jadi ingin main basket. Kemudian dia berkata, “disini aja Pak. Saya bisa cari alamat itu sendiri kok.”
“Nanti adek kesasar lho..”
“Nggak. Yang penting udah sampai kompleknya ini.”
Supir ini mengangguk. Rafa melirik ke rupiah yang harus dibayar. Jumlahnya 245000, Rafa memberikan uang itu dan keluar dari taksi. Perlahan-lahan taxi itu pergi. Rafa menghampiri anak-anak yang sepertinya seusia dengannya.
“Hai.. boleh ikut main?” pinta Rafa malu-malu. Kelima anak itu bingung karena ada anak yang tidak mereka kenal. Hingga ada seorang anak perempuan memberanikan diri mengulurkan tangannya pada anak asing itu.
“Tentu saja boleh. Aku Veronia,” Rafa menjabat tangan gadis mungil itu yang sepertinya lebih muda dari dirinya. “Aku Rafa…” jawabnya masih malu-malu. “Baiklah Rafa! Ayo kita main basket..” ungkap Veronia lebih jauh dan melempar bola basket ke Rafa. “Yang pakai handband Gianta,” Gianta melambai. “Yang sampingnya cewek itu Qian, cewek sebelahnya temenku Joanna..” baik Joanna maupun Qian melambai tanda persahabatan. “Kalau anak lelaki yang sok acuh itu Fred.” Senyum Veronia setelah memperkenalkan keempat sahabatnya pada Rafa. Sementara Rafa hanya cengar-cengir.
Mereka cepat akrab. Dan terus main basket. Three on three. Qian, Rafa, Joanna melawan Fred, Gianta dan Veronia. Bahkan Rafa melupakan untuk tujuannya datang ke perumahan itu. Hingga waktu menunjukkan jam dua siang. Fred, Qian, Gianta dan Joanna pulang, punya urusan masing-masing. Akhirnya tinggal Veronia dan Rafa tertinggal.
“Apa kamu anak baru?” tanya Veronia sambil mempermainkan bola basket.
“Tidak. Rumahku di Bekasi. Hanya ada keperluan hingga aku kemari.” “Untuk apa?” tanya Veronia. “Hari ini aku akan bertemu ibu baruku. Papaku baru menikahinya maka, aku kemari untuk bertemu dengannya.”
“Oh ya!” tiba-tiba muka Rafa menunjukkan kesedihan. “Kenapa Rafa jadi sedih? Veronia bikin kamu sedih ya?” Rafa menggeleng. “Hanya takut. Ibu tiri’itukan identik dengan yang galak-galak. Bagaimana kalau ibu baruku itu galak?!”
“Yah.. Rafa jangan sedih gitu dong, nanti Veronia ikut sedih..” kemudian Rafa minta maaf dan mereka berenam itu melanjutkan permainan.
Sekitar pukul empat—Fred, Joanna, Qian, Gianta hendak pulang. Namun Veronia belum hendak pulang. Maka keempat temannya itu pulang kerumah masing-masing. Hanya tinggal Rafa dan Veronia di lapangan itu.
“Terus Rafa kapan kerumah ayahnya Rafa?” Rafa diam sejenak berpikir. Dan kemudian dia berkata, “Nanti saja—gampang. Mending sekarang kamu pulang, ayo aku antar.” Ujar Rafa. Veronia tersenyum manis dan nggak keberatan diantar pulang. Sepanjang perjalanan mereka ngobrol’in masalah sekolah mereka, teman-teman mereka. Dan hal-hal yang menyenangkan lain
“Ini rumahnya Veronia…” kata Veronia dan menunjuk sebuah rumah besar. Rafa tertegun. Diliriknya alamat rumah itu Blok AE 4/113. rafa tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bilang, begini, Veronia melakukan hal yang disuruh Rafa, “Vero, panggil deh, ayahmu..” Walau tidak tahu untuk apa Rafa menyuruhnya begitu—namun tetap dilakukannya. “AYYYAAAH… kemari sebentar…”
Seorang pria datang. Dan Rafa serta pria itu tentu saling kenal.
“Rafa, sudah sampai, kau, Nak..” senyum Pak Darmawan.
“Sudah Pa. Bahkan Rafa sudah bertemu adik baru Rafa…” ayah Rafa melirik kemudian tersenyum. Walau Veronia masih bingung kenapa ini. Hingga ayah menjelaskan. “Veronia, ini kakak baru kamu. Anak papa…”
“Hereline…kemarilah. Rafa sudah datang,” Rafa dan Veronia masuk kedalam rumah. “Aku nggak sangka akan dapat adik sepertimu, Vero..” Vero tidak berpendapat. Dia larut dalam kebingungan.
“Jadi—maksud Rafa takut kalau ibu tirimu itu jahat, itu ibu Veronia dong. Tenang saja. Mama Hereline baik kok!”
Rafa percaya. Sebab yang dia temui ialah, seorang wanita yang cantik nan jelita sama seperti ibu kandungnya. Dan dalam wanita itu tidak ada unsur kepura-puraan.
Kemudian, Rafa serta nenek pindah kerumah Dar di Mangga Dua. Nenek rupanya juga setuju akan wanita pilihan Dar yang amat baik dan perhatian itu.
===TAMAT===
Ooh, rupanya Darmawan—pikir oma setelah mengangkat telepon yang ternyata dari anak semata wayangnya yang sudah memiliki seorang anak. “Mam, besok suruh Rafa untuk kerumahku yang di mangga dua ya!” katanya.
“Lho, kamu udah balik dari dari Padang ya?”
“Iya neeh, mam. Mam, maaf ya, aku nggak bilang. Disana aku udah married.”
“Apa? Menikah? Kok tidak bilang sebelumnya dengan mami? Dan juga dengan anakmu? Tidak sopan benar kau ini—tidak menghargai mami dan Rafa!!” ucap oma.
“Maaf mam. Pernikahan ini bergerak cepat. Kapan-kapan Darmawan ke rumah mami deh—Darmawan akan cerita segalanya. Tapi tolong beri tahu anakku ya. Mam!” tiba-tiba hubungan telepon terputus. Asataga!! Pernikahan itu upacara sakral. Kok, seolah Darmawan menikah tanpa pikir panjang? Dasar, tanpa memberitahu pula. Dia anggap apa aku ini? Aku ini ibu kandungnya. Yang melahirkannya. Kok menikah tanpa persetujuan dariku? Bahkan aku belum melihat menantu baruku.
Kasihan Dar—istri pertamanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Padahal itu istri yang paling dicintainya. Anaknya kala itu berumur tujuh tahun. Tapi semenjak kecelakaan itu—Dar kelihatan selalu murung. Dari dulu sudah kuberitahu untuk mencari isteri baru. Namun baru sekarang kesampaian. Dan menikah tanpa bilang-bilang. Kurang masuk diakal.
Sekarang yang jadi masalahnya ialah pada Rafa, bagaimana bicaranya bahwa ayahnya sudah menikah lagi? Dia mungkin sudah sedikit lupa dengan wajah ayahnya. Karena kalau ngga salah terakhir berjumpa setahun yang lalu. Dar selalu keluar kota. Rafa, Rafa, cucuku—semoga kau bisa cocok dengan ibu barumu.
“Rafa, Rafa, kamu dimana, sayang?” tanya oma pada seluruh rumah. “Sedang main basket didepan, oma!” jawab salah satu pembantu. Oma menuju depan rumah. Dan benar, ada kira-kira empat orang asyik mendribel bola masing-masing. Di depan rumah oma dipasang ring basket karena Rafa amat suka basket. Padahal usianya baru 12 tahun.
“Rafa, kemari..” panggil oma. Rafa menghindar dari temannya dan mendekati oma. Rafa selama ini tinggal dengan omanya.
“Ada apa, Oma?” tanya Rafa sambil terus mendribel bola.
“Kamu besok kerumah papa kamu yang dimangga dua, ya?”
“Untuk apa?”
“Oma baru ditelpon papa kamu. Papa kamu sudah menikah di Padang, sekarang kamu harus bertemu mama baru kamu. Besok kamu ijin aja nggak masuk sekolah dan ke rumah papa.” Rafa nampak termenung. Muka ayahnya dia sedikit lupa. Tapi biar cepet, dia jawab aja.
“Beres Oma.” Dan menuju temannya.
“Bokap lo udah punya istri? Bagus dong, sekarang berarti lo udah punya ibu. Dan lo nggak bakal diketawa’in anak-anak lagi.” Ujar Vanadi temannya yang baik abis deh—dan keren main basketnya. Bahkan Vanadi juga pelatih gratis Rafa.
“Yoi. Sekalian—besokkan ada pelajarannya Pak Iyan. Gue besok bolos dong!” ujar Rafa bangga. Kemudian dua temannya Dimas dan Jerry ikut tertawa.
Pukul enam, tiga teman Rafa udah pulang. Rafa masih asyik mendribel bola sampai kamarnya. Begitu masuk—anjing kesayangannya menjulur-julurkan lidah dan menggoyang-goyangkan buntutnya yang putih bersih itu—tanda mengajak bermain majikannya.
“Aduh, sory ya friends—Rafa hari ini capek banget neh, besok aja ya, mainnya.” Rafa yang baru kelas 1 SMP itu merebahkan diri keranjang. Semilir udara AC amat terasa. Akhirnya anjing yang bernama Smooky itu tidur disamping ranjang.
Wah, berarti gue besok bakal ketemu nyokap baru. Gimana yah—ibu tiri’kan identik dengan yang jahat-jahat, gimana kalo nyokap baru gue galak? Gimana kalo papa ntar udah nggak sayang sama Rafa? Gimana kalo ntar Rafa disuruh tinggal di rumah sana, nggak bareng oma lagi. Rafa udah sayang banget sama oma. Rafa udah sayang dengan Bekasi. Temen-temen Rafa disini semua. Alfon, Vanadi, Gunawan, Dimas banyak deh. Juga Dresty. Gebetan gue.
“Ingat ya, Fa. Kamu turun distasiun mangga dua. Terus dari sana kamu naik taksi lalu beri alamat rumah ayahmu. Kamu punya kartu nama papa’kan?! Kamu jangan sekali-kali mengeluarkan dompet, Hp atau barang berharga lainnya di kereta.” Rafa mengangguk. Iya, oma. Rada sebel punya oma sebawel itu, tapi oma berjasa banget bagi hidup gue.
Salahnya oma terlalu khawatir sama gue. Gue’kan udah SMP, udah gede. Rafa menaiki ojek untuk ke depan komplek. Baru sesudah itu naik angkutan umum menuju stasiun Bekasi.
Lalu Rafa membeli tiket kereta ekspres ke tujuan kota. Kebetulan kereta ekspres kala itu sepi. Jadi aman-aman saja. Nggak perlu takut-takut mengeluarkan Hpnya atau barang-barang berharga lainnya. Tidak banyak hal yang dilakukan Rafa di kereta express itu. Habis orang-orang disekelilingnya tidak ada yang dikenal. Selain itu duduknya berjauhan. Lalu sekitar empat puluh lima menit kemudian ada suara berdengung, dari gerbong terdepan.
“Stasiun berikutnya stasiun Mangga Dua. Bagi yang hendak turun dipersilahkan mempersiapkan diri dan jangan sampai ada barang tertinggal. Terima kasih..” itulah pemberitahuan.
Setelah mendengar itu, Rafa meyakinkan dirinya bahwa dia harus turun di stasiun ini. Maka dia mempersiapkan diri, dan berpindah tempat duduk ke tempat yang dekat dengan pintu. Lalu tak lama, kereta mulai beranjak berhenti. Kemudian pintu secara otomatis terbuka.
Rafa keluar. Memang disinilah harusnya dia turun. Hah, tenangnya. Kalau udah sampai disini, gue sih tenang-tenang aja. Udah nggak usah takut kesasar lagi. Soalnya tinggal kasih alamat ke supir taksi terus tinggal sampai. Rafa kemudian mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan dua puluh ribuan dan membeli beberapa snack ringan ke sebuah kios makanan.
“Beli taro ukuran besarnya dua, fruit tea rasa mango, juga pepsi bluenya.” Dan memberikan uang itu. Mata anak kelas 1 SMP itu melihat di kios itu juga menjual hot dog dan pizza ukuran kecil.
“Sama hot dog, dan pizza ukuran sedang ya, satu!” lumayan bisa dimakan waktu di taxi. “Hot dog sama Pizza-nya yang panas ya..” tambahnya lagi. Si penjual makanan memberikan kantung plastik berisi taro ukuran besar serta minuman pesanan Rafa. Sementara 2 pesanan terakhir sedang dibuatkan.
Makanan itu dimasukkan ke tas ranselnya. Tidak lama berlalu 2 pesanan itu datang. Dan tanpa menunggu sampai taxi dia mulai memakan pizza. Ketika melewati suatu kios majalah, Rafa berhenti. Melihat-lihat ada majalah bagus nggak ya..
“Pak, saya beli animonster no.99 dong, terus majalah GO-nya ya..” pak tua itu memberikan kedua majalah yang diminta Rafa. Dan rafa memberikan uang sebanyak tiga puluh ribu. Dan dia berkata lagi, “Sama komik Conan no.68-nya..” pak tua itu memberikan komik itu dan memberi uang kembalian.
Barang yang diinginkan Rafa terpenuhi. Di taxi bisa makan sambil baca majalah pasti enak. Jaga-jaga kalau udah sampai gue dicuekin bokap. Gue bisa baca komik deh. Rafa jalan-jalan sebentar mengelilingi stasiun itu. Majalah-majalah yang baru dibelinya dimasukkan ke tas. Dan di tangannya hanya memegang pizza yang sedang dimakan.
Rafa udah cape, kemudian mencari taxi namun sepertinya seluruh taxi di stasiun itu penuh semua. Hingga ada petugas stasiun menghampiri anak yang terlihat mencari-cari sesuatu.
“Mencari sesuatu, dek?” tanyanya ramah.
“Taxi pak. Saya mau naik taxi. Tolong carikan..” tuan ramah itu tersenyum dan lewat walkie-talkie nya menghubungi kepala pusat stasiun. “Taxi..taxi.. kami butuh taxi segera, segera antarkan ke pintu 8 stasiun..” dan berkata lagi pada Rafa, “Tenang ya dek, sedang dipanggilkan..
Taxi biru itu datang, Rafa disuruh masuk. Dan anak itu duduk di kursi depan samping supir. Taxi mulai jalan, “Mau kemana, dik?” tanya sang supir. Rafa merogoh isi tasnya dan mengeluarkan kartu nama ayahnya, “Ini pak. Tolong ke alamat ini..” supir itu mengamati sebentar kemudian tersenyum sepertinya sudah tau dimana alamat itu. “Baiklah..”
Pizza itu sudah habis. Rafa kemudian meminum fruit tea rasa orange. Juga sembari makan taro ukuran besar. Juga Rafa memakan hot dog-nya. Hebat tiga makanan dalam satu waktu. Kedua pria di taxi itu tidak saling bicara. Hot dog itu akhirnya habis. Namun taronya tidak. Kan ukuran besar.
“Pak, alamat itu masih jauh tidak?”
“Masih cukup jauh dik.” Jawab tuan itu, “Tenang aja pak, saya punya uang untuk bayar kok.” Supir itu tertawa renyah. Karena masih jauh Rafa kemudian membaca majalah animonster no.99 yang baru dibelinya. Dan membolak-balik halaman demi halaman.
“Hallo, Dresty.. ini gue Rafa” Rafa mengeluarkan ponsel 7610-nya dan rupanya menghubungi gebetannya. “Udah beli Animons belum? Keren deh.. gue baru beli,” “Isinya ada gundam seed, sailor moon juga kesukaan lo, DN. Angel, bonusnya poster Niwa Daisuke sama Riku Harada lagi berpelukkan. Bagus deh,” katanya
“Ooh, lagi istrahat ya.. sory hari ini gue bolos. Gue pergi ke rumah bokap gue di Mangga Dua,” “Dres, kalau ada PR kasih tau Rafa ya!” pinta Rafa. “Eh, Dres udah dulu ya, salam aja buat Vanadi, Dimas sama Jerry.” Kemudian hubungan telepon terputus.
Dan Rafa kembali melihat-lihat majalah yang berisi anime japanesse itu. Sambil memakan taro dan fruit tea-nya. Rafa mengeluarkan dompetnya dan melihat sisa uangnya. Tadi oma ngasih Rafa 350 ribu. Buat ongkos naik angkutan umum dua ribu naik kereta lima ribu, jajan.. tadi Rafa jajan berapa ya.. pokoknya oma Cuma jatah lima puluh ribu. Tinggal naik taxi. Pokoknya cukup deh..
Dompet itu dimasukkan lagi kesaku belakangnya. Kemudian terdengar lagu “Helena” nya My Chemical Romance.. itu adalah dering hp kedua Rafa. Bukan yang 7610 tapi ponsel comunicater 9500. rupanya dari oma. Pasti cemas deh.. oma’kan terlalu khawatir.
“Iya oma, ini Rafa, tenang aja Oma. Rafa udah turun dari stasiun Mangga Dua sekarang Rafa udah mau sampai. Lagi di taksi.” Oma kemudian memberikan ceramahnya yang panjang lebar. Akhirnya selesai juga.
Ceramah itu berakhir juga. Rafa melanjutkan membaca Animonster. Sekitar sejam kemudian pak supir itu berkata, “Dek, kita sudah hampir sampai. Ini udah masuk komplek..” Rafa mengamati komplek perumahan ayahnya. Nggak ada rumah yang nggak besar dan nggak ada rumah yang nggak gede. Rafa sampai takjub. Kemudian majalah itu dimasukkan ke tasnya.
Taksi itu melewati lapangan basket di lapangan itu ada sekitar lima anak terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki sedang main basket. Rafa jadi ingin main basket. Kemudian dia berkata, “disini aja Pak. Saya bisa cari alamat itu sendiri kok.”
“Nanti adek kesasar lho..”
“Nggak. Yang penting udah sampai kompleknya ini.”
Supir ini mengangguk. Rafa melirik ke rupiah yang harus dibayar. Jumlahnya 245000, Rafa memberikan uang itu dan keluar dari taksi. Perlahan-lahan taxi itu pergi. Rafa menghampiri anak-anak yang sepertinya seusia dengannya.
“Hai.. boleh ikut main?” pinta Rafa malu-malu. Kelima anak itu bingung karena ada anak yang tidak mereka kenal. Hingga ada seorang anak perempuan memberanikan diri mengulurkan tangannya pada anak asing itu.
“Tentu saja boleh. Aku Veronia,” Rafa menjabat tangan gadis mungil itu yang sepertinya lebih muda dari dirinya. “Aku Rafa…” jawabnya masih malu-malu. “Baiklah Rafa! Ayo kita main basket..” ungkap Veronia lebih jauh dan melempar bola basket ke Rafa. “Yang pakai handband Gianta,” Gianta melambai. “Yang sampingnya cewek itu Qian, cewek sebelahnya temenku Joanna..” baik Joanna maupun Qian melambai tanda persahabatan. “Kalau anak lelaki yang sok acuh itu Fred.” Senyum Veronia setelah memperkenalkan keempat sahabatnya pada Rafa. Sementara Rafa hanya cengar-cengir.
Mereka cepat akrab. Dan terus main basket. Three on three. Qian, Rafa, Joanna melawan Fred, Gianta dan Veronia. Bahkan Rafa melupakan untuk tujuannya datang ke perumahan itu. Hingga waktu menunjukkan jam dua siang. Fred, Qian, Gianta dan Joanna pulang, punya urusan masing-masing. Akhirnya tinggal Veronia dan Rafa tertinggal.
“Apa kamu anak baru?” tanya Veronia sambil mempermainkan bola basket.
“Tidak. Rumahku di Bekasi. Hanya ada keperluan hingga aku kemari.” “Untuk apa?” tanya Veronia. “Hari ini aku akan bertemu ibu baruku. Papaku baru menikahinya maka, aku kemari untuk bertemu dengannya.”
“Oh ya!” tiba-tiba muka Rafa menunjukkan kesedihan. “Kenapa Rafa jadi sedih? Veronia bikin kamu sedih ya?” Rafa menggeleng. “Hanya takut. Ibu tiri’itukan identik dengan yang galak-galak. Bagaimana kalau ibu baruku itu galak?!”
“Yah.. Rafa jangan sedih gitu dong, nanti Veronia ikut sedih..” kemudian Rafa minta maaf dan mereka berenam itu melanjutkan permainan.
Sekitar pukul empat—Fred, Joanna, Qian, Gianta hendak pulang. Namun Veronia belum hendak pulang. Maka keempat temannya itu pulang kerumah masing-masing. Hanya tinggal Rafa dan Veronia di lapangan itu.
“Terus Rafa kapan kerumah ayahnya Rafa?” Rafa diam sejenak berpikir. Dan kemudian dia berkata, “Nanti saja—gampang. Mending sekarang kamu pulang, ayo aku antar.” Ujar Rafa. Veronia tersenyum manis dan nggak keberatan diantar pulang. Sepanjang perjalanan mereka ngobrol’in masalah sekolah mereka, teman-teman mereka. Dan hal-hal yang menyenangkan lain
“Ini rumahnya Veronia…” kata Veronia dan menunjuk sebuah rumah besar. Rafa tertegun. Diliriknya alamat rumah itu Blok AE 4/113. rafa tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bilang, begini, Veronia melakukan hal yang disuruh Rafa, “Vero, panggil deh, ayahmu..” Walau tidak tahu untuk apa Rafa menyuruhnya begitu—namun tetap dilakukannya. “AYYYAAAH… kemari sebentar…”
Seorang pria datang. Dan Rafa serta pria itu tentu saling kenal.
“Rafa, sudah sampai, kau, Nak..” senyum Pak Darmawan.
“Sudah Pa. Bahkan Rafa sudah bertemu adik baru Rafa…” ayah Rafa melirik kemudian tersenyum. Walau Veronia masih bingung kenapa ini. Hingga ayah menjelaskan. “Veronia, ini kakak baru kamu. Anak papa…”
“Hereline…kemarilah. Rafa sudah datang,” Rafa dan Veronia masuk kedalam rumah. “Aku nggak sangka akan dapat adik sepertimu, Vero..” Vero tidak berpendapat. Dia larut dalam kebingungan.
“Jadi—maksud Rafa takut kalau ibu tirimu itu jahat, itu ibu Veronia dong. Tenang saja. Mama Hereline baik kok!”
Rafa percaya. Sebab yang dia temui ialah, seorang wanita yang cantik nan jelita sama seperti ibu kandungnya. Dan dalam wanita itu tidak ada unsur kepura-puraan.
Kemudian, Rafa serta nenek pindah kerumah Dar di Mangga Dua. Nenek rupanya juga setuju akan wanita pilihan Dar yang amat baik dan perhatian itu.
===TAMAT===
persetan dengan semua
Persetan dengan Semua
Oh,ini toh kelas baru gue? Anaknya rame gak ya?Pikir Violine Aeris yang baru pindah ke SMU Yoakim. Kemudian bapak tua—beliau Kepala sekolah,mengajak Vio—panggilan akrabnya—untuk masuk kelas. Dia mulai memperkenalkan Vio ke depan kelas.
“Mohon perhatiannya anak-anak! Maaf mengganggu Bu Sarah,” Guru cantik itu tersenyum manis. “bapak akan mengenalkan teman baru kalian Pindahan Bandung. Namanya Violine,” Semua anak bertatap takjub,cakep abis. Bapak itu permisi keluar. Violine mendekat Gurunya. “Ayo Violine silahkan perkenalkan perkenalkan diri....” suruhnya. Violine sedikit gugup. Dengan berat dia tersenyum kecil.
“Nama saya Violine Aeris. Kalian dapat panggil saya Vio atau Violine. Saya pindahan dari SMU 7 Bandung.” Vio tersenyum. Bu Sarah kemudian berkata, “Baik.Untuk sementara kamu duduk di sebelah Guntara,yang duduk didekat jendela pojok sana. Ibu bukan walikelas kamu,nanti konfirmasi saja dengan Pak Idris.” Vio tersenyum kemudian berjalan seperti robot ke tempat yang ditunjukkan Bu Sarah. Anak baru selalu jadi pusat perhatian. Vio jadi gugup sendiri.
Dia udah berhasil duduk. Dan disebelahnya ada cowo yang kalo gak salah namanya Guntara,cowo itu diam aja. Dan gak menatap wajah anak baru,sedari Vio masuk. Vio jadi gerah sendiri. Bete,kok dia gak ngajak ngobrol gue? Cowo itu terus menatap mejanya. Padahal gak ada buku satu pun. Bu Sarah permisi sebentar karena dipanggil guru lain. Anak-anak pada kenalan sama Vio. Kecuali mahluk di sebelahnya.
“Vio ya,nama yang baguus. Gue Imel,dia Esha.Salam kenal ya!” kata dua cewe cowo yang ada didepan meja Vio dan Guntara. “Gue Sasha..” kata cewe sipit yang ada dimeja sebrang. “Kalo gue Gilang.. cowo beken sesekolah’an..” kata cowo samping Sasha yang emang cakep tapi narsis banget deh tampangnya. Tapi lucu kok. “Gilang!!! Gue bilangin Nella lho! Udah punya cewe,masih ganjen. Eh Vio, gak usah denger ni orang,dia udah punya cewe. Kembaran gue,Nella kelas 3IPS1. Gue Cella.” Vio tertawa. Sebagian besar anak dikelas itu sudah masuk ke memory Vio. Bahkan sebelum jam istirahat berbunyi. Tapi sampe jam istirahat,cowo yang namanya Guntara itu belum mengajaknya ngomong.
Tampangnya itu lho, astaganaga. Serem banget. Kayak Killer abis. Tatapan matanya tajem. Mukanya gak pernah tersenyum. Bukan hanya kepada Vio—juga pada anak lain. Padahal untuk ukuran anak cowo—keren abis. Tinggi,macho,kekar lagi. Otot-ototnya udah kebentuk. Gak kelihatan kayak anak 3 SMU deh. Tapi sayang,kayaknya temperamennya tinggi. Terlihat dari raut mukanya. Dan kayaknya gak segan bunuh semua orang.
“Gil, cowo yang disamping gue itu Guntara’kan?” Tanya Vio pada Gilang ketika istirahat. “Iya,dia nyeremin ya? Udah cuekin aja. Dia rada ngga jelas. Gak bisa komunikasi sama orang laen. Udah ya,gue mau ke kelas cewe gue dulu.” Gilang pun pergi. Emang sejahat apa sih, Guntara? Jadi penasaran.
Bangsat, kenapa gue pake duduk sama Vio. Pikir Guntara sambil terus memandang meja—yang kosong itu. Tanpa alasan yang jelas dia menggebrak meja dengan kepalan tangannya.Hingga merah,seluruh anak yang ada dikelas itu menatap ngeri pemandangan itu tanpa ada yang berani berkomentar atau setidaknya menghampiri lalu menanyakan pada Gun—panggilannya, apa yang terjadi.
Mereka hanya menyimpan itu didalam hati. Takut berurusan dengan Guntara. Termasuk seluruh cowo. Paling mereka cuma basa-basi sama Guntara, kalo lagi mood ya.. di bales. Kalo sifat anehnya kumat, ya bakal kena abis-abisan semua orang yang ngajak ngomong dia. Pokoknya serba salah deh.
Padahal Guntara baik kok.
Vio udah selesai jajan.Dia sendiri tanpa temannya.Kemudian dia duduk di tempatnya tanpa rasa salah. Emang itu tempatnya jadi buat apa takut sama Guntara. Guntara doang.Emang dia pikir siapa dia?Raja?Dia makan beberapa makanan ringan tanpa ngajak ngobrol Guntara, ngapain. Guntaranya duluan yang jutek,Vio jadi ogah nyapa.
Pulpen Vio jatuh,lalu Vio membungkuk ke bawah untuk memungut benda itu,tanpa sengaja dia menyenggol tangan Gun.Tangan.Ya tangan.Cuma sebatas tangan.Gak lebih. Vio juga ngerasa dia gak sengaja nyenggol Guntara, tapi dia sama sekali gak sangka perbuatan apa yang dilakukan oleh Guntara selanjutnya.
Berdiri penuh amarah,serta geraham beradu. Melototi anak cewe yang ‘gak sengaja’ Pegang tangannya. Vio yang berhasil memungut pulpennya,mata cokelatnya mengamati dengan cermat kenapa Guntara berdiri sambil melotot, apa dirinya membuat kesalahan yang lebih fatal dari menyenggol tangan Guntara.
“Ada apa Gun?” Vio bertanya lugu. Gak ngerti apa yang sebenernya terjadi.
“Lo itu bego, tolol atau goblok sih? Udah tau salah sok pura-pura gak tau lagi..” Guntara bertanya dengan volume yang sumpah gila banget. Anak-anak mengamatinya. Wah satu lagi korban keganasan Guntara. Anak baru lagi.Kan kasihan.
“Guntara!! Kalo ngomong sama gue ngga usah teriak-teriak. Gue denger.Gue belom budek. Gue ngga ngerasa salah apa-apa sama lo. Salah gue itu cuma gak sengaja nyenggol lo.Itu doang. Gak lebih!!” anak baru itu bisa bales juga.Dia merasa harga dirinya diinjak. Mata Guntara semakin beringas.
“Ya itu kesalahan lo. Lo masih gak nyadar juga?” Vio berdiri beberapa centi dari Gun dengan tangan di pinggang,dan membalas melototi Gilang,juga menampakkan muka amat marah. Lalu dia menjawab. “Jadi,Cuma gara-gara gue nyenggol lo,lo jadi semarah ini. Itu sepele,Gun. Sepele. Gak usah dibesar-besarin!!!”
“Cewek nyolot..” Guntara meninju kecil dengan kepalannya ke bahu Vio. Vio kaget banget diperlakukan begitu. Apa lagi setelah itu Gun seenaknya ngeloyor pergi dan sepertinya dengan sengaja menyenggol pundak Vio dengan badan besarnya.
Vio masih ngga percaya akan perlakuan teman sebangkunya itu. Setelah Guntara keluar,anak-anak cewe dikelas itu menghampiri Vio—mereka merasa kasihan.Vio terduduk lemas. “Udahlah,Vio. Jang an sedih. Gun emang kayak gitu.” Hibur cewe bernama Ria. “Lagian si Guntara lo ladenin. Kalah body lo sama dia. Harusnya kalo si Guntara lagi kumat lo diemin aja, walo lo dicaci maki habis-habisan, emang gak enak sih tapi mau gimana—“ ujar Vannesa.
“Si Guntara anaknya tertutup. Dia gak mau terbuka—sama cowo sekali pun” kata Gilang. Vio masih shock. “Entah berapa cewe yang udah kena tampar dia.” Sasha yang ada diantara kerimunan anak itu menyela. “Iya,gue salah satunya. Waktu MOS kelas 1 dulu,gue cuma nabrak dia. Terus gue ditampar..sayangnya gue gak berani bales kayak lo.. lo tuh berani abis deh..salut gue!” kata seorang cewe yang bernama Chily.
“Elonya juga,ngajak adu bacot Guntara. Terang aja lo dila- brak,udah gitu di tampar lagi.” Kata Risa. Chily yang pernah ngerasain tangan Guntara diam aja. “Temperamen dia gede. Lo jangan ajak dia becanda,bisa-bisa dia ngamuk. Dia gak enak diajak becanda. Dia terlalu serius.” Begitulah kata-kata semua anak yang udah kenal Guntara sedari kelas 1, pendapat mereka sama. GUNTARA ITU BETEIN.
Udah dapet perlakuan begitu dihari pertamanya sekolah,Violine bete sama kota baru itu. Dia cerita pada kakak perempuannya—Pianny. “Aduh kasihan adikku. Punya temen sebangku kayak gitu. Gue saranin lo deketin orang yang paling akrab sama Guntara. Mungkin lo jadi tau kenapa tu cowo jadi sadis kayak maling gitu.”
“Maling? Siapa bilang dia maling.. Ide lo tu bagus. Tapi setahu gue ngga ada yang deket apalagi tau banyak tentang Guntara. Tapi gue coba deh,thanks ya!!” Pianny tersenyum. Nama Pianny berasal dari Piano,sedang Violine dari alat music Violin. Vio yang mendengar saran kakaknya—jadi punya ide. Mungkin juga cara itu berhasil meluluhkan Guntara.Pasti keren,dia bisa bikin Guntara berubah.
Gak ada salahnya juga kenal sama tetangga. Itu yang membuat Violine meminta ijin pada ibunya agar diperbolehkan main keluar rumah. Ibunya tidak melarang. Anak bontot dari tiga bersaudara itu berjalan kaki mengelilingi komplek barunya. Hingga ada seorang cowo yang memanggil.
“Vio..Vio..sini deh,” panggil cowo itu. Vio melirik cowo itu,cowo itu teman sekelasnya namun dia belom sempet kenalan .Vio akhirnya mendekati anak itu. “Hai,kayaknya kita belom sempet kenalan tadi pagi,gue Jerry. Gue yang duduk sebelahnya Sasha.” Cowo yang gak terlalu tinggi itu memperkenalkan diri.
“Ooh,Jerry. Rumah lo disini? Rumah gue satu blok dari sini. Jalan Harmony no 38B.” kata Violine. “Ooh, jalan Harmony. Baru tau gue rumah lo disitu, sebelom lo nempatin rumah itu, gue kenal sama yang punya.Dia sepupunya Bu Sarah.” Vio Cuma mengangguk
“Maen ke rumah gue aja Yuk! Entar gue kenalin sama tetangga laen.” Maka sedari itu Violine mengikuti jalannya Jerry. Mereka ngobrolin banyak hal dari sekolah hingga komplek mereka. Jerry menunjukkan rumahnya yang gak terlalu jauh dari rumah Vio. Cukup besar, Vio dipersilahkan masuk.
Rumahnya bersih sekali apalagi tamannya, amat terawat. Ada perempuan yang kayaknya sodara Jerry. “Jer,Gugun ada di ruang teve. Dia nyariin elo,eh ada temen lo ya!! Tuh ada kue cokelat di kulkas. Kasih gih! Gue berangkat les dulu ya!” cewe yang kalah tinggi sama Vio itu pergi. “Itu siapa lo,Jer?” Tanya Vio lalu duduk diruang tamu.
“Dia Jennica kembaran gue.”
“Dia gak sekelas ya,sama kita?”
“Ya ngga lah,orang dia beda sekolah. Dia di SMU Vascaline. Eh tunggu bentar ya,gue mau keatas sebentar, Sambil gue mau ngambil makanan untuk lo.” Jerry pun seketika pergi. Namun tak lama berselang Jerry udah balik—dengan nampan penuh makanan. Makanan itu dinikmati oleh mereka berdua sambil ngobrol.Kemudian dari arah tangga ada suara yang terdengar berat.
“Jer,lo punya DVD Bangsal 13 kan?” Oh God! Itu Guntara
Cowo yang tadi siang berlaku gak sopan sama Vio. Guntara mengamati ada Jerry serta,serta,Oh No! Anak baru itu, siapa tuh..yang namanya aneh. Violine.
“Guntara?” Vio gak percaya penglihatannya.
“Ngapain lo disini?!!” teriaknya di depan Vio. Jerry yang tau
betul watak Guntara segera menengahi pertikaian itu.
“Udah udah,Guntara! Lo ini galak banget sih sama cewe. Dia kan yang duduk disamping lo. Jangan teriak-teriak gitu deh,”
“Jer,kok dia bisa tau rumah lo?” tanya Guntara pada Jerry.
“Sory aja ya! Kalo gue ganggu lo.Gue juga gak tau kenapa lo ada didepan gue. Gue juga baru tau kalo Jerry itu tetangga gue.” Bentak Vio sambil terus melotot.
“Maaf,gue ngga ngajak ngomong situ..” Kemudian Guntara naik ke lantai atas lagi,dengan tatapan yang sama seperti ketika mereka pertama bertemu.
“Sory ya,lo tau sendiri Guntara...”
“Guntara lagi main ke rumah lo?” Vio kembali tenang.
“Guntara itu sepupu gue.Dia tinggal disini bareng bonyok gue.Bonyok Guntara udah meninggal.Ayahnya meninggal waktu dia belum dilahirin.Nah nyokapnya meninggal waktu ngelahirin dia.Terus dia dirawat sama bonyok gue.Orang hari lahir Guntara bareng sama hari lahir gue sama Jennica.” Terangnya.
Iih,gak nyangka banget deh.Dalam benak Vio,mungkin Guntara itu anak orang kaya sampe dia sering marah-marah sama semua orang karena terbiasa dengan semua pembokat bayaran bokapnya. Tau-taunya, Guntara itu ngga punya bonyok. Mungkin itu yang menyebabkan dia rendah diri.
“Udah dari dulu ya,Guntara sering marah-marah?” Jerry menggeleng,
“Gue ngga tau.Walau udah 18 tahun serumah sama dia,ngga ada orang dirumah ini yang bisa nebak kayak apa Gugun itu.Termasuk gue.”
“Gugun?Ooh. Apa ada kemungkinan Guntara itu kurang perhatian bonyoknya. Karena dari dulu cuma dibesarin sama oom dan tantenya?”
“Bonyok gue udah ngasih perhatian ekstra sama dia. Tapi tetep aja,dia sering marah sama semua orang yang ingin berbaik hati sama dia. Katanya dia ngga mau dikasihani. Padahal semua orang tulus kasih perhatian sama dia. Dia gak mudah percaya orang. Gue selalu jaga perasaan dia. Jadi gue ngga pernah ikut campur segala urusannya. Daripada entar dia udah gak percaya sama gue. Bisa berabe urusannya.” Vio pamit pulang, perasaan aneh berkecamuk dalam pikirannya. Guntara itu aneh!!!
“Sekali lagi lo ngomong lagi,lo bakal kena tampar gue!” Sinting, masih pagi juga kenapa Guntara cari masalah sama sekretaris OSIS 3, Lovy.
“Ngga bisa apa lo gak kasar sama cewe. Gue ini beda kelamin sama lo. Jadi jangan perlakukan gue seperti lo memperlakukan cowok, NGERTI?” entah apa yang mereka pertengkarkan. Vio muncul dari kerumunan orang di mejanya.
“Heh! Masih pagi, gak bisa tenang apa?” tengahnya.
“Gak usah ikut campur, parasit!!” baru sekali ini dalam hidup Vio dirinya dipanggil parasit. Seolah kehadirannya hanya menggang- gu orang-orang disekitarnya.Mendengar julukan barunya yang dibe rikan oleh Gugun, dia segera berontak. “Soalnya kalo elo punya masa lah lo selalu beresin dengan otot lo. Bukan dengan otak. Itu yang buat masalah kecil jadi masalah yang lebih besar, Guntara! Elo udah kelas 3 lo harusnya lebih dewasa sedikit aja.”
“Tuh denger, anak baru aja bisa ngomong gitu.” Lovy sedikit ringan dirinya dibela namun anak-anak cowo lain seolah enggan untuk ikut campur.
“Gun,emang, what’s happening?” tanya Vio dengan sabar.
“Apa elo nggak pernah diajarin sama bonyok lo untuk nggak ikut campur dengan urusan orang lain,hah?” seperti kejadian kemarin,Guntara menepuk pundak Vio dengan kepalan tangannya. Emang ngga terlalu sakit sih,tapi yang sakit dihati Vio.
“Gue sama sekali nggak mau tau urusan lo sama siapa pun. Itu urusan lo!! Tapi gue cuma mau ingetin nggak semua masalah dapat lo selesai’in dengan kekerasan. Gue tau kenyataan kalo elo sebe nernya kurang dapat perhatian dari sekeliling lo.”
Gugun terdiam. Pasti Jerry udah bicara banyak sama setan kecil ini.Kalo nggak dibentak bisa-bisa dia ember kemana aja.
“Eh anak baru,tau apa lo tentang gue?!! Lo pikir elo itu siapa, DEWA???” tantang Guntara dengan senyum meremehkan.
“Masalah terbesar dalam diri elo itu, lo nggak bisa percaya sama setiap orang. Lo selalu berpikir semua sama, mereka cuma perduli urusan mereka masing-masing. Padahal, Gun, kalo lo lebih membuka mata lo, lo bakal tau semua orang disekeliling lo sayang sama lo walau lo selalu kasar disetiap tindakan lo. Mereka cuma takut kalo lo bakal nampar ato melakukan hal yang lebih gila lagi.”
Semua anak dikelas itu takjub terpana mendengar sebuah syair puisi yang baru dilontarkan oleh anak baru itu. Seumur hidup gak ada yang berani ngomong gitu ke Gun. Namun ditengah kerter panaan, Guntara justru tertawa sekeras-kerasnya.
“Anak kecil, lo itu yang selalu menutup mata lo. Lo harus liat,dunia ini kejam. Gak ada seorang pun didunia yang dapat kita percaya. Kalo mereka bertindak baik, mereka pasti ada perlunya dengan kita. Giliran gak butuh,di buang gitu aja kayak sampah. MUNAFIK!!!” kala itu mata Gugun menunjukkan penuh kebencian. Itukah yang selama ini ada dipikiran Gugun. Sungguh pikiran yang amat bodoh.
“Gun,gue kasih tau aja. Kalo lo tetap berpikiran begitu sampe lo dewasa,lo gak bakal maju. Dan lo makin memperbodoh diri lo. Gak semua orang munafik. Semua orang memang memiliki sisi kemunafikkan. Tapi gak bakal setiap waktu. Coba deh, lo membuka diri lo, biarkan semua orang tau kayak apa seorang Guntara itu. Pasti mereka bakal ngertiin lo.” Guntara terdiam. Duduk. Pada bangkunya. Lovy udah kabur entah kemana.
“Vi,apa bener semua omongan lo?” baru kali ini Violine melihat sisi lain Guntara. Vio mengangguk.
“Asal lo cerita sama gue lo mau temen kayak apa? Semua tersedia disini mulai dari Jerry Jennica—sepupu lo. Juga gue,Gilang, Sasha, dan juga semua orang yang udah lo tampar. Mereka selama ini gak berani ngomong kayak gini takut lo temperamen terus bakal— yah lo tau sendiri.” Vio tersenyum dan duduk disamping Gugun—tanpa ada rasa was-was sedikit pun.
“Selama ini,gue terlahir gak bisa percaya sama orang. Gue gak tau sama yang rasanya disayangi ortu. Ortu gue udah pada meninggal—“ Vio memotong. “Tapi bukan gak mungkin lo bisa percaya sama orang kan?”
“Iya..mulai saat ini gue bakal mencoba percaya sama orang lain. Thanks ya,Vi.. lo buka hati gue..” Violine Aeris tersenyum lebar. Artinya dia mudah menaklukan cowo dengan syair puisi buatannya. Semua orang yang udah kenal Gugun lama aja nggak bisa bikin Gugun berubah, dan artinya dia menang 250.000 dari kakaknya Pianny. Mereka taruhan 250 rebu kalo Vio berhasil. Emang rada jahat sih, namun hasilnya berhasil. Guntara udah mulai menerima orang-orang disekelilingnya. (TAMAT)
Oh,ini toh kelas baru gue? Anaknya rame gak ya?Pikir Violine Aeris yang baru pindah ke SMU Yoakim. Kemudian bapak tua—beliau Kepala sekolah,mengajak Vio—panggilan akrabnya—untuk masuk kelas. Dia mulai memperkenalkan Vio ke depan kelas.
“Mohon perhatiannya anak-anak! Maaf mengganggu Bu Sarah,” Guru cantik itu tersenyum manis. “bapak akan mengenalkan teman baru kalian Pindahan Bandung. Namanya Violine,” Semua anak bertatap takjub,cakep abis. Bapak itu permisi keluar. Violine mendekat Gurunya. “Ayo Violine silahkan perkenalkan perkenalkan diri....” suruhnya. Violine sedikit gugup. Dengan berat dia tersenyum kecil.
“Nama saya Violine Aeris. Kalian dapat panggil saya Vio atau Violine. Saya pindahan dari SMU 7 Bandung.” Vio tersenyum. Bu Sarah kemudian berkata, “Baik.Untuk sementara kamu duduk di sebelah Guntara,yang duduk didekat jendela pojok sana. Ibu bukan walikelas kamu,nanti konfirmasi saja dengan Pak Idris.” Vio tersenyum kemudian berjalan seperti robot ke tempat yang ditunjukkan Bu Sarah. Anak baru selalu jadi pusat perhatian. Vio jadi gugup sendiri.
Dia udah berhasil duduk. Dan disebelahnya ada cowo yang kalo gak salah namanya Guntara,cowo itu diam aja. Dan gak menatap wajah anak baru,sedari Vio masuk. Vio jadi gerah sendiri. Bete,kok dia gak ngajak ngobrol gue? Cowo itu terus menatap mejanya. Padahal gak ada buku satu pun. Bu Sarah permisi sebentar karena dipanggil guru lain. Anak-anak pada kenalan sama Vio. Kecuali mahluk di sebelahnya.
“Vio ya,nama yang baguus. Gue Imel,dia Esha.Salam kenal ya!” kata dua cewe cowo yang ada didepan meja Vio dan Guntara. “Gue Sasha..” kata cewe sipit yang ada dimeja sebrang. “Kalo gue Gilang.. cowo beken sesekolah’an..” kata cowo samping Sasha yang emang cakep tapi narsis banget deh tampangnya. Tapi lucu kok. “Gilang!!! Gue bilangin Nella lho! Udah punya cewe,masih ganjen. Eh Vio, gak usah denger ni orang,dia udah punya cewe. Kembaran gue,Nella kelas 3IPS1. Gue Cella.” Vio tertawa. Sebagian besar anak dikelas itu sudah masuk ke memory Vio. Bahkan sebelum jam istirahat berbunyi. Tapi sampe jam istirahat,cowo yang namanya Guntara itu belum mengajaknya ngomong.
Tampangnya itu lho, astaganaga. Serem banget. Kayak Killer abis. Tatapan matanya tajem. Mukanya gak pernah tersenyum. Bukan hanya kepada Vio—juga pada anak lain. Padahal untuk ukuran anak cowo—keren abis. Tinggi,macho,kekar lagi. Otot-ototnya udah kebentuk. Gak kelihatan kayak anak 3 SMU deh. Tapi sayang,kayaknya temperamennya tinggi. Terlihat dari raut mukanya. Dan kayaknya gak segan bunuh semua orang.
“Gil, cowo yang disamping gue itu Guntara’kan?” Tanya Vio pada Gilang ketika istirahat. “Iya,dia nyeremin ya? Udah cuekin aja. Dia rada ngga jelas. Gak bisa komunikasi sama orang laen. Udah ya,gue mau ke kelas cewe gue dulu.” Gilang pun pergi. Emang sejahat apa sih, Guntara? Jadi penasaran.
Bangsat, kenapa gue pake duduk sama Vio. Pikir Guntara sambil terus memandang meja—yang kosong itu. Tanpa alasan yang jelas dia menggebrak meja dengan kepalan tangannya.Hingga merah,seluruh anak yang ada dikelas itu menatap ngeri pemandangan itu tanpa ada yang berani berkomentar atau setidaknya menghampiri lalu menanyakan pada Gun—panggilannya, apa yang terjadi.
Mereka hanya menyimpan itu didalam hati. Takut berurusan dengan Guntara. Termasuk seluruh cowo. Paling mereka cuma basa-basi sama Guntara, kalo lagi mood ya.. di bales. Kalo sifat anehnya kumat, ya bakal kena abis-abisan semua orang yang ngajak ngomong dia. Pokoknya serba salah deh.
Padahal Guntara baik kok.
Vio udah selesai jajan.Dia sendiri tanpa temannya.Kemudian dia duduk di tempatnya tanpa rasa salah. Emang itu tempatnya jadi buat apa takut sama Guntara. Guntara doang.Emang dia pikir siapa dia?Raja?Dia makan beberapa makanan ringan tanpa ngajak ngobrol Guntara, ngapain. Guntaranya duluan yang jutek,Vio jadi ogah nyapa.
Pulpen Vio jatuh,lalu Vio membungkuk ke bawah untuk memungut benda itu,tanpa sengaja dia menyenggol tangan Gun.Tangan.Ya tangan.Cuma sebatas tangan.Gak lebih. Vio juga ngerasa dia gak sengaja nyenggol Guntara, tapi dia sama sekali gak sangka perbuatan apa yang dilakukan oleh Guntara selanjutnya.
Berdiri penuh amarah,serta geraham beradu. Melototi anak cewe yang ‘gak sengaja’ Pegang tangannya. Vio yang berhasil memungut pulpennya,mata cokelatnya mengamati dengan cermat kenapa Guntara berdiri sambil melotot, apa dirinya membuat kesalahan yang lebih fatal dari menyenggol tangan Guntara.
“Ada apa Gun?” Vio bertanya lugu. Gak ngerti apa yang sebenernya terjadi.
“Lo itu bego, tolol atau goblok sih? Udah tau salah sok pura-pura gak tau lagi..” Guntara bertanya dengan volume yang sumpah gila banget. Anak-anak mengamatinya. Wah satu lagi korban keganasan Guntara. Anak baru lagi.Kan kasihan.
“Guntara!! Kalo ngomong sama gue ngga usah teriak-teriak. Gue denger.Gue belom budek. Gue ngga ngerasa salah apa-apa sama lo. Salah gue itu cuma gak sengaja nyenggol lo.Itu doang. Gak lebih!!” anak baru itu bisa bales juga.Dia merasa harga dirinya diinjak. Mata Guntara semakin beringas.
“Ya itu kesalahan lo. Lo masih gak nyadar juga?” Vio berdiri beberapa centi dari Gun dengan tangan di pinggang,dan membalas melototi Gilang,juga menampakkan muka amat marah. Lalu dia menjawab. “Jadi,Cuma gara-gara gue nyenggol lo,lo jadi semarah ini. Itu sepele,Gun. Sepele. Gak usah dibesar-besarin!!!”
“Cewek nyolot..” Guntara meninju kecil dengan kepalannya ke bahu Vio. Vio kaget banget diperlakukan begitu. Apa lagi setelah itu Gun seenaknya ngeloyor pergi dan sepertinya dengan sengaja menyenggol pundak Vio dengan badan besarnya.
Vio masih ngga percaya akan perlakuan teman sebangkunya itu. Setelah Guntara keluar,anak-anak cewe dikelas itu menghampiri Vio—mereka merasa kasihan.Vio terduduk lemas. “Udahlah,Vio. Jang an sedih. Gun emang kayak gitu.” Hibur cewe bernama Ria. “Lagian si Guntara lo ladenin. Kalah body lo sama dia. Harusnya kalo si Guntara lagi kumat lo diemin aja, walo lo dicaci maki habis-habisan, emang gak enak sih tapi mau gimana—“ ujar Vannesa.
“Si Guntara anaknya tertutup. Dia gak mau terbuka—sama cowo sekali pun” kata Gilang. Vio masih shock. “Entah berapa cewe yang udah kena tampar dia.” Sasha yang ada diantara kerimunan anak itu menyela. “Iya,gue salah satunya. Waktu MOS kelas 1 dulu,gue cuma nabrak dia. Terus gue ditampar..sayangnya gue gak berani bales kayak lo.. lo tuh berani abis deh..salut gue!” kata seorang cewe yang bernama Chily.
“Elonya juga,ngajak adu bacot Guntara. Terang aja lo dila- brak,udah gitu di tampar lagi.” Kata Risa. Chily yang pernah ngerasain tangan Guntara diam aja. “Temperamen dia gede. Lo jangan ajak dia becanda,bisa-bisa dia ngamuk. Dia gak enak diajak becanda. Dia terlalu serius.” Begitulah kata-kata semua anak yang udah kenal Guntara sedari kelas 1, pendapat mereka sama. GUNTARA ITU BETEIN.
Udah dapet perlakuan begitu dihari pertamanya sekolah,Violine bete sama kota baru itu. Dia cerita pada kakak perempuannya—Pianny. “Aduh kasihan adikku. Punya temen sebangku kayak gitu. Gue saranin lo deketin orang yang paling akrab sama Guntara. Mungkin lo jadi tau kenapa tu cowo jadi sadis kayak maling gitu.”
“Maling? Siapa bilang dia maling.. Ide lo tu bagus. Tapi setahu gue ngga ada yang deket apalagi tau banyak tentang Guntara. Tapi gue coba deh,thanks ya!!” Pianny tersenyum. Nama Pianny berasal dari Piano,sedang Violine dari alat music Violin. Vio yang mendengar saran kakaknya—jadi punya ide. Mungkin juga cara itu berhasil meluluhkan Guntara.Pasti keren,dia bisa bikin Guntara berubah.
Gak ada salahnya juga kenal sama tetangga. Itu yang membuat Violine meminta ijin pada ibunya agar diperbolehkan main keluar rumah. Ibunya tidak melarang. Anak bontot dari tiga bersaudara itu berjalan kaki mengelilingi komplek barunya. Hingga ada seorang cowo yang memanggil.
“Vio..Vio..sini deh,” panggil cowo itu. Vio melirik cowo itu,cowo itu teman sekelasnya namun dia belom sempet kenalan .Vio akhirnya mendekati anak itu. “Hai,kayaknya kita belom sempet kenalan tadi pagi,gue Jerry. Gue yang duduk sebelahnya Sasha.” Cowo yang gak terlalu tinggi itu memperkenalkan diri.
“Ooh,Jerry. Rumah lo disini? Rumah gue satu blok dari sini. Jalan Harmony no 38B.” kata Violine. “Ooh, jalan Harmony. Baru tau gue rumah lo disitu, sebelom lo nempatin rumah itu, gue kenal sama yang punya.Dia sepupunya Bu Sarah.” Vio Cuma mengangguk
“Maen ke rumah gue aja Yuk! Entar gue kenalin sama tetangga laen.” Maka sedari itu Violine mengikuti jalannya Jerry. Mereka ngobrolin banyak hal dari sekolah hingga komplek mereka. Jerry menunjukkan rumahnya yang gak terlalu jauh dari rumah Vio. Cukup besar, Vio dipersilahkan masuk.
Rumahnya bersih sekali apalagi tamannya, amat terawat. Ada perempuan yang kayaknya sodara Jerry. “Jer,Gugun ada di ruang teve. Dia nyariin elo,eh ada temen lo ya!! Tuh ada kue cokelat di kulkas. Kasih gih! Gue berangkat les dulu ya!” cewe yang kalah tinggi sama Vio itu pergi. “Itu siapa lo,Jer?” Tanya Vio lalu duduk diruang tamu.
“Dia Jennica kembaran gue.”
“Dia gak sekelas ya,sama kita?”
“Ya ngga lah,orang dia beda sekolah. Dia di SMU Vascaline. Eh tunggu bentar ya,gue mau keatas sebentar, Sambil gue mau ngambil makanan untuk lo.” Jerry pun seketika pergi. Namun tak lama berselang Jerry udah balik—dengan nampan penuh makanan. Makanan itu dinikmati oleh mereka berdua sambil ngobrol.Kemudian dari arah tangga ada suara yang terdengar berat.
“Jer,lo punya DVD Bangsal 13 kan?” Oh God! Itu Guntara
Cowo yang tadi siang berlaku gak sopan sama Vio. Guntara mengamati ada Jerry serta,serta,Oh No! Anak baru itu, siapa tuh..yang namanya aneh. Violine.
“Guntara?” Vio gak percaya penglihatannya.
“Ngapain lo disini?!!” teriaknya di depan Vio. Jerry yang tau
betul watak Guntara segera menengahi pertikaian itu.
“Udah udah,Guntara! Lo ini galak banget sih sama cewe. Dia kan yang duduk disamping lo. Jangan teriak-teriak gitu deh,”
“Jer,kok dia bisa tau rumah lo?” tanya Guntara pada Jerry.
“Sory aja ya! Kalo gue ganggu lo.Gue juga gak tau kenapa lo ada didepan gue. Gue juga baru tau kalo Jerry itu tetangga gue.” Bentak Vio sambil terus melotot.
“Maaf,gue ngga ngajak ngomong situ..” Kemudian Guntara naik ke lantai atas lagi,dengan tatapan yang sama seperti ketika mereka pertama bertemu.
“Sory ya,lo tau sendiri Guntara...”
“Guntara lagi main ke rumah lo?” Vio kembali tenang.
“Guntara itu sepupu gue.Dia tinggal disini bareng bonyok gue.Bonyok Guntara udah meninggal.Ayahnya meninggal waktu dia belum dilahirin.Nah nyokapnya meninggal waktu ngelahirin dia.Terus dia dirawat sama bonyok gue.Orang hari lahir Guntara bareng sama hari lahir gue sama Jennica.” Terangnya.
Iih,gak nyangka banget deh.Dalam benak Vio,mungkin Guntara itu anak orang kaya sampe dia sering marah-marah sama semua orang karena terbiasa dengan semua pembokat bayaran bokapnya. Tau-taunya, Guntara itu ngga punya bonyok. Mungkin itu yang menyebabkan dia rendah diri.
“Udah dari dulu ya,Guntara sering marah-marah?” Jerry menggeleng,
“Gue ngga tau.Walau udah 18 tahun serumah sama dia,ngga ada orang dirumah ini yang bisa nebak kayak apa Gugun itu.Termasuk gue.”
“Gugun?Ooh. Apa ada kemungkinan Guntara itu kurang perhatian bonyoknya. Karena dari dulu cuma dibesarin sama oom dan tantenya?”
“Bonyok gue udah ngasih perhatian ekstra sama dia. Tapi tetep aja,dia sering marah sama semua orang yang ingin berbaik hati sama dia. Katanya dia ngga mau dikasihani. Padahal semua orang tulus kasih perhatian sama dia. Dia gak mudah percaya orang. Gue selalu jaga perasaan dia. Jadi gue ngga pernah ikut campur segala urusannya. Daripada entar dia udah gak percaya sama gue. Bisa berabe urusannya.” Vio pamit pulang, perasaan aneh berkecamuk dalam pikirannya. Guntara itu aneh!!!
“Sekali lagi lo ngomong lagi,lo bakal kena tampar gue!” Sinting, masih pagi juga kenapa Guntara cari masalah sama sekretaris OSIS 3, Lovy.
“Ngga bisa apa lo gak kasar sama cewe. Gue ini beda kelamin sama lo. Jadi jangan perlakukan gue seperti lo memperlakukan cowok, NGERTI?” entah apa yang mereka pertengkarkan. Vio muncul dari kerumunan orang di mejanya.
“Heh! Masih pagi, gak bisa tenang apa?” tengahnya.
“Gak usah ikut campur, parasit!!” baru sekali ini dalam hidup Vio dirinya dipanggil parasit. Seolah kehadirannya hanya menggang- gu orang-orang disekitarnya.Mendengar julukan barunya yang dibe rikan oleh Gugun, dia segera berontak. “Soalnya kalo elo punya masa lah lo selalu beresin dengan otot lo. Bukan dengan otak. Itu yang buat masalah kecil jadi masalah yang lebih besar, Guntara! Elo udah kelas 3 lo harusnya lebih dewasa sedikit aja.”
“Tuh denger, anak baru aja bisa ngomong gitu.” Lovy sedikit ringan dirinya dibela namun anak-anak cowo lain seolah enggan untuk ikut campur.
“Gun,emang, what’s happening?” tanya Vio dengan sabar.
“Apa elo nggak pernah diajarin sama bonyok lo untuk nggak ikut campur dengan urusan orang lain,hah?” seperti kejadian kemarin,Guntara menepuk pundak Vio dengan kepalan tangannya. Emang ngga terlalu sakit sih,tapi yang sakit dihati Vio.
“Gue sama sekali nggak mau tau urusan lo sama siapa pun. Itu urusan lo!! Tapi gue cuma mau ingetin nggak semua masalah dapat lo selesai’in dengan kekerasan. Gue tau kenyataan kalo elo sebe nernya kurang dapat perhatian dari sekeliling lo.”
Gugun terdiam. Pasti Jerry udah bicara banyak sama setan kecil ini.Kalo nggak dibentak bisa-bisa dia ember kemana aja.
“Eh anak baru,tau apa lo tentang gue?!! Lo pikir elo itu siapa, DEWA???” tantang Guntara dengan senyum meremehkan.
“Masalah terbesar dalam diri elo itu, lo nggak bisa percaya sama setiap orang. Lo selalu berpikir semua sama, mereka cuma perduli urusan mereka masing-masing. Padahal, Gun, kalo lo lebih membuka mata lo, lo bakal tau semua orang disekeliling lo sayang sama lo walau lo selalu kasar disetiap tindakan lo. Mereka cuma takut kalo lo bakal nampar ato melakukan hal yang lebih gila lagi.”
Semua anak dikelas itu takjub terpana mendengar sebuah syair puisi yang baru dilontarkan oleh anak baru itu. Seumur hidup gak ada yang berani ngomong gitu ke Gun. Namun ditengah kerter panaan, Guntara justru tertawa sekeras-kerasnya.
“Anak kecil, lo itu yang selalu menutup mata lo. Lo harus liat,dunia ini kejam. Gak ada seorang pun didunia yang dapat kita percaya. Kalo mereka bertindak baik, mereka pasti ada perlunya dengan kita. Giliran gak butuh,di buang gitu aja kayak sampah. MUNAFIK!!!” kala itu mata Gugun menunjukkan penuh kebencian. Itukah yang selama ini ada dipikiran Gugun. Sungguh pikiran yang amat bodoh.
“Gun,gue kasih tau aja. Kalo lo tetap berpikiran begitu sampe lo dewasa,lo gak bakal maju. Dan lo makin memperbodoh diri lo. Gak semua orang munafik. Semua orang memang memiliki sisi kemunafikkan. Tapi gak bakal setiap waktu. Coba deh, lo membuka diri lo, biarkan semua orang tau kayak apa seorang Guntara itu. Pasti mereka bakal ngertiin lo.” Guntara terdiam. Duduk. Pada bangkunya. Lovy udah kabur entah kemana.
“Vi,apa bener semua omongan lo?” baru kali ini Violine melihat sisi lain Guntara. Vio mengangguk.
“Asal lo cerita sama gue lo mau temen kayak apa? Semua tersedia disini mulai dari Jerry Jennica—sepupu lo. Juga gue,Gilang, Sasha, dan juga semua orang yang udah lo tampar. Mereka selama ini gak berani ngomong kayak gini takut lo temperamen terus bakal— yah lo tau sendiri.” Vio tersenyum dan duduk disamping Gugun—tanpa ada rasa was-was sedikit pun.
“Selama ini,gue terlahir gak bisa percaya sama orang. Gue gak tau sama yang rasanya disayangi ortu. Ortu gue udah pada meninggal—“ Vio memotong. “Tapi bukan gak mungkin lo bisa percaya sama orang kan?”
“Iya..mulai saat ini gue bakal mencoba percaya sama orang lain. Thanks ya,Vi.. lo buka hati gue..” Violine Aeris tersenyum lebar. Artinya dia mudah menaklukan cowo dengan syair puisi buatannya. Semua orang yang udah kenal Gugun lama aja nggak bisa bikin Gugun berubah, dan artinya dia menang 250.000 dari kakaknya Pianny. Mereka taruhan 250 rebu kalo Vio berhasil. Emang rada jahat sih, namun hasilnya berhasil. Guntara udah mulai menerima orang-orang disekelilingnya. (TAMAT)
paddlewheel
Paddlewheel
Kincir Air
Keluargaku baru pindah kemari dua hari yang lalu, tentunya aku belum hapal benar tetanggaku.
“Ichie, bagaimana kalau kau keluar rumah sambil berkenalan dengan tetangga barumu?” suruh Mama padaku.
“Nanti saja Ma. Ichie sedang malas sekarang.” Jawabku. Namun lama kelamaan bosan juga dirumah seharian.
Namaku Sandrina Ichie—disapa Ichie. Aku baru saja lulus kuliah jurusan sastra Jerman, tiga bulan yang lalu. Namun belum dapat pekerjaan juga. Kata Mbok Darmi mama lagi pergi ke salon, maka aku minta ijin mbok Darmi untuk pergi keluar rumah.
Ooh, disini ada salon. Mungkin mama ke salon sini. Disampingnya juga ada ruko toko buku. Disampingnya lagi ada supermarket. Strategis sekali rumahku. Pikir Ichie. Ichie melanjutkan berkeliling komplek dengan berjalan kaki.
Ketika melewati sebuah rumah, tiba-tiba Ichie merasa dirinya dipanggil. Entah oleh siapa.
“Ichie..Ichie.. lo Ichie kan?” kata seorang cowok dari balik pagar. Ichie berhenti sebentar untuk mengamati. Dia tidak mengenal cowok itu.
Cowok tanpa identitas itu menghampiri Ichie. Tinggi mereka lumayan jauh. Ichie sampai cape harus mengangkat kepalanya.
“Lo siapa? Gue kayaknya lupa kenal sama lo deh..” ucap Ichie dengan rada ling-lung.
“Huh, dasar belum tua udah pikun. Gimana gedenya? Gue Idris temen kecil lo waktu di Belanda. Lo udah inget belom? Dulu tiap hari lo maen ke rumah gue. Inget’kan rumah gue yang di samping Paddlewheel. Kincir air..” cowok cakep itu penuh senyum. Ichie sambil terus mengamat-amati muka cowok yang bernama Idris itu.
“Paddlewheel? Kayaknya gue udah mulai inget. Dulu lo yang sering metik’in strawberry untuk gue bukan?”
“Yap. Betul sekale. Gue tau lo suka strawberry. Sekarang masih suka?” Tanya Idris.
“Masih..” jawab Ichie.
“Ooh, lo inget gak, dulu kita main Lumpur. Terus karena takut dimarah’in bonyok, kita cebur’in diri ke Paddlewheel. Inget gak?” cowok itu terus mencoba mengulang memory dulu yang sempat terkubur dalam-dalam.
“OOH IYA!! GUE INGET SEKARANG. Lo dulu temen baik gue. Pas gue kelas 3 SD, waktu bokap ditugas’in ke Belanda enam bulan. Kita dulu ketemuannya lucu banget deh.. masih inget ceritanya gak?” Dasar Ichie, tadi diinget-ingetin sekarang malah balik nanya.
“Ya ingetlah. Dulu pas baru lo pindah lo nyasar’kan, terus pas ada gue. Lo nangis seharian di depan kincir air. Akhirnya kita ketawa-ketawa sambil kenalan. Gitu’kan? Idris.. masa lupa sama temen masa kecil..” cowok itu membanggakan dirinya.
“Iya. Banyak hari yang kita lewat’in dengan paddlewheel.” Cewek manis yang ada di depan Idris itu tersenyum tenteram, mengingat enam bulan di Belanda.
“Kapan-kapan kita ke Paddlewheel lagi aja. Dulu kita’kan sering main air disana sampe basah-basah.” Idris juga ketawa sendiri mengingat itu.
“Kok lo sekarang ada disini? Rumah lo ada disini?” Tanya Idris.
“Iya, satu blok dari sini. Blok G, jalan Pemuda Selatan. Nomor 312. Lo juga disini?” Idris menjawab.
“Ngga, ini rumah sodara sepupu gue, gue lagi maen. Rumah gue jauh—di kelapa gading.”
“Idris, lo dimana?” ada sebuah suara dari dalam rumah sepupu Idris.
“Farah, sini. Gue kenal’in sama temen kecil gue.” Teriak Idris. Lalu seorang cewek manis yang sepertinya seusia dengan Ichie muncul mengenakan kaos panjang dan celana jeans hitam ¾.
Begitu saling tatap, antara Ichie dengan cewek itu sepertinya mereka saling kenal.
“Ichie..” teriak Farah.
“Hah? Tiara?” Ichie seakan tidak percaya akan penglihatannya. Dunia itu begitu kecil. Tiara itu teman kuliah Ichie. Sebagai cewek, mereka langsung pelukkan. Idris kaget bukan main, sepupunya kenal dengan temannya.
Setelah melepaskan pelukkan, Idris bertanya.
“Kalian saling kenal?” Farah yang bernama lengkap Katarina Mutiara Farah itu menjawab.
“Iya lah Dris, dia temen kuliah gue. Cuma di kampus gue dipanggil Tiara, bukan Farah. Nah elu, juga udah pada kenal?” tanyanya.
“Iya. Gue kenal Idris di Belanda. Kita sering maen bareng. Gue sering maen ke rumahnya yang deket Paddlewheel.”
Paddlewheel-lah yang telah menyatukan dua teman kecil itu.
****TAMAT****
Kincir Air
Keluargaku baru pindah kemari dua hari yang lalu, tentunya aku belum hapal benar tetanggaku.
“Ichie, bagaimana kalau kau keluar rumah sambil berkenalan dengan tetangga barumu?” suruh Mama padaku.
“Nanti saja Ma. Ichie sedang malas sekarang.” Jawabku. Namun lama kelamaan bosan juga dirumah seharian.
Namaku Sandrina Ichie—disapa Ichie. Aku baru saja lulus kuliah jurusan sastra Jerman, tiga bulan yang lalu. Namun belum dapat pekerjaan juga. Kata Mbok Darmi mama lagi pergi ke salon, maka aku minta ijin mbok Darmi untuk pergi keluar rumah.
Ooh, disini ada salon. Mungkin mama ke salon sini. Disampingnya juga ada ruko toko buku. Disampingnya lagi ada supermarket. Strategis sekali rumahku. Pikir Ichie. Ichie melanjutkan berkeliling komplek dengan berjalan kaki.
Ketika melewati sebuah rumah, tiba-tiba Ichie merasa dirinya dipanggil. Entah oleh siapa.
“Ichie..Ichie.. lo Ichie kan?” kata seorang cowok dari balik pagar. Ichie berhenti sebentar untuk mengamati. Dia tidak mengenal cowok itu.
Cowok tanpa identitas itu menghampiri Ichie. Tinggi mereka lumayan jauh. Ichie sampai cape harus mengangkat kepalanya.
“Lo siapa? Gue kayaknya lupa kenal sama lo deh..” ucap Ichie dengan rada ling-lung.
“Huh, dasar belum tua udah pikun. Gimana gedenya? Gue Idris temen kecil lo waktu di Belanda. Lo udah inget belom? Dulu tiap hari lo maen ke rumah gue. Inget’kan rumah gue yang di samping Paddlewheel. Kincir air..” cowok cakep itu penuh senyum. Ichie sambil terus mengamat-amati muka cowok yang bernama Idris itu.
“Paddlewheel? Kayaknya gue udah mulai inget. Dulu lo yang sering metik’in strawberry untuk gue bukan?”
“Yap. Betul sekale. Gue tau lo suka strawberry. Sekarang masih suka?” Tanya Idris.
“Masih..” jawab Ichie.
“Ooh, lo inget gak, dulu kita main Lumpur. Terus karena takut dimarah’in bonyok, kita cebur’in diri ke Paddlewheel. Inget gak?” cowok itu terus mencoba mengulang memory dulu yang sempat terkubur dalam-dalam.
“OOH IYA!! GUE INGET SEKARANG. Lo dulu temen baik gue. Pas gue kelas 3 SD, waktu bokap ditugas’in ke Belanda enam bulan. Kita dulu ketemuannya lucu banget deh.. masih inget ceritanya gak?” Dasar Ichie, tadi diinget-ingetin sekarang malah balik nanya.
“Ya ingetlah. Dulu pas baru lo pindah lo nyasar’kan, terus pas ada gue. Lo nangis seharian di depan kincir air. Akhirnya kita ketawa-ketawa sambil kenalan. Gitu’kan? Idris.. masa lupa sama temen masa kecil..” cowok itu membanggakan dirinya.
“Iya. Banyak hari yang kita lewat’in dengan paddlewheel.” Cewek manis yang ada di depan Idris itu tersenyum tenteram, mengingat enam bulan di Belanda.
“Kapan-kapan kita ke Paddlewheel lagi aja. Dulu kita’kan sering main air disana sampe basah-basah.” Idris juga ketawa sendiri mengingat itu.
“Kok lo sekarang ada disini? Rumah lo ada disini?” Tanya Idris.
“Iya, satu blok dari sini. Blok G, jalan Pemuda Selatan. Nomor 312. Lo juga disini?” Idris menjawab.
“Ngga, ini rumah sodara sepupu gue, gue lagi maen. Rumah gue jauh—di kelapa gading.”
“Idris, lo dimana?” ada sebuah suara dari dalam rumah sepupu Idris.
“Farah, sini. Gue kenal’in sama temen kecil gue.” Teriak Idris. Lalu seorang cewek manis yang sepertinya seusia dengan Ichie muncul mengenakan kaos panjang dan celana jeans hitam ¾.
Begitu saling tatap, antara Ichie dengan cewek itu sepertinya mereka saling kenal.
“Ichie..” teriak Farah.
“Hah? Tiara?” Ichie seakan tidak percaya akan penglihatannya. Dunia itu begitu kecil. Tiara itu teman kuliah Ichie. Sebagai cewek, mereka langsung pelukkan. Idris kaget bukan main, sepupunya kenal dengan temannya.
Setelah melepaskan pelukkan, Idris bertanya.
“Kalian saling kenal?” Farah yang bernama lengkap Katarina Mutiara Farah itu menjawab.
“Iya lah Dris, dia temen kuliah gue. Cuma di kampus gue dipanggil Tiara, bukan Farah. Nah elu, juga udah pada kenal?” tanyanya.
“Iya. Gue kenal Idris di Belanda. Kita sering maen bareng. Gue sering maen ke rumahnya yang deket Paddlewheel.”
Paddlewheel-lah yang telah menyatukan dua teman kecil itu.
****TAMAT****
our second home
Our Second Home
Sekarang pukul empat sore.Seluruh penghuni asrama sudah pulang dari sekolah.Semenit saja terlambat datang—bisa kena amukan Suster Helsa,pengawas asrama wanita “St.Maria Rosario”
Ditiap kamar dihuni empat anak perempuan. Penghuni kamar no.34 di lantai tiga ialah Hillary,Elizabeth,Teresia,dan Vinza.Mereka tidak hanya kompak di asrama,tetapi juga kompak di sekolah.
“Hhm,eh temen-temen nanti kata suster kita harus bangun jam dua belas malem—untuk berdoa rosario.”lapor Elizabeth yang agak gendut.
“Iih,malees ya,boo..bangun malem-malem.”keluh Vinza.
“Terus gimana dong?” tanya Teresia.
“Kita kabur aja..”tantang Vinza.
Teresia, Elizabeth,Hillary memandangi temannya yang dipikir mereka sudah sinting! Suster Helsa itu adalah ancaman! Dia sangat galak—ketat—namun kompeten! Segala yang diperintah kannya tidak boleh sama sekali dilanggar.
Kembali kemasalah anak-anak itu.
“Vinza, elo masih waras `pa ngga sih?” komplen Elizabeth
“Tau..Kalo sinting jangan ajak-ajak dong..mentang-mentang setia kawan—bukan gini yang namanya setia kawan. Ini`sih setengah gila…” Teresia geleng-geleng—sembari masih asyik ber-smsan dengan kekasihnya—Yosua.
“Heh,,heh,,elo bertiga mikir gue bakal ngaruh`in elo pada gitu? Gila loh ya,,,masa gue setega itu?! Hei—gue ini Vinza, bukan buronan polisi.” Vinza mondar-mandir dikamar menjelaskan ngalor-ngidul ide sintingnya.
“Terus maksud elo kabur dari doa rosario malam ini apa?” tanya Hillary yang cantik itu.
“Ya..bukankah kalian semua setuju kalau lebih baik tidur daripada berdoa sambil ngantuk-ngantuk? Doa kita tidak akan konsen—doa kita tak`kan dikabulkan dan untuk belajar besok kalian akan ngantuk-ngantuk.” Hillary, Teresia,dan Elizabeth saling pandang! Sepertinya benar—benar Vinza udah sinting.
Tiba-tiba sesuatu datang—lebih buruk dari angin topan atau tornado, atau tsunami sekalipun.
SUSTER HELSA ,,,, !!!
MUNCUL DIDEPAN MATA MEREKA
“Eehmm..” si Ancaman itu berdehem.Vinza memalingkan wajahnya—siapa ya, yang masuk-masuk kamar orang.Setelah dipa lingkan wajahnya—detak jantungnya seakan mau copot. Dan dia tidak bisa membayangkan akan mendapat hukuman apa dia?
Vinza dan kawan-kawan menunduk.
“Iya suster tahu—kalau doa rosario malam itu membosankan membuat kalian mengantuk keesokan harinya,membuat kalian tidak bisa konsen berdoa, dan tidak akan dikabulkan doanya.Tapi yang saya tahu—mencuci kamar mandi lima hari tidak terlalu buruk,bukan,Vinza…” Vinza membelakkan matanya. Kaget! “Ya mulai nanti sore bersihkan kamar mandi lantai dua dan tiga!” lalu suster kiler itu sekejap menghilang dari pandangan mata!
Mereka berempat terdiam.
Hening.
Hingga suara Vinza memecah keheningan. “AAAHHHH… sialan! Kalau kayak begini gimana mau kabur!!” marahnya! Dia mondar-mandir di kamar.Yang lain hanya memandang tak karuan
“Udahlah,Vin,kita ikutin aja apa kata nenek lampir itu!” kata Teresia tidak mau ambil pusing.Sambil terkadang mengang- kat telpon dari Yosua.
“Iya..Jangan sampe kayak bulan lalu—gara-gara ulah lo yang sok kabur dari asrama——kita semua kena dampratnya.Orang tua kita semua dipanggil.Padahal itu salah elo..” kata Elizabeth gerah dengan ulah Vinza.
“Oh iya! Sekarang gue tahu—lo semua nggak punya jiwa nasionalisme!!”
What`s? Vinza berbicara tentang nasionalisme?
“Gue tau—kalian terlalu cemen untuk kabur dari doa rosario, tapi sekarang..”
“Gue udah bukan bagian dari elo semua!!!” teriak Vinza.
PLAK….!!
Sebuah tamparan ditujukan pada Vinza.
“Ngomong apa lo`barusan?” marah Elizabeth.
“Apa elo lupa—kalau kita pertama kali bertemu, kita nggak saling kenal, kita kemudian kenalan, dan.. dan.. elo penggagas berdirinya gank kita ini..! Vinza! Sadar dong..” Elizabeth marah bukan main.
BUUUUK…
Vinza mendorong tubuh gendut Elizabeth ke belakang. Ia terhuyung jatuh.
“Gue udah gak perduli! Gue nggak perduli gank ini. Anggap aja kita nggak saling kenal.” Vinza terlihat amat marah, yang dilihat anak lain justru Vinza mengobrak-abrik lemarinya. Menge luarkan tali panjang.
Tali itu tali yang sempat digunakan oleh empat sahabat itu saat mereka kabur sebulan yang lalu. Namun tertangkap oleh Suster Helsa, jadi orang tua mereka dipanggil. Tali itu saksi bisu saat empat sahabat itu masih kompak,masih memperjuangkan nasionalisme!
“Vinza, Vinza mau kemana? Mau ninggal`in Hillary`ya?” Hillary ketakutan melihat pemandangan ribut barusan.Selama ini Hillary ialah orang yang dikenal amat dekat dengan Vinza.
“Hillary,jangan takut,gue cuma mau kabur.Dan gue nggak akan melibatkan siapa pun dalam tindakan gue ini.Biar aja sifat nasionalisme kita padam dulu untuk sementara.”
“Eh, lo jangan sok-sok pakai nama nasionalisme ya! Gue yakin lo nggak ngerti arti daripada nasionalisme itu sendiri!!” oceh Elizabeth yang barusan menampar Vinza.
“Iya Beth,gue tahu—lo bintang kelas kita.Gue tahu,gue ini cuma rengking dua puluh empat dari dua puluh lima siswa,gue tahu—gue nggak ngerti arti nasionalisme itu sendiri,tapi gue tahu—lo nggak akan merasa terganggu kalau gue nggak ada—karena gue cuma parasit!”
Semua anak cewek di ruangan itu terpana. Vinza dapat berkata begitu. Hal lain yang Teresia,Elizabeth dan Hillary lihat adalah bahwa Vinza melakukan hal gila,sama persis yang dilakukan empat sahabat itu sebulan yang lalu.
“VINZAAA…” Hillary dan Teresia tak rela sahabatnya itu kabur sendiri saja.
“Sudahlah,Vinza mungkin memang membutuhkan kesendirian.” Ujar Elizabeth sok merasa tak khawatir,namun sesungguhnya—dihatinya yang paling dalam,ia sangat khawatir pada Vinza.
Hillary dan Teresia menangis tersedu-sedu.
“Beth,kalau suster Helsa nanya kemana perginya Vinza bagaimana?” tanya Teresia.
“Kita bilang aja—dia ke kamar mandi.” Elizabeth sok cuek.
“Nggak mungkin bisa bertahan lama. Suster killer itu pasti akan curiga.” Timbal Hillary.
“Ya udah!! Kita pikirkan saja nanti..Gue capek.Mau tidur…!!” Elizabeth marah lagi, gadis gemuk itu menuju tempat tidurnya dan menutupi dirinya dengan selimut.
Sesungguhnya Elizabeth menangis dibalik selimut itu.Ia merasa bersalah pada Vinza telah berkata kasar,dan telah menamparnya. Juga kesannya Elizabeth itu sombong—mentang-mentang dirinya pintar dan Vinza tidak pintar.
Acara kabur itu memang berlangsung mulus. Vinza telah berhasil kabur ke hutan kecil dibelakang asrama. Tempat itu pula tempat dahulu mereka kabur.
“Huh. Elizabeth sombong! Gue ngerti kok arti nasionalisme, nasionalisme itu kekompakkan`kan..” kata Vinza gerah. Ia membawa ransel dipundaknya. Ia benar-benar ingin pergi. Entah pergi kemana.
“Gue nggak punya temen!!!!” teriak Vinza. Namun tak ada yang mendengar perkataannya kecuali nyamuk dan serangga-serangga bodoh.
“Gue temen lo—Vinza…” tiba-tiba ada sesuara. Vinza terkesiap! Siapa pemilik suara itu.
“Siapa? Siapa? Siapa yang ada dihutan ini…?”
“..ya tentu saja.. penunggu hutan ini…”
Vinza terjatuh dibawah sebuah pohon. Jantungnya berdegup kencang. Bleum pernah terjadi kejadian ini sebelumnya. Belum pernah ia bertemu dengan hantu.
“Kau hantu ya..? Tolong.. jangan takuti aku. Aku ini benar-benar takut hantu. Aku sadar aku ini telah banyak melakukan dosa. Aku telah membuat orang tuaku gusar. Aku sering mengecewakan teman-temanku terlebih Elizabeth, aku egois, aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Aku juga telah lama nggak mengaku dosa. Tapi kumohon—jangan makan atau bunuh aku, pliss…” Vinza mengatakan itu dengan penuh ketakutan tangannya bergetar cukup cepat.
Suara ajaib itu tertawa.
Suaranya seperti tawa manusia normal.
“Kenapa tertawa? Hantu?”
“Wahahaaa… Tenang aja, gue nggak kanibal kok. Gue memang hantu, tapi hantu yang lo kenal.” Dasar suara aneh.
Vinza yang cukup tomboy telah nggak takut lagi. Justru shock akan penjelasan dari hantu itu.
“Memang elo siapa? Apa kita telah kenal sebelumnya?”
“Tentu saja. Gue ini…”
Semenjak peristiwa itu, Hillary terus menerus menangis di pelukkan Teresia. Elizabeth yang barusan bertengkar hebat dengan Vinza dari tadi tidur. Tidak beranjak dari ranjangnya.
“Ter, kenapa`sih.. Elizabeth sama Vinza egois kayak begitu.. seperti tidak saling kenal satu sama lain.” Keluh Hillary sambil terisak-isak.
“Entahlah. Mungkin sifat egois mereka berdua saat ini sedang meledak-ledak. Kita berdoa aja supaya teman kita kembali seperti semula.” Kata Teresia dengan tangan kiri memegang ponsel—ia tak pernah lepas dari ponsel itu. Itu ialah satu-satunya alat canggih yang dapat mempertemukannya dengan Yosua.
Lalu muncullah Ellia. Teman satu asramanya. Tepatnya Ellia itu masih junior.
“Kak Vinza ada?” tanyanya pada Hillary.
“Mm… Lagi di tidur tuuh…” yang menjawab Teresia sambil menunjuk ke arah ranjangnya Elizabeth. Yaah—agak bohong sedikit sih.
“Ooh. Kak Vinza lagi tidur, ya Kak Teresia, ya sudah. Tadi Suster Helsa titip pesan supaya Kak Vinza jangan lupa melakukan hukuman yang diberikan olehnya. Begitu.”
“Ooh iya. Beres. Nanti gue yang sampaikan.”
Kembali ke masalah Vinza dengan orang aneh yang tak dikenalnya. Kini Vinza tertawa-tawa dengan hantu yang ditemuinya—hantu yang selama ini menetap di hutan kecil yang berdekatan dengan asramanya.
Hantu itu tidak lain, tidak bukan, ialah Bastian. Kakak kandung Vinza yang meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil.
“Kakak, aku seneng deh, bisa ketemu kakak disini, udah lama ya, kita nggak ngobrol kayak gini…” kenang Vinza—walaupun tidak melihat kakaknya secara langsung.
“Terang`lah… Kakak`kan meninggal dua tahun yang lalu..”
“Iya, bahkan sampai sekarang—tiap hari dimana kakak meninggal selalu diadakan doa bersama di rumah lho`kak…” kata Vinza.
Hantu Bastian tidak membalas.
“Kok kakak disini?”
“Mau jaga`in adik kakak yang nakal ini…”
Dua kakak beradik yang terpisah dunia itu tertawa bersamaan. Semasa hidupnya—memang Bastianlah kakak tersayangnya Vinza. Vinza ialah bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya William—kini telah menikah dan mempunyai seorang bayi. Ialah dari tiga bersaudara itu yang sukses. Willi seorang dokter juga terkenal sebagai penulis buku ilmu pengetahuan. Berbeda jauh dengan Bastian dan Vinza.
Bastian semenjak kuliah—kerjaannya ngetrek melulu, kuliahnya nggak kelar-kelar, sampai akhirnya meninggal dikala usia 19 tahun, tidak berbeda jauh dengan Vinza, gadis biang ulah semenjak di bangku SMP. Lalu akhirnya dimasukkan ke asrama agar pendidikan agamanya terdidik.
“Kabarnya koko gimana?” Bastian menanyakan kabar koko tertuanya—William.
“Oh, koko sama cici Marsya sekarang lagi tinggal di Aussie, soalnya cici Marsya ngambil S3 disana.” Jawab Vinza
“Woow.. Aku kangen nih, sama mereka.”
“Aku juga. Udah sebulan lebih nggak pulang ke rumah.”
“Terus, kalau Maria, sekarang umurnya udah berapa tahun?” Maria itu ialah puteri tunggal dari koko Willi dan cici Marsya. “Ooh, sekarang udah tiga tahun, bahkan, dia udah mau punya adik. Soalnya cici Marsya udah hamil lagi.”
“Aduuuuh,,, aku jadi semakin kangen dengan kalian.”
“Kak, aku boleh cerita sama mama kalau aku ngobrol banyak tentang kakak?” tanya Vinza. “Eeh, eeh, jangan.. Vinza—kamu tahu sendiri hubungan aku sama bonyok nggak begitu baik, biarin aja—ini jadi rahasia kita. Kakak berada disini juga tidak lain untuk jaga`in adik kesayangan kakak. Makanya—waktu kamu berantem sama gank kamu, kakak mau bikin keadaan kamu lebih baik.”
“Ooh, kakak tahu—mengenai aku berantem sama Elizabeth..?”
“Dan juga—segala ulahmu selama tinggal di asrama ini!!” Vinza tertawa. Jadi, rupanya, kakak kesayangannya itu selalu melindunginya dari jauh. Vinza tersenyum bahagia. Kakaknya selama ini tinggal tidak jauh dari sisinya.
“Vinza, pulang`lah…” bujuk Bastian. Sifat egois Vinza balik lagi. Dia ngambek. Dia memang anaknya egois dan tak mau menyerah akan suatu hal.
“Kakak!! Kakak`sih, nggak tahu—teman-temanku itu sama sekali nggak punya jiwa nasionalisme barang sekali. Mereka nggak membela aku waktu di marahin suster Helsa. Mereka juga nggak dukung aku untuk kabur.. pokoknya mereka ngecewa`in Vinza!!!” teriak Vinza.
“Vinza—dengerin dulu,, mereka pasti punya alasan. Mereka nggak mau nilai-nilai mereka tambah jelek, makanya mereka nggak mau kamu ajak kabur.”
“Kok jadi kakak sih yang m`bela`in Elizabeth?” omel Vinza nggak karuan, lalu berdiri dengan tangan dilipat.
“Kakak nggak mbela, tapi…” omongan Bastian diputus Vinza.
“Tapi apa?”
“Tapi, kakak nggak mau nasib kamu sama kayak nasib kakak…” semejak Bastian mengatakan hal itu, muka Vinza menunduk. Berpikir barangkali dia.
“Apa kamu mau, meninggal sia-sia kayak kakak?”
“Tapi`kan, aku nggak ngetrek mobil`kak…”
“Tapi kamu selalu berusaha kabur dari asrama lantai tiga…” bantah Bastian. Vinza kembali berdiam diri.
“Tapi.. Tapi kalau itu Vinza nggak pernah sampai meninggal dunia`kan..” Vinza masih terus saja berkilah. Memang itulah yang menjadi ciri khasnya. Bastian lelah juga memberitahu adiknya.
“Aduduh… Vinza. Kamu tuh kalo nggak ngeyel nggak bisa ya? Kamu nggak bisa apa denger`in kata-kata kakak sekali aja.. Kamu pulang aja sebaiknya.”
Vinza diam sejenak.
Memikirkan kata-kata kakaknya barusan yang menyebutkan dirinya yang selalu menyela kata-kata orang. Vinza baru sadar ternyata dirinyalah yang memang nakal. Tidak pernah mendengarkan kata-kata orang lain. Termasuk Elizabeth.
“Kata-kata kakak nggak salah sama sekali`kan?”
Vinza masih terus saja diam.
“Pulanglah Vinza. Dengarkan kata-kata teman-temanmu, terutama Elizabeth. Dia sebenarnya sayang sama kamu. Kamu nggak tahu`kan?! Sehabis kamu kabur dia sesungguhnya menangis telah menamparmu. Ia menangis dibalik kasur. Dia sungguh sayang sama kamu. Pulanglah, Vinza..”
Adik dari Bastian yang nakal itu akhirnya membuka mulut.
“Apa benar Elizabeth benar-benar nangis karena aku kabur? Kakak nggak bohong?” Bastian terus saja mencoba menyakinkan Vinza bahwa teman-teman sekamarnya ialah memang teman-teman yang baik. Teman-teman yang tidak mau Vinza berbuat sesuatu yang gila.
“Kalau begitu, yang salah tuh, Vinza`ya`Kak?”
“Iya. Elizabeth juga sebenarnya salah. Dia menghina karena kamu nggak begitu pintar dipelajaran, tetapi setelah kamu kabur, dia benar-benar menyesal.” Begitu kata Bastian.
Kemudian, tersungging senyuman di bibir Vinza. Lalu dia berkata, “Baiklah.Kakak nggak mungkin bohong, jadi sekarang adek akan pulang, minta maaf sama mereka, terutama pada Elizabeth, sebenarnya dia benar. Aku nggak tahu benar apa arti nasionalisme itu. Juga adek akan ngelakuin hukuman yang diberikan oleh Suster Mak Lampir itu. Hehehe.. Kak Bastian akan jaga aku terus`kan?”
“Tentu. Kakak akan jaga kamu dari jauh…”
Dengan langkah pasti, Vinza berlari kearah sebaliknya. Kearah rumah keduanya—Asrama wanita St.Maria Rosario. Kini, Vinza sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk meminta maaf kepada Elizabeth, Hillary dan Teresia. Apalagi pada Hillary, yang pasti saat ini sedang khawatir setengah mati padanya.
Gedung asrama yang lantai lima itu berdiri kokoh dihadap annya. Lalu ia lewat pintu rahasia untuk masuk kedalam gedung. Yang tahu jalan pintas itu hanyalah gank mereka. Gank yang cukup terkenal sebagai gank paling kompak dan jarang terlibat masalah internal—kecuali masalah dengan Suster Helsa. Kalau itu—gank mereka terkenal sebagai gank yang biang onar di asrama itu.
Lalu—kamar no.34 Lantai 3 ada didepan Vinza. Ia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tiga sahabatnya. Lalu terdengar suara gaib yang berasal dari Bastian,
“Ayo, Vinza, beranikan dirimu…” bujuk Bastian.
Sedikit memaksa diri, Vinza membuka pintu kamarnya.
Dan—apa yang dilihatnya?
Teresia, Hillary dan Elizabeth duduk termenung dipojok kamar. Mereka bertiga kontan kaget seperti melihat hantu saja. Padahal—yang ada dihadapannya ialah Vinza. Sahabat mereka.
Vinza tersenyum kaku, lalu menghampiri tiga sahabatnya itu.
Mereka bereempat penuh keheningan, seperti pada upacara pemakaman saja.
Vinza segera mendekap tiga sahabat baiknya. Keempat anak itu menangis bersamaan. “Hiks..Hiks..Ooh.. Dramatis sekali, seperti pada film-film.. Ooh.. Andai aku masih hidup..” kata Bastian yang juga menonton pertunjukkan tangis itu.
“Teman-teman maaf`in gue.. Gue terlalu egois, bilang gank kita bubar. Padahal gue dulu yang semangat banget bikin gank ini. Maaf`in gue. Gue sadar—gue emang terlalu egois untuk maksa kehendak gue, yang sebenarnya nggak ada guna!!” pelukan itu kemudian perlahan-lahan terlepas.
Semua saling berpandangan. Semua mengeluarkan air mata.
“Vinza, jangan kabur lagi, ya, gue`tuh sayang banget sama lo. Gue nggak mau lo terluka sedikit pun. Apalagi, pergi kehutan sendirian tanpa kami. Tar kalo lo dimakan macam—gimana?! Kita`kan pasti menyesal sekali. Hiks..Hiks..” tangis Hillary. Ia kemudian dihibur Teresia dan Vinza.
“Iya deh—maaf ya, Hillary..” kata Vinza, sikapnya tadi yang menyakitkan hati itu tak tampak lagi.
“Tau nih, lo bikin kita khawatir..” tambah Teresia. Ia sudah tidak asyik lagi dengan ponselnya. Ia mungkin istirahat sebentar untuk menyelesaikan masalahnya dengan teman-temannya.
Kemudian, Vinza menatap Elizabeth. Dua-duanya merasa tak enak. Akhirnya Elizabeth yang menyudahi pertengakaran ini.
“Kayaknya kita harus mengusir egois kita. Agar gank kita ini bisa tetap berdiri.”
“Iya, Beth, gue minta maaf. Gue sadar gue nyakitin lo dan anak-anak..” mereka berdua saling berpandangan. Kemudian berpelukkan. Teresia dan Hillary memandanginya penuh kebahagiaan.
“Sorry.. Gue janji nggak akan sombong dengan kepintaran gue.” Kata Elizabeth. Pelukan itu terlepas.
“Gue juga mau jujur—sebenarnya gue nggak tahu makna nasionalisme.” Wahahahahaa… Keempat perempuan yang tidur satu kamar itu tertawa bersamaan.
Lalu—Teresia, Hillary dan Elizabeth ikut menanggung hukuman Vinza yakni membersihkan kamar mandi lantai dua dan tiga.
“Hiks..Hiks.. Andai waktu gue hidup gue punya sahabat dekat seperti yang dimiliki Vinza…”
---Tamat---
Sekarang pukul empat sore.Seluruh penghuni asrama sudah pulang dari sekolah.Semenit saja terlambat datang—bisa kena amukan Suster Helsa,pengawas asrama wanita “St.Maria Rosario”
Ditiap kamar dihuni empat anak perempuan. Penghuni kamar no.34 di lantai tiga ialah Hillary,Elizabeth,Teresia,dan Vinza.Mereka tidak hanya kompak di asrama,tetapi juga kompak di sekolah.
“Hhm,eh temen-temen nanti kata suster kita harus bangun jam dua belas malem—untuk berdoa rosario.”lapor Elizabeth yang agak gendut.
“Iih,malees ya,boo..bangun malem-malem.”keluh Vinza.
“Terus gimana dong?” tanya Teresia.
“Kita kabur aja..”tantang Vinza.
Teresia, Elizabeth,Hillary memandangi temannya yang dipikir mereka sudah sinting! Suster Helsa itu adalah ancaman! Dia sangat galak—ketat—namun kompeten! Segala yang diperintah kannya tidak boleh sama sekali dilanggar.
Kembali kemasalah anak-anak itu.
“Vinza, elo masih waras `pa ngga sih?” komplen Elizabeth
“Tau..Kalo sinting jangan ajak-ajak dong..mentang-mentang setia kawan—bukan gini yang namanya setia kawan. Ini`sih setengah gila…” Teresia geleng-geleng—sembari masih asyik ber-smsan dengan kekasihnya—Yosua.
“Heh,,heh,,elo bertiga mikir gue bakal ngaruh`in elo pada gitu? Gila loh ya,,,masa gue setega itu?! Hei—gue ini Vinza, bukan buronan polisi.” Vinza mondar-mandir dikamar menjelaskan ngalor-ngidul ide sintingnya.
“Terus maksud elo kabur dari doa rosario malam ini apa?” tanya Hillary yang cantik itu.
“Ya..bukankah kalian semua setuju kalau lebih baik tidur daripada berdoa sambil ngantuk-ngantuk? Doa kita tidak akan konsen—doa kita tak`kan dikabulkan dan untuk belajar besok kalian akan ngantuk-ngantuk.” Hillary, Teresia,dan Elizabeth saling pandang! Sepertinya benar—benar Vinza udah sinting.
Tiba-tiba sesuatu datang—lebih buruk dari angin topan atau tornado, atau tsunami sekalipun.
SUSTER HELSA ,,,, !!!
MUNCUL DIDEPAN MATA MEREKA
“Eehmm..” si Ancaman itu berdehem.Vinza memalingkan wajahnya—siapa ya, yang masuk-masuk kamar orang.Setelah dipa lingkan wajahnya—detak jantungnya seakan mau copot. Dan dia tidak bisa membayangkan akan mendapat hukuman apa dia?
Vinza dan kawan-kawan menunduk.
“Iya suster tahu—kalau doa rosario malam itu membosankan membuat kalian mengantuk keesokan harinya,membuat kalian tidak bisa konsen berdoa, dan tidak akan dikabulkan doanya.Tapi yang saya tahu—mencuci kamar mandi lima hari tidak terlalu buruk,bukan,Vinza…” Vinza membelakkan matanya. Kaget! “Ya mulai nanti sore bersihkan kamar mandi lantai dua dan tiga!” lalu suster kiler itu sekejap menghilang dari pandangan mata!
Mereka berempat terdiam.
Hening.
Hingga suara Vinza memecah keheningan. “AAAHHHH… sialan! Kalau kayak begini gimana mau kabur!!” marahnya! Dia mondar-mandir di kamar.Yang lain hanya memandang tak karuan
“Udahlah,Vin,kita ikutin aja apa kata nenek lampir itu!” kata Teresia tidak mau ambil pusing.Sambil terkadang mengang- kat telpon dari Yosua.
“Iya..Jangan sampe kayak bulan lalu—gara-gara ulah lo yang sok kabur dari asrama——kita semua kena dampratnya.Orang tua kita semua dipanggil.Padahal itu salah elo..” kata Elizabeth gerah dengan ulah Vinza.
“Oh iya! Sekarang gue tahu—lo semua nggak punya jiwa nasionalisme!!”
What`s? Vinza berbicara tentang nasionalisme?
“Gue tau—kalian terlalu cemen untuk kabur dari doa rosario, tapi sekarang..”
“Gue udah bukan bagian dari elo semua!!!” teriak Vinza.
PLAK….!!
Sebuah tamparan ditujukan pada Vinza.
“Ngomong apa lo`barusan?” marah Elizabeth.
“Apa elo lupa—kalau kita pertama kali bertemu, kita nggak saling kenal, kita kemudian kenalan, dan.. dan.. elo penggagas berdirinya gank kita ini..! Vinza! Sadar dong..” Elizabeth marah bukan main.
BUUUUK…
Vinza mendorong tubuh gendut Elizabeth ke belakang. Ia terhuyung jatuh.
“Gue udah gak perduli! Gue nggak perduli gank ini. Anggap aja kita nggak saling kenal.” Vinza terlihat amat marah, yang dilihat anak lain justru Vinza mengobrak-abrik lemarinya. Menge luarkan tali panjang.
Tali itu tali yang sempat digunakan oleh empat sahabat itu saat mereka kabur sebulan yang lalu. Namun tertangkap oleh Suster Helsa, jadi orang tua mereka dipanggil. Tali itu saksi bisu saat empat sahabat itu masih kompak,masih memperjuangkan nasionalisme!
“Vinza, Vinza mau kemana? Mau ninggal`in Hillary`ya?” Hillary ketakutan melihat pemandangan ribut barusan.Selama ini Hillary ialah orang yang dikenal amat dekat dengan Vinza.
“Hillary,jangan takut,gue cuma mau kabur.Dan gue nggak akan melibatkan siapa pun dalam tindakan gue ini.Biar aja sifat nasionalisme kita padam dulu untuk sementara.”
“Eh, lo jangan sok-sok pakai nama nasionalisme ya! Gue yakin lo nggak ngerti arti daripada nasionalisme itu sendiri!!” oceh Elizabeth yang barusan menampar Vinza.
“Iya Beth,gue tahu—lo bintang kelas kita.Gue tahu,gue ini cuma rengking dua puluh empat dari dua puluh lima siswa,gue tahu—gue nggak ngerti arti nasionalisme itu sendiri,tapi gue tahu—lo nggak akan merasa terganggu kalau gue nggak ada—karena gue cuma parasit!”
Semua anak cewek di ruangan itu terpana. Vinza dapat berkata begitu. Hal lain yang Teresia,Elizabeth dan Hillary lihat adalah bahwa Vinza melakukan hal gila,sama persis yang dilakukan empat sahabat itu sebulan yang lalu.
“VINZAAA…” Hillary dan Teresia tak rela sahabatnya itu kabur sendiri saja.
“Sudahlah,Vinza mungkin memang membutuhkan kesendirian.” Ujar Elizabeth sok merasa tak khawatir,namun sesungguhnya—dihatinya yang paling dalam,ia sangat khawatir pada Vinza.
Hillary dan Teresia menangis tersedu-sedu.
“Beth,kalau suster Helsa nanya kemana perginya Vinza bagaimana?” tanya Teresia.
“Kita bilang aja—dia ke kamar mandi.” Elizabeth sok cuek.
“Nggak mungkin bisa bertahan lama. Suster killer itu pasti akan curiga.” Timbal Hillary.
“Ya udah!! Kita pikirkan saja nanti..Gue capek.Mau tidur…!!” Elizabeth marah lagi, gadis gemuk itu menuju tempat tidurnya dan menutupi dirinya dengan selimut.
Sesungguhnya Elizabeth menangis dibalik selimut itu.Ia merasa bersalah pada Vinza telah berkata kasar,dan telah menamparnya. Juga kesannya Elizabeth itu sombong—mentang-mentang dirinya pintar dan Vinza tidak pintar.
Acara kabur itu memang berlangsung mulus. Vinza telah berhasil kabur ke hutan kecil dibelakang asrama. Tempat itu pula tempat dahulu mereka kabur.
“Huh. Elizabeth sombong! Gue ngerti kok arti nasionalisme, nasionalisme itu kekompakkan`kan..” kata Vinza gerah. Ia membawa ransel dipundaknya. Ia benar-benar ingin pergi. Entah pergi kemana.
“Gue nggak punya temen!!!!” teriak Vinza. Namun tak ada yang mendengar perkataannya kecuali nyamuk dan serangga-serangga bodoh.
“Gue temen lo—Vinza…” tiba-tiba ada sesuara. Vinza terkesiap! Siapa pemilik suara itu.
“Siapa? Siapa? Siapa yang ada dihutan ini…?”
“..ya tentu saja.. penunggu hutan ini…”
Vinza terjatuh dibawah sebuah pohon. Jantungnya berdegup kencang. Bleum pernah terjadi kejadian ini sebelumnya. Belum pernah ia bertemu dengan hantu.
“Kau hantu ya..? Tolong.. jangan takuti aku. Aku ini benar-benar takut hantu. Aku sadar aku ini telah banyak melakukan dosa. Aku telah membuat orang tuaku gusar. Aku sering mengecewakan teman-temanku terlebih Elizabeth, aku egois, aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Aku juga telah lama nggak mengaku dosa. Tapi kumohon—jangan makan atau bunuh aku, pliss…” Vinza mengatakan itu dengan penuh ketakutan tangannya bergetar cukup cepat.
Suara ajaib itu tertawa.
Suaranya seperti tawa manusia normal.
“Kenapa tertawa? Hantu?”
“Wahahaaa… Tenang aja, gue nggak kanibal kok. Gue memang hantu, tapi hantu yang lo kenal.” Dasar suara aneh.
Vinza yang cukup tomboy telah nggak takut lagi. Justru shock akan penjelasan dari hantu itu.
“Memang elo siapa? Apa kita telah kenal sebelumnya?”
“Tentu saja. Gue ini…”
Semenjak peristiwa itu, Hillary terus menerus menangis di pelukkan Teresia. Elizabeth yang barusan bertengkar hebat dengan Vinza dari tadi tidur. Tidak beranjak dari ranjangnya.
“Ter, kenapa`sih.. Elizabeth sama Vinza egois kayak begitu.. seperti tidak saling kenal satu sama lain.” Keluh Hillary sambil terisak-isak.
“Entahlah. Mungkin sifat egois mereka berdua saat ini sedang meledak-ledak. Kita berdoa aja supaya teman kita kembali seperti semula.” Kata Teresia dengan tangan kiri memegang ponsel—ia tak pernah lepas dari ponsel itu. Itu ialah satu-satunya alat canggih yang dapat mempertemukannya dengan Yosua.
Lalu muncullah Ellia. Teman satu asramanya. Tepatnya Ellia itu masih junior.
“Kak Vinza ada?” tanyanya pada Hillary.
“Mm… Lagi di tidur tuuh…” yang menjawab Teresia sambil menunjuk ke arah ranjangnya Elizabeth. Yaah—agak bohong sedikit sih.
“Ooh. Kak Vinza lagi tidur, ya Kak Teresia, ya sudah. Tadi Suster Helsa titip pesan supaya Kak Vinza jangan lupa melakukan hukuman yang diberikan olehnya. Begitu.”
“Ooh iya. Beres. Nanti gue yang sampaikan.”
Kembali ke masalah Vinza dengan orang aneh yang tak dikenalnya. Kini Vinza tertawa-tawa dengan hantu yang ditemuinya—hantu yang selama ini menetap di hutan kecil yang berdekatan dengan asramanya.
Hantu itu tidak lain, tidak bukan, ialah Bastian. Kakak kandung Vinza yang meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil.
“Kakak, aku seneng deh, bisa ketemu kakak disini, udah lama ya, kita nggak ngobrol kayak gini…” kenang Vinza—walaupun tidak melihat kakaknya secara langsung.
“Terang`lah… Kakak`kan meninggal dua tahun yang lalu..”
“Iya, bahkan sampai sekarang—tiap hari dimana kakak meninggal selalu diadakan doa bersama di rumah lho`kak…” kata Vinza.
Hantu Bastian tidak membalas.
“Kok kakak disini?”
“Mau jaga`in adik kakak yang nakal ini…”
Dua kakak beradik yang terpisah dunia itu tertawa bersamaan. Semasa hidupnya—memang Bastianlah kakak tersayangnya Vinza. Vinza ialah bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya William—kini telah menikah dan mempunyai seorang bayi. Ialah dari tiga bersaudara itu yang sukses. Willi seorang dokter juga terkenal sebagai penulis buku ilmu pengetahuan. Berbeda jauh dengan Bastian dan Vinza.
Bastian semenjak kuliah—kerjaannya ngetrek melulu, kuliahnya nggak kelar-kelar, sampai akhirnya meninggal dikala usia 19 tahun, tidak berbeda jauh dengan Vinza, gadis biang ulah semenjak di bangku SMP. Lalu akhirnya dimasukkan ke asrama agar pendidikan agamanya terdidik.
“Kabarnya koko gimana?” Bastian menanyakan kabar koko tertuanya—William.
“Oh, koko sama cici Marsya sekarang lagi tinggal di Aussie, soalnya cici Marsya ngambil S3 disana.” Jawab Vinza
“Woow.. Aku kangen nih, sama mereka.”
“Aku juga. Udah sebulan lebih nggak pulang ke rumah.”
“Terus, kalau Maria, sekarang umurnya udah berapa tahun?” Maria itu ialah puteri tunggal dari koko Willi dan cici Marsya. “Ooh, sekarang udah tiga tahun, bahkan, dia udah mau punya adik. Soalnya cici Marsya udah hamil lagi.”
“Aduuuuh,,, aku jadi semakin kangen dengan kalian.”
“Kak, aku boleh cerita sama mama kalau aku ngobrol banyak tentang kakak?” tanya Vinza. “Eeh, eeh, jangan.. Vinza—kamu tahu sendiri hubungan aku sama bonyok nggak begitu baik, biarin aja—ini jadi rahasia kita. Kakak berada disini juga tidak lain untuk jaga`in adik kesayangan kakak. Makanya—waktu kamu berantem sama gank kamu, kakak mau bikin keadaan kamu lebih baik.”
“Ooh, kakak tahu—mengenai aku berantem sama Elizabeth..?”
“Dan juga—segala ulahmu selama tinggal di asrama ini!!” Vinza tertawa. Jadi, rupanya, kakak kesayangannya itu selalu melindunginya dari jauh. Vinza tersenyum bahagia. Kakaknya selama ini tinggal tidak jauh dari sisinya.
“Vinza, pulang`lah…” bujuk Bastian. Sifat egois Vinza balik lagi. Dia ngambek. Dia memang anaknya egois dan tak mau menyerah akan suatu hal.
“Kakak!! Kakak`sih, nggak tahu—teman-temanku itu sama sekali nggak punya jiwa nasionalisme barang sekali. Mereka nggak membela aku waktu di marahin suster Helsa. Mereka juga nggak dukung aku untuk kabur.. pokoknya mereka ngecewa`in Vinza!!!” teriak Vinza.
“Vinza—dengerin dulu,, mereka pasti punya alasan. Mereka nggak mau nilai-nilai mereka tambah jelek, makanya mereka nggak mau kamu ajak kabur.”
“Kok jadi kakak sih yang m`bela`in Elizabeth?” omel Vinza nggak karuan, lalu berdiri dengan tangan dilipat.
“Kakak nggak mbela, tapi…” omongan Bastian diputus Vinza.
“Tapi apa?”
“Tapi, kakak nggak mau nasib kamu sama kayak nasib kakak…” semejak Bastian mengatakan hal itu, muka Vinza menunduk. Berpikir barangkali dia.
“Apa kamu mau, meninggal sia-sia kayak kakak?”
“Tapi`kan, aku nggak ngetrek mobil`kak…”
“Tapi kamu selalu berusaha kabur dari asrama lantai tiga…” bantah Bastian. Vinza kembali berdiam diri.
“Tapi.. Tapi kalau itu Vinza nggak pernah sampai meninggal dunia`kan..” Vinza masih terus saja berkilah. Memang itulah yang menjadi ciri khasnya. Bastian lelah juga memberitahu adiknya.
“Aduduh… Vinza. Kamu tuh kalo nggak ngeyel nggak bisa ya? Kamu nggak bisa apa denger`in kata-kata kakak sekali aja.. Kamu pulang aja sebaiknya.”
Vinza diam sejenak.
Memikirkan kata-kata kakaknya barusan yang menyebutkan dirinya yang selalu menyela kata-kata orang. Vinza baru sadar ternyata dirinyalah yang memang nakal. Tidak pernah mendengarkan kata-kata orang lain. Termasuk Elizabeth.
“Kata-kata kakak nggak salah sama sekali`kan?”
Vinza masih terus saja diam.
“Pulanglah Vinza. Dengarkan kata-kata teman-temanmu, terutama Elizabeth. Dia sebenarnya sayang sama kamu. Kamu nggak tahu`kan?! Sehabis kamu kabur dia sesungguhnya menangis telah menamparmu. Ia menangis dibalik kasur. Dia sungguh sayang sama kamu. Pulanglah, Vinza..”
Adik dari Bastian yang nakal itu akhirnya membuka mulut.
“Apa benar Elizabeth benar-benar nangis karena aku kabur? Kakak nggak bohong?” Bastian terus saja mencoba menyakinkan Vinza bahwa teman-teman sekamarnya ialah memang teman-teman yang baik. Teman-teman yang tidak mau Vinza berbuat sesuatu yang gila.
“Kalau begitu, yang salah tuh, Vinza`ya`Kak?”
“Iya. Elizabeth juga sebenarnya salah. Dia menghina karena kamu nggak begitu pintar dipelajaran, tetapi setelah kamu kabur, dia benar-benar menyesal.” Begitu kata Bastian.
Kemudian, tersungging senyuman di bibir Vinza. Lalu dia berkata, “Baiklah.Kakak nggak mungkin bohong, jadi sekarang adek akan pulang, minta maaf sama mereka, terutama pada Elizabeth, sebenarnya dia benar. Aku nggak tahu benar apa arti nasionalisme itu. Juga adek akan ngelakuin hukuman yang diberikan oleh Suster Mak Lampir itu. Hehehe.. Kak Bastian akan jaga aku terus`kan?”
“Tentu. Kakak akan jaga kamu dari jauh…”
Dengan langkah pasti, Vinza berlari kearah sebaliknya. Kearah rumah keduanya—Asrama wanita St.Maria Rosario. Kini, Vinza sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk meminta maaf kepada Elizabeth, Hillary dan Teresia. Apalagi pada Hillary, yang pasti saat ini sedang khawatir setengah mati padanya.
Gedung asrama yang lantai lima itu berdiri kokoh dihadap annya. Lalu ia lewat pintu rahasia untuk masuk kedalam gedung. Yang tahu jalan pintas itu hanyalah gank mereka. Gank yang cukup terkenal sebagai gank paling kompak dan jarang terlibat masalah internal—kecuali masalah dengan Suster Helsa. Kalau itu—gank mereka terkenal sebagai gank yang biang onar di asrama itu.
Lalu—kamar no.34 Lantai 3 ada didepan Vinza. Ia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tiga sahabatnya. Lalu terdengar suara gaib yang berasal dari Bastian,
“Ayo, Vinza, beranikan dirimu…” bujuk Bastian.
Sedikit memaksa diri, Vinza membuka pintu kamarnya.
Dan—apa yang dilihatnya?
Teresia, Hillary dan Elizabeth duduk termenung dipojok kamar. Mereka bertiga kontan kaget seperti melihat hantu saja. Padahal—yang ada dihadapannya ialah Vinza. Sahabat mereka.
Vinza tersenyum kaku, lalu menghampiri tiga sahabatnya itu.
Mereka bereempat penuh keheningan, seperti pada upacara pemakaman saja.
Vinza segera mendekap tiga sahabat baiknya. Keempat anak itu menangis bersamaan. “Hiks..Hiks..Ooh.. Dramatis sekali, seperti pada film-film.. Ooh.. Andai aku masih hidup..” kata Bastian yang juga menonton pertunjukkan tangis itu.
“Teman-teman maaf`in gue.. Gue terlalu egois, bilang gank kita bubar. Padahal gue dulu yang semangat banget bikin gank ini. Maaf`in gue. Gue sadar—gue emang terlalu egois untuk maksa kehendak gue, yang sebenarnya nggak ada guna!!” pelukan itu kemudian perlahan-lahan terlepas.
Semua saling berpandangan. Semua mengeluarkan air mata.
“Vinza, jangan kabur lagi, ya, gue`tuh sayang banget sama lo. Gue nggak mau lo terluka sedikit pun. Apalagi, pergi kehutan sendirian tanpa kami. Tar kalo lo dimakan macam—gimana?! Kita`kan pasti menyesal sekali. Hiks..Hiks..” tangis Hillary. Ia kemudian dihibur Teresia dan Vinza.
“Iya deh—maaf ya, Hillary..” kata Vinza, sikapnya tadi yang menyakitkan hati itu tak tampak lagi.
“Tau nih, lo bikin kita khawatir..” tambah Teresia. Ia sudah tidak asyik lagi dengan ponselnya. Ia mungkin istirahat sebentar untuk menyelesaikan masalahnya dengan teman-temannya.
Kemudian, Vinza menatap Elizabeth. Dua-duanya merasa tak enak. Akhirnya Elizabeth yang menyudahi pertengakaran ini.
“Kayaknya kita harus mengusir egois kita. Agar gank kita ini bisa tetap berdiri.”
“Iya, Beth, gue minta maaf. Gue sadar gue nyakitin lo dan anak-anak..” mereka berdua saling berpandangan. Kemudian berpelukkan. Teresia dan Hillary memandanginya penuh kebahagiaan.
“Sorry.. Gue janji nggak akan sombong dengan kepintaran gue.” Kata Elizabeth. Pelukan itu terlepas.
“Gue juga mau jujur—sebenarnya gue nggak tahu makna nasionalisme.” Wahahahahaa… Keempat perempuan yang tidur satu kamar itu tertawa bersamaan.
Lalu—Teresia, Hillary dan Elizabeth ikut menanggung hukuman Vinza yakni membersihkan kamar mandi lantai dua dan tiga.
“Hiks..Hiks.. Andai waktu gue hidup gue punya sahabat dekat seperti yang dimiliki Vinza…”
---Tamat---
Langganan:
Postingan (Atom)